batamps.co.id – Perekonomian Singapura yang tengah menurun drastis saat ini -hanya tumbuh satu persen- akan berdampak secara langsung pada perekonomian Batam. Pasalnya, negeri jiran tersebut merupakan negara tujuan ekspor terbesar produk olahan industri asal Kepri.

“Singapura yang tengah terancam mengalami resesi akan ber­dampak pada Batam, kare­na ekspor non-migas dari industri pengolahan Batam itu paling banyak ke Singapura,” kata Wakil Ketua Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri Tjaw Hoeing, Senin (7/10) di Wisma Batamindo, Batam.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri menunjukkan da­ri Januari hingga Agustus 2019, ekspor produk migas asal Kepri mencapai 3.061,15 juta dolar Amerika. Sedangkan ekspor non-migas mencapai 4.989,33 juta dolar Amerika. Totalnya 8.050,48 juta dolar Amerika.
Dari jumlah tersebut, 54 persen di antaranya diekspor ke Singapura, yang nilainya mencapai 4.315,74 juta dolar Amerika. Data tersebut menetapkan Singapura pada posisi pertama sebagai negara tujuan ekspor dari Kepri.

Sedangkan di posisi berikutnya ada Tiongkok dengan nilai ekspor Kepri sebesar 672 juta dolar Amerika dan berkontribusi 8,34 persen. Di tempat ketiga ada Amerika Serikat dengan nilai ekspor capai 548 juta dolar Amerika atau berkontribusi sebesar 6,81 persen.

“Dari data tersebut bisa menjelaskan bahwa kekhawatiran kita sangat besar kalau ekonomi Singapura mengalami resesi. Imbasnya adalah demand (permintaan) ekspor akan berkurang. Itu yang ditakuti,” paparnya.

Jika permintaan ekspor berkurang, maka produksi pabrik manufaktur di Batam juga ikut berkurang. “Lebih jauh lagi akan terjadi pemutusan kontrak tenaga kerja,” ujarnya.

Sebelum gonjang-ganjing ini, pertumbuhan ekspor Kepri menuju Singapura sudah mengalami penurunan, dimana pada periode Januari hingga Agustus 2018, jumlah ekspor mencapai 4.400,66 juta dolar Amerika. Pada periode yang sama tahun ini turun menjadi 4.315,74 juta dolar Amerika.

Tjaw mengatakan, masih ada cara untuk mengatasinya. Persoalan resesi merupakan kendala eksternal yang dapat mengganggu perekonomian Batam. Maka untuk me­ngimbanginya, kendala internal berupa lambatnya perizinan harus bisa diatasi oleh BP Batam dan Pemerintah Kota Batam. Apalagi sekarang keduanya sudah berada dalam satu komando.

“Hambatan yang bisa mengganggu jalannya dunia usaha harus menjadi atensi pemerintah,” paparnya.

Di samping itu, usaha meningkatkan ekspor ke Amerika dan Tiongkok juga dapat menjadi senjata pamungkas agar bisa lepas dari bayang-bayang resesi ekonomi di Singapura.

“Kita bisa manfaatkan perang dagang antara Amerika dan Tiongkok saat ini. Tapi sebelum itu, investor dari dua negara tersebut harus dibuat nyaman di Batam. Makanya pemerintah harus benahi kendala perizinan saat ini,” tuturnya.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam Rafki Rasyid mengatakan, perekonomian Batam sangat berbeda karakteristiknya dengan daerah lain di Indonesia.

“Jika perekonomian daerah lain lebih terkoneksi ke perekonomian nasional, maka Batam lebih terkoneksi ke perekonomian global dan Singapura. Karena produk olahan dari Batam memang diperuntukkan untuk pasar global,” kata Rafki.

Karena itu, ketika pasar global mengalami perlambatan, akan berpengaruh pada ekonomi Batam. “Jadi, Batam harus lebih waspada ketika Singapura tengah di ambang resesi saat ini. Batam harus mempersiapkan langkah-langkah antisipasi untuk menghindar dari dampak resesi global tersebut,” ucapnya.

Beberapa langkah yang bisa dilakukan yakni segera merealisasikan komitmen investasi yang sudah dibuat investor tahun lalu atau awal tahun ini.

“Jika masih ada izin-izin yang nyangkut sebaiknya dipermudah. Dengan terjadinya realisasi investasi yang besar, maka akan mencegah Batam jatuh dalam resesi juga,” katanya.

Langkah lainnya adalah dengan menahan dulu rencana kenaikan tarif yang bisa memengaruhi daya beli masyarakat.

“Kalau misalkan ada usulan kenaikan tarif listrik, air, ataupun tiket angkutan umum maka sebaiknya ditahan dulu. Supaya daya beli masyarakat tetap terjaga sehingga konsumsi rumah tangga bisa tetap tinggi,” jelasnya.

Satu poin penting lagi yakni BP Batam harus terus berupaya menjemput bola investasi langsung dari Tiongkok. Karena, saat ini, investor Tiongkok yang masuk ke Batam sangat kecil sekali.

Rafki menuturkan, Apindo Batam siap membantu BP Batam karena memiliki jalinan relasi dengan pengusaha yang ada di negeri tirai bambu itu. “Sehingga komunikasinya mungkin akan lebih intens dan efektif jika BP menggandeng Apindo untuk promosi investasi ke Tiongkok,” tuturnya.

Petakan Potensi Dampak Resesi

Pengamat ekonomi Batam, Zainuddin, menilai resesi ekonomi yang akan terjadi di Singapura bakal berdampak terhadap Batam.

Bukan karena alasan geografis saja, tapi juga karena hubungan bilateral perdagangan Indonesia, khususnya Batam dengan Singapura, cukup erat. “Iya, dampaknya pasti ke Batam,” katanya, Senin (7/10).

Ia menilai interaksi bisnis Batam dan Singapura sangat intens sehingga bila terjadi resesi, gelombang pelambatan ekonomi akan menghantam Batam.

Oleh karena itu, lanjut Zainuddin, pemerintah bersama dengan asosiasi pengusaha harus mengkaji apa saja dampak dari resesi ekonomi Singapura. Apakah dampaknya besar, sedang atau rendah.

“Perlu ditekankan, pencegahan sedini mungkin perlu dilaksanakan. Agar saat itu terjadi, Batam telah siap menghadapi gelombang resesi,” ungkapnya.

Usaha apa saja yang terdampak? Ia menjawab usaha yang membutuhkan bahan impor, industri yang memiliki keterkaitan ke negara terkena resesi, akan berdampak.

“Apabila negara itu mengalami resesi pasti demand (per­mintaan) akan berkurang. Ma­kanya seperti perlu adanya pemetaan atas kemungkinan resesi yang terjadi di beberapa negara,” tuturnya. (leo)