batampos.co.id – Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Muhammad Rudi, mengaku belum mendapat laporan terkait kelanjutan proses pengelolaan Bandara Internasional Hang Nadim Batam.

”Saya belum tahu karena belum ada laporan,” kata Rudi di Tiban Global, Sekupang, Minggu (13/10/2019) siang.

Sebagaimana diketahui, ada tujuh investor akan bersaing mengelola Bandara Hang Nadim lewat Badan Usaha Pembangunan (BUP).

Ketujuh investor tersebut, yaitu Angkasa Pura 1, Angkasa Pura 2, Incheon (Korea Selatan), GFK (India), Jepang, Prancis, dan Jerman.

Rudi mengatakan, ia baru akan berbicara dengan media jika telah mendapat laporan dari pihak Bandara Hang Nadim.

”Tunggu saja setelah ada laporan, baru saya akan komentari,” ucap dia.

Sementara itu, melihat komposisi pesaing pelaksana proyek Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) Bandara Hang Nadim, dikhawatirkan bandara yang dibangun sejak 1984 ini akan dikuasai asing.

”Panitia yang dibentuk sudah harus menunjuk siapa pemenang BUP April 2020. Sebab Desember 2020 sudah take over dari BUBU ke BUP,” kata Direktur BUBU Hang Nadim Suwarso, Sabtu (12/10/2019) lalu.

Bandara Internasional Hang Nadim. Foto: Dalil Harahap/batampos.co.id

Suwarso menganalisa dari gerakan para investor yang akan membangun dan mengelola Bandara Hang Nadim Batam ini, besar kemungkinan tidak satu perusahaan.

”Kemungkinan mereka ini akan membentuk konsorsium (gabungan beberapa perusahaan, red),” sebutnya.

Berapa nilai investasinya? Suwarso mengaku belum mengetahuinya. Yang jelas, kata dia, BUP nantinya akan mengembalikan biaya pembangunan yang selama ini sudah dikeluarkan BUBU Hang Nadim.

Kendati nanti pengelolaannya diambil alih BUP, Suwarso mengatakan keberadaan BUBU tetap ada.

Namun fungsi BUBU hanya sebagai pembuat regulasi, FDS (Fuel Distribution System), dan berbagai urusan kebandaraan udara seperti mengurus landing fee, penempatan pesawat, dan wilayah udara.

Sedangkan BUP akan mengurus terminal bandara, mulai dari pengelolaan bangunan, penyewaan gedung, maupun ruangan, serta Passanger Service Charge (PSC).

”Meski nantinya segala urusan terminal di Hang Nadim dikerjakan BUP, namun mereka akan selalu berkoordinasi dengan BUBU,” katanya.

“Misalnya mau naikkan tarif di terminal, koordinasi dengan kami. Tapi mereka memiliki wewenang melakukan pembangunan bandara,” jelasnya.

Salah satu rencana besar BUP yakni pembangunan terminal II Bandara Internasional Hang Nadim.

”Terminal sudah sepenuhnya diserahkan ke BUP. Yang belum ada kesepakatan itu kargo. Kini BUBU sedang melakukan pembangunan kargo. Kalau diserahkan ke BUP, dihitung lagi berapa investasi yang sudah ditanamkan BUBU di sana,” tuturnya.

Suwarso mengungkapkan pengambil alihan BUBU Hang Nadim ke BUP masih menyisakan sedikit persoalan di sumber daya manusia (SDM) Bandara Hang Nadim.

”Terkait apa status karyawan BUBU ke depan, masih di bahas. Tapi, kami maunya teman-teman yang masih honor dapat diakomodir menjadi pegawai BUP,” harapnya.(iza/ska)