Ketua Dewan Pembina Aksi Cepat Tanggap (ACT) Ahyudin mengajak masyarakat tidak melupakan korban gempa Maluku. Ia berharap, solidaritas bangsa tidak menurun dalam membantu masyarakat terdampak bencana.

“Kami ingin terus meneruskan semangat solidaritas dan terus meluaskannya. Salah satu bentuk solidaritas tertinggi adalah solidaritas kemanusiaan,” ungkap Ahyudin dalam pernyataan sikap Bantu Korban Gempa Maluku, Rabu (9/10) di Kantor ACT, Jakarta.

Ahyudin pun mengajak masyarakat untuk memahami dimensi-dimensi terdampak setelah bencana, salah satunya dimensi ekonomi. Menurut Ahyudin, kemiskinan adalah dampak ekonomi yang paling fatal terjadi di masyarakat setelah bencana melanda. Sebab itu, ia mengajak agar masyarakat agar terus membantu para korban.

“Kami khawatir, saudara pengungsi di Maluku merasa terdiskriminasi karena kurang masifnya bantuan yang hadir untuk mereka,” kata Ahyudin.

Ia mengatakan, saat ini sebagian pengungsi yang masih bertahan di tenda karena tidak lagi memiliki tempat tinggal.

“Mereka tidak lagi merasakan tempat yang nyaman, harta benda yang selama ini mereka miliki, semua habis, semua hilang. Kami terlebih dahulu mendistribusikan logistik pangan dan selanjutnya juga memberikan bantuan jangka panjang seperti Integrated Community Shelter (ICS),” katanya.

Ahyudin berkomitmen, ACT akan menyiapkan penanganan korban gempa di Maluku secara serius. Hingga saat ini ACT telah melakukan berbagai aksi kemanusiaan untuk membantu korban gempa di Ambon, yakni dapur umum, distribusi pangan, dan pelayanan kesehatan.

ACT terus melakukan pemantauan serta asesmen untuk kondisi terbaru di wilayah terdampak gempa di Ambon. Hingga saat ini, ACT terus melakukan pemantauan untuk kondisi terbaru di wilayah terdampak gempa di Maluku. Sejumlah relawan juga dikerahkan untuk memberikan bantuan.

“Semoga kita bisa bangun kembali masjid-masjid yg roboh, gereja-gereja yg roboh, sekolah-sekolah yang roboh,” tandasnya. [*]