batampos.co.id – Perekonomian Singapura dihantui resesi. Di antara indikatornya adalah indeks aktivitas manufaktur Singapura yang terus merosot hingga ke angka 48,7.

Tak hanya itu, dolar Singapura tercatat beberapa kali melemah melawan rupiah pada perdagangan sepanjang pekan lalu. Dalam lima hari perdagangan pekan lalu, dolar Singapura hanya menguat dua kali pada Senin (29/9) dan Kamis (3/10). Sementara dalam tiga hari sisanya melemah.

Munculnya episode perang dagang baru membuat dolar Singapura menjadi galau. Sebelumnya perang dagang AS-Tiongkok sudah memukul pertumbuhan ekonomi Si­nga­pura dengan telaknya, hingga ancaman resesi membayangi Negeri Singa itu.

Pada bulan Agustus, pemerintah Singapura sudah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonominya tahun ini menjadi 0-1 persen dibandingkan proyeksi sebelumnya 1,5 persen sampai 2,5 persen.

Menteri Perdagangan dan Industri Singapura, Chan Chun Sing, dalam acara Squawk Box di CNBC International pekan lalu mengatakan Singapura kemungkinan bisa lepas dari jurang resesi. Namun, dia juga mengakui kondisi eksternal saat ini dapat menyeret turun prospek pertumbuhan ekonomi.

Euforia perundingan dagang AS-Tiongkok yang akan berlangsung pada 10-11 Oktober di Washington membawa dolar Singapura naik ke level tertinggi satu bulan, di kisaran harga saat ini. Namun kini muncul lagi potensi perang dagang AS dengan Uni Eropa (UE) yang berpotensi memperburuk kondisi ekonomi global.

Potensi perang dagang AS-UE muncul setelah AS memenangi gugatan di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) mengenai masalah subsidi yang diberikan Uni Eropa kepada Airbus.

Kantor Perwakilan Dagang AS, Rabu (2/10) lalu, merilis daftar yang akan dikenakan bea impor mulai dari pesawat terbang sebesar 10 persen hingga berbagai jenis makanan dan produk tekstil senilai 25 persen yang mulai berlaku efektif pada 18 Oktober.

AS menegaskan Uni Eropa tidak boleh membalas dengan ikut-ikutan menerapkan bea masuk. Sebab apa yang dilakukan AS sudah sesuai dengan putusan Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organisation/WTO).

“Tidak ada saling balas di sini. Sesuai dengan aturan WTO, yang kami patuhi, kami berhak melakukan ini dan mereka tidak boleh membalas,” tegas Peter Navarro, Penasihat Perdagangan Gedung Putih, seperti diwartakan Reuters.

Namun sudah pasti Eropa tidak akan tinggal diam. Kalau balas mengenakan bea masuk tidak diperbolehkan, maka Eropa akan mencari cara lain untuk “mengerjai” AS.

“Apabila pemerintah AS menolak tangan yang sudah diulurkan Prancis dan Uni Eropa, maka kami akan menyiapkan sanksi,” ungkap Bruno Le Maire, Menteri Keuangan Prancis, seperti diberitakan Reuters.

Jika perang dagang AS-UE benar terjadi, tentunya perekonomian global akan semakin terancam. Perang dagang AS-Tiongkok saja sudah berdampak besar ke ekonomi global, ancaman resesi terjadi di mana-mana, bank sentral di berbagai negara berlomba menurunkan suku bunga untuk merangsang perekonomian, atau untuk menghindari terjadinya resesi.

Menyikapi kondisi ini, pemerintah Indonesia mulai memasang lampu kuning terkait perlambatan ekonomi global yang terjadi di beberapa negara. Terlebih, kewaspadaan pemerintah kian tebal setelah ancaman resesi menghantui beberapa negara.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut perlambatan ekonomi global tentu bisa menyeret pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hanya saja, ia tak bisa memprediksi besarnya dampak tersebut terdapat pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Nanti kami lihat dari statistik, nanti lihat saja di Badan Pusat Statistik (pertumbuhan ekonomi) kuartal ketiga ini. Kami akan terus mewaspadai saja,” ungkap Sri Mulyani.

Ia menyebut, belakangan ketidakpastian di dalam situasi ekonomi global kian kentara dibanding sebelumnya. Semuanya berhulu ke satu negara, yakni Amerika Serikat.

