Jumat, 30 Januari 2026

Singapura Ekspansi Bisnis ke Brunei Darussalam

Berita Terkait

batampos.co.id – Pemerintahan Singapura dan Kesultanan Brunei Darussalam kembali memperkuat hubungan bilateral, khususnya dalam bidang industri pangan dan juga pertanian. Sektor ini dinilai mampu meningkatkan ketahanan pangan dan pertumbuhan ekonomi bagi kedua negara.

”Kerja sama ini, Brunei sedang melihat bagaimana Singapura dapat menumbuhkan area pertumbuhan ekspor dalam bidang ketahanan pangan. Saya kira kerja sama ini sangat baik bagi dua negara untuk mengatasi masalah agrikultur yang tengah kita hadapi sekarang,” ujar Menteri Koordinator dan Keamanan Nasional Teo Chee Hean seperti dilansir dari Channel News Asia, Jumat (4/10/2019) lalu.

Menteri Lingkungan dan Sumber Daya Air Masagos Zulkifli mengatakan, Singapura dan Brunei akan membahas lebih lanjut kerja sama agrikultur pada Pertemuan Tingkat Menteri ASEAN yang akan berlangsung minggu depan.

“Kita harus melihat sinergi antara kedua negara; kami memiliki teknologi dan akses ke pasar; mereka memiliki tanah dan pasokan ener-gi yang baik. Ini bisa menjadi kolaborasi yang luar biasa dan saling melengkapi, ”kata Masagos.

Singapura dan Brunei mengumumkan, mereka akan membentuk kelompok kerja bersama untuk mendorong kerja sama pertanian-pangan dan akuakultur. Kelompok kerja akan melaporkan perkembangannya ke panel menteri bersama, yang mencakup Menteri Perdagangan dan Industri Singapura Chan Chun Sing dan Menteri Sumber Daya dan Pariwisata Primer Brunai Darussalam Ali Apong.

Selama beberapa tahun terakhir, sektor pertanian Brunei telah tumbuh dengan mantap, dimana pemerintah menjanjikan lebih banyak dukungan bagi petani dan membuka lebih banyak lahan pertanian.

F-Masri/The Scoop
Putra Mahkota Kesultanan Brunei Darussalam, HRH H Al-Muhtadee Bilah (kanan) saat bersalama dengan Menteri Senior sekaligus Menteri Koordinator Keamanan Nasional Singapura, Teo Chee Hean (kiri) saat pertemuan di Bandar Seri Begawan, Rabu (2/10) lalu. Dalam pertemuan ini, mereka membahas kerjasama dua negara di bidang industri pangan.

Menurut Biro Pusat Statistik Brunei, pada 2017, hasil pertanian bruto negara itu mencapai 379,65 juta dolar Singapura, naik dari 291,67 juta dolar Singapura pada 2013. Dengan kelimpahan tanah dan sumber daya alam, negara ini juga menarik lebih banyak investor asing. Di antaranya, perusahaan perikanan Taiwan, Golden Corporation, mendirikan kantor pusat operasionalnya di Brunei pada 2011, menginvestasikan lebih dari 50 juta dolar Singapura untuk mengembangkan bisnis akuakulturnya.

Perusahaan membuka pabrik pengolahan makanan laut pertamanya di Brunei pada 2012, dengan hasil tahunan sekitar 400 ton udang dan 800 ton ikan. Sejak itu, perusahaan telah melihat permintaan untuk produknya berkembang pesat. Tahun lalu, pabrik itu memproses sekitar 1.000 ton udang biru dan 2.000 ton ikan dan mengekspor hampir 80 persennya ke negara-negara termasuk Tiongkok dan Thailand.

”Brunei sebenarnya sangat cocok untuk budidaya dan juga tangkapan laut karena merupakan negara yang sangat bersih, lingkungannya sangat baik untuk industri ini,” kata Richard Chuang, pendiri dan direktur pengelola Golden Corporation.

”Tetapi bagian terpenting adalah pemerintah melakukan diversifikasi dari minyak dan gas dan sangat mendukung industri ini, mereka menyediakan lahan dan infrastruktur yang sangat bagus,” katanya.

Hingga saat ini, perusahaan telah mengakuisisi total 600 hektar lahan di Brunei, dan memiliki rencana untuk ekspansi di masa depan.

Sementara itu, beberapa perusahaan akuakultur Singapura mencoba mengekspansi bisnis mereka ke Brunei Salah satunya, Barramundi Asia akan mengembangkan peternakan ikan seluas 6.000 ha di Brunei, dan mengekspor sekitar 40.000 ton ikan ke Singapura.

Apollo Aquaculture juga akan mendirikan pertanian berteknologi tinggi di Brunei, yang diperkirakan akan mulai beroperasi pada kuartal keempat tahun depan. (cha)

Update