Senin, 13 April 2026

Tingkatkan Pengamanan Menteri

Berita Terkait

batampos.co.id – Presiden Joko Widodo me­minta kepada Kapol­ri Jenderal Tito Kar­na­vian agar meningkatkan pe­nga­manan dan pengawalan bagi para menteri dan pejabat negara lainnya. Perintah ini dikeluarkan menyusul kasus penusukan yang dialami Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Wiranto, Kamis (10/10/2019).

“Ketika kejadian kebetulan saya sedang bersama Presiden dan Pak Mensesneg, Presiden langsung memberi arahan agar semua pejabat sekarang ini dalam kondisi seperti ini untuk dilakukan pengamanan dasar,” kata Sekretaris Kabinet Pramono Anung di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta, Kamis (10/10).

Menurutnya, sejak pemerintahan Jokowi, para menteri dan sejumlah pejabat lainnya enggan untuk dikawal ketat. Akan tetapi, setelah melihat insiden ini, pemerintah meyakini ancaman keamanan memang benar adanya dan dipersiapkan oleh kelompok tertentu.

“Apa yang terjadi di Pandeglang memperlihatkan itu. Bahwa, sel-sel jaringan itu ada. Dengan demikian, Presiden telah meminta kepada kita Setneg-Seskab untuk segera mengoordinasikan pengamanan terhadap pejabat negara,” lanjutnya.

Namun, dia menyebutkan bahwa penguatan pengamanan tidak perlu berlebihan. “Pihak keamanan perlu lebih meningkatkan pengamanan saja,” kata Pramono.

Sementara Presiden Jokowi menjenguk Wiranto di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto di Jakarta, kemarin. Jokowi mengatakan, Wiranto dirawat dalam kondisi stabil dan sadar. Namun, masih dalam perawatan tim dokter RSPAD.

“Masih dalam penanganan oleh tim dokter di RSPAD dalam proses operasi,” ujarnya.
Terkait penanganan kepada pelaku, Jokowi mengaku sudah memerintahkan Kapolri dan Kepala BIN Budi Gunawan yang didukung TNI untuk melakukan pengusutan. Bukan hanya sebatas pelaku, namun juga jaringan teroris-me yang terkait aksi tersebut.

“Jaringan ini harus dikejar dan dituntas­kan, diselesaikan,” imbuhnya.

Wakil Presiden Jusuf Kalla juga menjenguk Wiranto di RSPAD Gatot Soebroto. Dia menjelaskan Wiranto dalam kondisi baik.

’’Insya Allah dokter di sini sangat berpe-ngalaman,’’ katanya. Wiranto dioperasi untuk proses penyembuhan.

Terkait dengan pengawasan atau pengawalam Menteri, JK mengatakan sudah ada prosedurnya. Pengawalan dilakukan oleh personel kepolisian. Dia menuturkan kasus yang menimpa Wiranto benar-benar tidak disangka.

“Ini kasus pertama kali. Ada orang yang memang mencederai pejabat dengan tikaman,” jelas politisi senior Partai Golkar itu.

Menurut JK kasus yang menimpa Wiranto jelas akan menjadi bahan evaluasi. Dia mengatakan bahwa di Indonesia kelompok radikal itu masih ada. Masih berkeliaran.

F. Sammy/AFP
ANGGOTA TNI-Polri membawa Menko Polhukam Wiranto menuju helikopter untuk diterbangkan ke RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, Kamis (10/10). Wiranto mendapat dua luka tusukan di perutnya setelah diserang saat kunjungan ke Pandeglang, Jawa Barat, kemarin.

Namun, JK menuturkan, kasus ini tidak memengaruhi pelantikan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin. JK mendoakan supaya Wiranto selesai menjalani operasi bisa segera pulih kembali. JK menuturkan ketika dia menjenguk posisi Wiranto masih di kamar operasi. Dia meminta masyarakat ikut mendoakan penanganan medis Wiranto.

Menteri Kominfo Rudiantara tidak mau berandai-andai bahwa pelaku penikaman ke Wiranto imbas dari kebebasan internet. “Saya tidak mau berspekulasi,’’ katanya usai mendampingi JK dalam proses topping off Gedung Dewan Masjid Indonesia (DMI) di Jakarta. Dia menegaskan ada lembaga yang lebih berwenang dari pada Kementerian Kominfo untuk melakukan analisi kasus itu.

Terkait dengan pengamanan dirinya selaku Menteri, Rudiantara menuturkan jika pengamanan terlalu ketat nanti dianggap tidak mau dekat dengan rakyat. Sebaliknya jika pengamanan terlalu longgar, terjadi kasus yang tidak diinginkan. Apakah dia lantas menjadi waswas, Rudiantara mengatakan, yang pasti waswas adalah teman-teman ajudan. Dia menegaskan kasus penikaman itu adalah kasus yang tidak manusiawi.

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zainut Tauhid Saadi mengutuk keras penyerangan terhadap Wiranto di Pandeglang itu. Menurut Zainut, apapun alasannya tindakan brutal seperti itu tidak bisa ditoleransi.