Dari segi kebijakan ekonomi, perang dagang antara AS dan Tiongkok seolah belum menemui titik temu. Bahkan, drama perang dagang akan meluas setelah AS berencana meningkatkan tarif impor atas produk Uni Eropa pada 18 Oktober mendatang.

Dari sisi politik, kepercayaan DPR AS terhadap Presiden AS Donald Trump kian berkurang. Lebih parah lagi, Trump terancam dimakzulkan oleh mereka. Situasi ini dianggap sebagai isu yang memang sangat besar di negara Paman Sam tersebut.

“Tentu kalau di AS sendiri besar, maka itu akan mempengaruhi sentimen dan confidence (pelaku pasar) dunia. Dampaknya memang besar ke seluruh dunia,” jelasnya.

Indonesia Bisa Terancam

Ekonom Faisal Basri mengatakan, resesi adalah kondisi di mana pertumbuhan ekonomi suatu wilayah mencatat angka negatif selama dua triwulan berturut-turut. Saat ini, beberapa negara dengan ekonomi skala besar memang tengah di ambang resesi.

Ia mengutip The Washington Post yang mengatakan terdapat sembilan negara yang terancam resesi. Yakni Jerman, Inggris, Italia, Meksiko, Brasil, Argentina, Singapura, Korea Selatan, dan Rusia.

Ancaman resesi ini tentu akan berdampak ke pertumbuhan ekonomi global yang terus melambat. Jika sudah begitu, maka perlambatan ekonomi juga tak bisa dihindari Indonesia.

Sebab, Produk Domestik Bruto (PDB) mengandung faktor eksternal, yakni ekspor netto. Jika kinerja ekspor tak mumpuni, hal itu tentu akan menahan pertumbuhan ekonomi.

“Pertumbuhan ekonomi China tahun ini kemungkinan di angka 6 persen dari prediksi sebelumnya 6,2 persen. Belum lagi, ada sembilan negara terancam resesi. Jadi ketika negara lain lesu, Indonesia tidak bisa up sendiri,” jelas Faisal.

Meski begitu, pemerintah disebutnya tak perlu panik bahwa resesi akan mendekati Indonesia. Sebab, faktor eksternal bukanlah kontributor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) kuartal II lalu, ekspor hanya berkontribusi sebesar 17,61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Adapun, PDB Indonesia masih bertumpu pada konsumsi dan investasi dengan porsi masing-masing sebesar 55,79 persen dan 31,25 persen terhadap PDB.

Kondisi ini berbeda dengan Singapura yang kerap digadang-gadang mengalami resesi mengingat ukuran ekspor Singapura 270 persen terhadap PDB. Makanya, dampak perlambatan ekonomi global sangat berdampak parah terhadap Negeri Singa tersebut.

“Jadi ancaman resesi dunia dan perang dagang, itu dampaknya kecil bagi Indonesia. Beda dengan Singapura, kalau dunia gonjang-ganjing, ia ikut gonjang-ganjing. Ekonomi dunia resesi, Indonesia tidak akan. Mungkin tidak semua orang percaya dengan saya,” jelas dia.

Selain itu, ia mengatakan bahwa sektor keuangan Indonesia juga masih dangkal. Sehingga, jika memang ada krisis keuangan global, dampak ke Indonesia juga tak akan separah negara lain.

Sementara itu, Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Pingkan Audrine Kosijungan mengakui bahwa ancaman resesi ekonomi global sudah menjadi fokus bagi beberapa lembaga utama dunia. Bank Dunia, International Monetary Fund (IMF), dan Organization for Economic Cooperation and Development sudah merevisi pertumbuhan ekonomi tahun ini dari 2,9 persen hingga 3,3 persen menjadi 2,6 persen hingga 3,2 persen.

Perlambatan ekonomi ini tentu akan mempengaruhi kinerja ekspor Indonesia. Ia memberi

contoh, pertumbuhan ekonomi Singapura yang melemah jadi 0 persen hingga 0,1 persen di tahun ini bisa melemahkan ekspor Indonesia hingga 7,8 persen.

“Sejumlah negara maju bahkan tidak lepas dari ancaman ini. Indonesia tak bisa tinggal diam karena ikut terdampak ketidakpastian ekonomi global,” jelas dia.

Hanya saja, pemerintah tak boleh hanya terpaku pada indikator ekspor semata. Menurut dia, investasi seharusnya bisa menjadi faktor pendorong pertumbuhan ekonomi yang optimal. (*)