batampos.co.id – PT ATB menyatakan tidak terlalu mengkhawatirkan berakhirnya konsesi pengelolaan air dengan BP Batam pada November 2020 mendatang. Tapi yang dikhawatirkan adalah ketersediaan air di masa mendatang, dimana kapasitas air yang ada hanya akan bertahan selama dua tahun saja.

“Dalam beberapa kali rilis, sudah disebutkan bahwa cadangan air di Batam itu hanya 10 persen saja. Kapasitas terpasang itu 3.800 liter per detik dan yang kami operasikan itu 3.500 liter per detik,” kata Corporate Secretary ATB, Maria Jacobus, Kamis (10/10) di Batam Centre.

Kapasitas ini diperkirakan tak akan bisa mengimbangi jumlah pertumbuhan penduduk yang terus meningkat. Maria mempresentasikannya lewat pemasangan koneksi sambungan rumah per bulannya yang mencapai sekitar 800 sambungan. “Paling banyak itu di Batam Centre dan Batuaji,” katanya.

Maria sangat menyayangkan ketika konsesi akan berakhir, tapi ketersediaan air baku terus menipis. Padahal saat ini, bukan hanya pertumbuhan penduduk saja yang terus meningkat, tapi juga pertumbuhan bangunan tinggi seperti apartemen yang tengah marak di Batam.

Ia juga menyebut penyebab semakin menipisnya air di Batam juga karena keberadaan pabrik plastik. Pabrik plastik selalu menyedot ribuan kubik per bulan. Sehingga, ia menyatakan pabrik plastik itu tak cocok untuk Batam.

ATB sempat berharap pada Waduk Tembesi. Tapi nasibnya pun tak jelas hingga saat ini. ATB sudah mengikuti tender pengelolaan waduk tersebut, tapi sampai sekarang belum ada kelanjutannya sejak tahapan prakualifikasi dimulai pada akhir tahun lalu.

“Sementara di tempat lain, Waduk Seiharapan sudah semakin tinggi sedimentasinya sehingga turun levelnya,” jelasnya lagi.

Kebun di sekitar dam Tembesi.

Maria berharap agar BP Batam benar-benar fokus dengan hal ini. “Konsesi mau habis, air berkurang dan tahun depan juga tahun politik. Saya harap fokus pemerintah kepada layanan publik tidak terabaikan,” harapnya.

Sedangkan Kabid Pengelolaan Air BP Batam, Tutu Witular juga mengungkapkan pengolahan air di Batam saat ini mencapai sekitar 3.200 liter per detik hingga 3.300 liter per detik. Sedangkan kebutuhan air di Batam, perhitungannya juga mencapai angka itu. Sehingga dengan kata lain, kondisi air di Batam itu sangat impas. Sehingga masih ada daerah lain yang mengalami kesulitan air bersih seperti di Tanjuncang, Batuaji dan Sekupang.

Sedangkan Dam Tembesi yang diharapkan dapat menjadi penopang sumber air baku bagi masyarakat Batam masih belum beroperasi. Dam Tembesi mampu mengalirkan debit air sebanyak 600 liter per detik dan memiliki kapasitas tampung sebanyak 59 juta meter kubik. “Nantinya secara geografis dan hidrolis, dam ini akan menyuplai kebutuhan air bagi warga Tanjunguncang dan Batuaji,” jelasnya.

Sedangkan mengenai lelang pengelolaan Dam Tembesi sendiri, Tutu mengungkapkan BP Batam masih menunggu kajian dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengenai penetapan status penggunaan dam tersebut. “Kalau Dam Tembesi mau dikerjasamakan harus ada penetapan aset negara,” jelasnya. (leo)