batampos.co.id – Dalam rangka meningkatkan efisiensi dan efektifitas
penyelenggaraan pelayanan kesehatan, BPJS Kesehatan mengharuskan setiap Fasilitas
Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) untuk dapat mencapai kinerja secara maksimal agar
pembayaran kapitasi dapat dibayarkan penuh 100 persen tanpa dikurangi atau dikenal dengan Kapitasi Berbasis Komitmen Pelayanan.

Sistem tersebut diberlakukan kepada seluruh puskesmas mitra BPJS Kesehatan serta klinik pratama yang memenuhi syarat mutlak, yaitu sudah melewati 1 (satu) tahun kerjasama dan memiliki jumlah peserta lebih dari 5000 jiwa.

Untuk Kota Batam, kegiatan evaluasi KBK klinik pratama sudah dilakukan sebanyak 3 (tiga) kali yaitu bulan April, Agustus dan Oktober yaitu pada hari Selasa (09/10) di Batam Centre kemarin.

BPJS Kesehatan mengundang perwakilan klinik pratama untuk memastikan setiap
FKTP mengetahui capaiannya dalam waktu 3 (tiga) bulan terakhir.

BPJS Kesehatan mengundang perwakilan klinik pratama untuk memastikan setiap
FKTP mengetahui capaiannya dalam waktu 3 (tiga) bulan terakhir. Foto: BPJS Kesehatan Kota Batam untuk batampos.co.id

Ade Herlin selaku Petugas BPJS Kesehatan yang menjalankan fungsi Utilisasi dan Anti
Fraud Penjaminan Manfaat Primer, menjelaskan, bahwa pada evaluasi ketiga ini, klinik
pratama sudah mencapai nilai yang baik.

Hal tersebut ditunjukkan dengan 65 persen jumlah klinik pratama yang mencapai kapitasi 100% atau sekitar 27 klinik dari 41 klinik pratama yang menjalankan sistem KBK.

“Dari 41 klinik pratama yang menjalankan sistem KBK, 27 klinik sudah mencapai nilai
sempurna yaitu 100 persen,” ungkap Ade.

Ade mengatakan klinik pratama yang mencapai nilai 100% tersebut berarti mencapai 3
target indikator.

Indikator tersebut adalah angka kontak, rasio rujukan rawat jalan kasus non spesialistik serta rasio peserta prolanis rutin berkunjung ke FKTP.

Apabila indikator tersebut dapat dicapai maka FKTP berhak menerima 100% kapitasi tanpa dikurangi.

Witri selaku perwakilan dari Klinik Intan Permata mengaku pihaknya melakukan berbagai
upaya untuk mencapai kapitasi 100 persen.

Misalnya saja untuk meningkatkan kunjungan peserta Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) pihaknya melakukan jemput bola melalui telepon dan home visit.

“Sejauh ini usaha kami sudah telepon dan home visit agar peserta prolanis rutin berkunjung, namun hal ini terkadang tidak berhasil karena peserta merasa sudah sehat,” ungkap Witri.

Dengan kendala yang mungkin terjadi, diharapkan setiap FKTP mampu untuk lebih proaktif dan kreatif dalam melaksanakan program, agar peserta merasa kegiatan yang dilaksanakan benar-benar bermanfaat.(*)