batampos.co.id – Hujan deras dan angin kencang yang mengiringi salah satu badai terdahsyat Jepang dalam satu dekade terakhir mengakibatkan kematian sekitar 26 orang.

Belasan warga masih dinyatakan hilang dan lebih dari 100 yang lain terluka. Topan Hagibis menghantam Pulau Honshu, Jepang, dengan kecepatan 216 kilometer per jam pada Sabtu malam (12/10).

”Kami akhirnya harus diselamatkan dengan perahu,” kata Hajime Tokuda sebagaimana dilansir Agence France-Presse, Minggu (13/10/2019).

Ahli keuangan itu panik saat melihat air yang masuk ke kediamannya di Kawasaki, Prefektur Kanagawa, naik terus.

Dia pun terpaksa meninggalkan rumahnya pada Sabtu setelah genangan banjir melebihi tinggi badannya.

Kepada CNN, Badan Manajemen dan Bencana Kebakaran Jepang melaporkan bahwa badai kali ini mengakibatkan 15 orang tewas, 9 lainnya hilang, dan sekitar 140 penduduk luka-luka.

Namun, NHK dan beberapa media lokal lainnya menyebut korban tewas mencapai 26 orang dan 15 lainnya hilang.

Angin kencang yang menyertai Hagibis membuat Semenanjung Izu porak-poranda.

Tiga bocah Kawasaki membersihkan lingkungan sekitar rumah dari lumpur yang dibawa banjir akibat topan Hagibis , Minggu (13/10/2019). Foto: William West/AFP/JPG

Hujan deras yang datang bersama badai juga mengakibatkan banjir dan tanah longsor di beberapa lokasi.

Puluhan sungai meluap dan membanjiri permukiman penduduk. Luapan Sungai Tama di Tokyo bahkan menenggelamkan kafe di dekatnya.

Di Nagano sejumlah kereta peluru alias shinkansen terpaksa mangkrak. Kendaraan darat supercepat itu tak berdaya dikepung banjir yang merendam separo badan.

Di berbagai kota yang dilewati Hagibis, rumah-rumah hancur dan kendaraan rusak. Sebagian nyangkut di plengsengan sungai atau jembatan, atau malah terbalik di pinggir jalan setelah diseret banjir.

Kekacauan itu memaksa turnamen Rugby World Cup antara Jepang dan Skotlandia berhenti sementara.

Kemarin lebih dari 100 ribu personel tim penolong terjun ke lokasi-lokasi yang terdampak badai.

Termasuk sekitar 31 ribu tentara. Mereka juga didukung perahu dan helikopter sebagai sarana evakuasi warga.

Nahas, dalam sebuah operasi penyelamatan di Iwaki City, Prefektur Fukushima, seorang perempuan 70 tahun tewas.(jpg)