’’Ajaran agama manapun tidak membenarkan tindakan kekerasan, menebar ketakutan, dan mencelakai orang yang tidak berdosa. Apalagi sampai membunuh,’’ tuturnya.

Zainut mengatakan, MUI menduga pelaku kasus itu anggota dari jaringan terorisme yang masih beroperasi di Indonesia. Dugaan ini menyadarkan masyarakat bahwa gerakan paham radikal dan terorisme masih aktif di Indonesia. Sehingga menuntut kewaspadaan bersama. MUI meminta polisi untuk mengu-sut kasus ini sampai tutas dan ditemukan motifnya.

Kepala LPSK Hasto Atmodjo menjelaskan saat ini pihaknya berkoordinasi dengan kepolisian dan menunggu ekspos hasil penyelidikan.

“Kami masih menunggu ekspos apakah kasus penyerangan terhadap Menkopolhukam dikategorikan sebagai serangan terorisme,” terang Hasto, Kamis (10/10).

Dia menyayangkan penyerangan yang ternyata sampai menargetkan pejabat sehingga perlu diusut tuntas karena juga berbahaya bagi masyarakat biasa. Menurutnya, cara-cara kekerasan seharusnya tidak terjadi karena sudah ada hukum yang berlaku untuk menyelesaikan permasalahan. Dengan kekerasan itu sendiri justru akan menambah korban jiwa.

Wiranto sendiri selamat dan dibawa ke RSPAD. Sementara kapolsek yang berjaga ditemukan terluka di bagian punggung.

“Kalau nantinya perbuatan pelaku penusukan dikategorikan terorisme, LPSK siap melindungi dan memenuhi hak-hak korban,” lanjutnya.

Seperti diketahui, Wiranto menjadi korban penusukan saat kunjungan ke Pandeglang, Kamis (10/10). Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 11.55. Saat Wiranto turun dari mobilnya, dua ajudannya telah berada di samping kiri dan kanan. Kapolsek Menes Kompol Dariyanto juga berada di samping Wiranto.

Tiba-tiba saja, pelaku yang belakangan diketahui bernama Syahril Alamsyah menyerobot masuk dari belakang mobil, lantas menusuk mantan Panglima TNI tersebut sebanyak dua kali. Semua orang di sekitarnya mencoba melindungi Wiranto. Pelaku lantas menyerang secara brutal, melukai tiga orang lain, yakni Kapolsek Menes Kompol Dariyanto, Staf Kemenkopolhukam Fuad Sauki dan seorang ajudan Danrem.

Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menjelaskan, menkopolhukam terluka di bagian perut kiri. Terdapat dua luka karena tusukan tersebut. ”Kondisinya diharapkan stabil,” paparnya.

Lalu, untuk kapolsek menga-lami luka di bagian punggung. Luka itu dialami saat mencoba menghalangi tusukan pelaku ke arah Wiranto.

”Makanya luka di punggung, menghalangi agar tidak tertusuk lagi,” jelasnya.

Untuk dua korban lainnya, Dedi belum bisa mengonfirmasi kepastiannya. Dedi menjelaskan bahwa pihaknya baru menerima informasi bahwa korbannya dua. ”Kalau korban lainnya, mungkin ada,” tuturnya.

Setelah diamankan, pelaku langsung dilakukan pemeriksaan. Hasilnya, diduga kuat terafiliasi dengan JAD Bekasi. Pelaku bernama Syah-ril Alamsyah alias Abu Rara yang direkrut oleh Abu Zee, amir JAD Bekasi.

”Sudah kuat dugaannya ke JAD,” ungkapnya.

Lalu, ada seorang perempuan yang berinisial FA yang juga diamankan. Dedi menuturkan, saat kejadian FA ini berada di dekat pelaku penusukan tersebut.

”Kemungkinan besar ada hubungan tertentu, entah keluarga atau bagaimana,” pa­parnya.
Sementara Kapolda Banten Inspektur Jendral Tomsi Tohir menyatakan, kepolisian sudah menjalankan pengamanan sesuai prosedur tetap bagi pejabat seperti Wiranto. Namun, kedua pelaku lolos dari penjagaan dan langsung melakukan penyerangan.

“Beliau datang jam 08.00 WIB. Karena ketulusan hati banyak masyarakat kemudian beliau disambut di Mathla’ul Anwar. Di sana banyak masyarakat yang menyambut,” ujar Tomsi, Kamis (10/10).

Tomsi menjelaskan, polisi sudah menjaga lokasi sehingga masyarakat tidak begitu dekat dengan Menko Polhukam. “Masyarakat dimundurkan, kalau lihat video beredar tidak banyak anak-anak. Pelaku masuk dan menyerang, pada saat itu ada ajudan beliau,” katanya.

Selain menteri, Kapolsek Menes Kompol Daryanto dan seorang warga bernama Fuad juga turut menjadi korban penusukan yang digunakan oleh SA alias Abu Rara.

Diketahui, Abu Zee sendiri telah tertangkap 8 Mei 2019 lalu, karena merencanakan aksi teror. Selain itu, Abu Zee diketahui juga sebagai penyandang dana kelompok tersebut. (idr/far/wa/deb)

Update