batampos.co.id – Bandara Hang Nadim Ba­tam masih menjadi salah satu jalur favorit pengiriman narkoba, baik keluar maupun masuk ke Batam.

Dalam sebulan, petugas bandara rata-rata menggagalkan empat kasus upaya pengiriman narkotika dalam berbagai jenis.

Sepanjang Januari hingga Agustus 2019, pihak pengelola Bandara Hang Nadim Batam mencatat ada 34 kasus pe­nye­lundupan sabu yang digagalkan petugas.

Dengan kata lain, setiap bulan rata-rata ada empat kasus. Dari 34 kasus itu melibatkan 41 pelaku dengan barang bukti berupa sabu sebanyak 21.166 gram atau 21,1 kilogram (Kg) dan 692 butir ekstasi.

Tak hanya itu, hasil tangkapan narkoba di Bandara Hang Nadim juga terus meningkat setiap tahunnya.

Catatan Batam Pos, pada tahun 2016 barang bukti yang diamankan sebanyak 9,5 kg sabu. Lalu di 2017 ada 16,8 kg sabu serta 2.203 butir ekta­si.

Tahun 2018 petugas me­ngamankan 32,4 kg sabu, dan di 2019 hingga 27 Agustus barang bukti narkoba yang diamankan mencapai 21,4 kg sabu dan 682 butir ekstasi.

Selain jumlah barang bukti yang diamankan bertambah, jumlah kasus percobaan pe­nye­lundupan sabu juga meningkat.

Ilustrasi Narkoba. Foto: Cecep Mulyana/batampos.co.id

Tahun 2016 ada 18 kasus, 2017 ada 23 kasus, 2018 sebanyak 40 kasus, dan hingga Oktober 2019 lebih dari 40 kasus.

Yang terbaru, Satuan Aviation Security (Avsec) Bandara Internasional Hang Nadim menggagalkan upaya dua orang kurir sabu membawa barang harap itu keluar Batam, Rabu (9/10/2019).

Dari keduanya petugas menyita sabu seberat 2,058 kg. Dua kurir tersebut masing-masing bernama IAD, 28, dan FS, 34.

Dari pemeriksaan sementara, warga Jakarta ini sengaja datang ke Batam khusus untuk mengambil sabu guna dibawa ke Jakarta.

Modus keduanya berbeda. IAD menyembunyikan sabu seberat 413 gram ke dalam celana dalamnya yang dikemas dan dipasang layaknya pembalut wanita.

Sedangkan FS menyembunyikan sabu di selangkangan dan di dalam sepatunya.

“Mereka dapat upah Rp 40 juta,” kata Direktur Badan Usaha Bandar Udara Hang Nadim, Suwarso, Rabu (9/10/2019).

Suwarso mengatakan, dari pengakuannya, mereka datang ke Batam dari Jakarta, Selasa (8/10/2019) lalu.

Setelah mengambil sabu di suatu tempat di Batam, keduanya berencana terbang kembali ke Jakarta dengan membawa barang haram tersebut, kemarin.

“Tiket mereka ini satu kode booking. Pemesannya yang menyuruh mereka bawa sabu,” ucap Suwarso.

Terkait siapa yang menyuruh dan pemesannya, Suwarso mengaku masih dalam penyelidikan instansi terkait.

Kasusnya telah diserahkan ke aparat yang berwenang.  Penangkapan terhadap keduanya bermula dari kecurigaan petugas Avsec terhadap IAD.

Dari kejauhan petugas telah memantau gerak-gerik perempuan tersebut. Begitu melewati pintu pemeriksaan (walkthrought), IAD semakin terlihat panik karena pintu pendeteksi metal itu berbunyi.

Petugas lalu melakukan pemeriksaan manual. Saat pemeriksaan dilakukan, petugas menemukan ada benda keras di selangkangan IAD.

Sehingga, IAD diminta menuju ruangan khusus untuk pemeriksaan lanjutan. Benar saja, setelah diperiksa lebih lanjut diketahui ada sabu yang disimpan di selangkangannya.

Karena mengetahui IAD dan FS tiketnya dalam satu kode booking yang sama, petugas juga melakukan pemeriksaan manual terhadap FS.

“Hasilnya sama, ada ditemukan sabu juga. Di bagian area intimnya (selangkangan) serta di dalam sepatu,” ungkap Suwarso.

Suwarso mengatakan, pihaknya terus berkomitmen meningkatkan pengawasan di Bandara Internasional Hang Nadim Batam.

Petugas Avsec juga terus mendapatkan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan mendeteksi penumpang yang membawa barang terlarang, khususnya narkoba.(ska)