batampos.co.id – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Batam meminta Pertamina bertanggung jawab atas kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium, pertalite, dan solar, beberapa hari terakhir. Dewan juga minta Pertamina segera menyelesaikan persoalan ini.

”Bagaimana mungkin Pertamina bisa mengklaim pasokan berlebih, sementara kondisi di lapangan BBM itu langka dan susah didapat,” kata anggota Komisi II DPRD Kota Batam Hendra Asman, Rabu (9/102019).

Politisi Golkar itu juga meminta Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam turun ke lapangan memeriksa penyebab kelangkaan ini.

Apakah karena ada permainan atau memang pasokan telah berkurang.

”Persoalan ini tak boleh berlarut-larut, karena ini (BBM) kebutuhan untuk menunjang roda perekonomian Batam,” tegas Hendra.

Ia menambahkan, Komisi II DPRD Batam akan terus memantau perkembangan kelangkaan BBM ini dengan serius, karena banyaknya keluhan masyarakat.

Kendaraan antre untuk mengisi bahan bakar permium di SPBU Tanjunguncang, Batuaji, Rabu (9/10/2019). Dalam beberapa hari terakhir, BBM jenis premium, pertalite, dan solar mengalami kelangkaan. Foto: Dalil Harahap/batampos.co.id

Selain itu pihaknya juga akan berkoordinasi dengan Disperindag Batam guna menyikapi persoalan langkanya BBM di Batam.

”Sudah kita agendakan rapat internal bersama Disperindag terkait kelangkaan premium dan pertalite dalam beberapa hari ini,” ucapnya.

Diketahui, beberapa hari terakhir antrean kendaraan mengular di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Batam.

Penyebabnya jenis BBM seperti premium, pertalite, dan solar mengalami kelangkaan. Kalaupun ada jumlahnya terbatas, sehingga memicu antre panjang di SPBU karena lang-sung diserbu warga.

Di Batuaji dan Sagulung misalnya. SPBU di sana sudah beberapa hari tak lagi menjual BBM jenis solar dan premium. Hampir semua SPBU memasang pengumuman

”Maaf Solar Habis dan Premium dalam Proses Pengiriman”. Akibatnya pengguna premium harus beralih ke pertalite, itupun harus antre lama.

Branch Manager Pertamina Marketing Operation Region (MOR) I Wilayah Kepri, Awan Raharjo, mengklaim, pasokan premium dan solar melebihi kuota yang ditetapkan.

”Solar itu lebih 15 persen dari kuota yang kami kucurkan. Begitu juga premium, 4 persen lebih banyak dari kuota yang ada,” kata Awan.

Ia menjelaskan, secara garis besar kuota BBM jenis premium berjumlah 211.210 kiloliter dari Januari hingga Agustus 2019.

Sementara solar dari Januari hingga September 170.225 kiloliter. ”Tambahkan saja kelebihan 4 persen premium dan 15 persen solar,” ujarnya. (rng/cr1)