Pemilihan kepala daerah (pilkada) akan digelar serentak di seluruh Kepri, kecuali Tanjungpinang. Termasuk di antaranya pemilihan gubernur (pilgub).

Sepertinya dari semua daerah yang menggelar kenduri demokrasi 2020 mendatang, Pilkada Batam diprediksi paling menyita per­hatian. Semua tahu, siapapun wali kotanya, sudah otomatis menahkodai dua lemba­ga negara. Pemko Batam dan Badan Pengusahaan (BP) Batam.

Dengan berbagai keistimewaan yang didapat, rasanya wajar jika jabatan wali kota akan menjadi rebutan. Beberapa nama sudah muncul. Mereka digadang-gadang akan masuk ke arena kontestasi.

Mulai dari wali kota dan wakil wali kota petahana Muhammad Rudi dan Amsakar Achmad, mantan kepala BP Batam Lukita Dinarsyah Tuwo, ketua DPRD Batam Nur­yanto, ketua PWI Kepri Candra Ibrahim, ketua DPD Golkar Batam Ruslan Ali Wasyim, ketua AMPG M Al Ichsan, dua politisi Demokrat Hotman Hutapea dan Helmy Hemilton, ketua DPC Gerindra Batam Iman Sutiawan dan politisi Gerindra lainnya Hj Asnah, serta beberapa nama lainnya.

Ini menarik. Sehat. Artinya demokrasi di Batam berjalan dengan baik. Sesuai undang-undang (UU), siapapun berhak mencalonkan dan dicalonkan. Berhak memilih dan dipilih.

Yang penting syarat memenuhi

Dari sekian nama dan beberapa nama yang mungkin lupa saya sebutkan, barangkali tidak semua akan melaju. Persoalannya kembali pada persoalan syarat. Memenuhi dukungan sesuai peraturan Komisi Pemilihan Umum (KPU) atau tidak. Dukungan partai politik (parpol) memang penting sebagai free pass menuju babak pertarungan.

Memang, masih ada jalur lain yang bisa ditempuh. Yaitu jalur independen. Melalui dukungan kartu tanda penduduk (KTP). Apakah bisa, sejauh ini (jika belum ada perubahan), bisa-bisa saja. Yang penting memenuhi syarat dan mendapat dukungan penuh dari masyarakat. Meskipun agak berat karena harus mengumpulkan KTP.

Lalu, dari semua bakal calon itu, siapa yang paling berpeluang? Pertanyaan seperti ini kerap dialamatkan kepada saya. Entah oleh teman, sahabat, maupun kolega. Namun dengan sangat lugu, saya menjawab: semua berpeluang. Hehehehehehehe.

Tidak ada yang pasti di politik. Tidak ada rumus baku. Semua penuh kejutan. Beberapa petahana tumbang oleh penantang. Namun tidak sedikit pula petahana yang melenggang. Semua tergantung dari popularitas, amunisi, dan tentu saja yang tidak bisa dikesampingkan adalah suratan Yang Maha Kuasa.

Sebenarnya, siapapun layak untuk memimpin Batam. Tanpa ada pengecualian. Karena saya yakin, siapapun kandidat yang akan terjun di pilkada, punya kebaikan. Punya program-program yang bagus untuk kemajuan Batam. Mereka adalah putra-putri terbaik bangsa yang mendarmabaktikan dirinya untuk kemajuan Batam.

Tidak semua bisa dan berani mencalonkan diri. Butuh perhitungan matang. Tidak asal. Termasuk saya sendiri yang tidak memiliki nyali untuk terjun ke pusaran politik.

Kwakakakakakak.

Biarlah mereka yang punya kapasitas dan kapabilitas yang meramaikan pilkada. Saya memilih untuk mengurusi pekerjaan seperti biasa. Tidak mau ikut-ikutan. Agak menjaga jarak dengan dunia politik. Karena memang bukan bidang saya.

Namun saya punya angan-angan. Nantinya, Batam dipimpin oleh orang dengan kualitas mumpuni. Punya karakter. Dan tentu saja memiliki program yang mampu menjaga perekonomian Batam. Siapapun itu.

Untuk meraih itu semua, seluruh komponen yang terlibat pilkada mesti berkualitas. Mulai dari penyelenggara, peserta, hingga pemilih. Dengan demikian, akan melahirkan pemimpin yang andal. Sesuai tagline yang kerap digaungkan selama ini: Pilkada yang Berkualitas, Melahirkan Pemimpin Berkualitas.

Pilkada bukan soal menang atau kalah. Lebih dari itu, bagaimana melahirkan pemimpin berkualitas, yang mampu memimpin Batam lima tahun ke depan. Juga menjaga kondusivitas Batam. Karena, tugas kita adalah menjadikan Batam sebagai kota yang ramah untuk investasi. Untuk itulah dibutuhkan pemimpin yang berkualitas.

Saya pun berharap, seluruh calon nantinya membuat program yang mengutamakan komitmen dan cara meningkatkan pertumbuhan ekonomi Batam. Karena Batam tidak bisa dilepaskan dari investasi. Berbatasan langsung dengan negara-negara lain, tentu Batam harus memiliki daya saing. Tidak sekadar menjadi penonton di wilayahnya.

Kalau soal program lain, silakan dirumuskan. Saya hanya titip itu saja. Hehehehehehe. (*)