Presiden dan wakil presiden terpilih, Joko Widodo-Ma’ruf Amin segera dilantik. Jika tidak meleset, dilantik Minggu 20 Oktober 2019.

Jika kita simak di berbagai berita, banyak sekali kejadian yang “menyambut” pelantikan kedua pemimpin negara ini. Tidak sedikit pula korban berjatuhan.

Sebut saja demo dan kerusuhan mahasiswa di berbagai daerah hingga bentrok di Wamena yang seluruhnya menelan korban jiwa. Yang terbaru, tentu saja penikaman Menkopolhukam, Wiranto.

Miris memang. Di saat kompetisi demokrasi yang sempat memisahkan rakyat akibat beda pilihan berakhir, persoalan lain justru muncul. Nyaris tidak terduga sama sekali. Bak hujan di siang bolong. Semua terjadi begitu cepat. Ada yang mengaitkan rentetan peristiwa itu sebagai bagian dari upaya menggagalkan pelantikan.

Namun, tak sedikit pula yang beranggapan itu hanya setting-an. Entahlah. Biar publik yang menilai.

Terlepas dari itu semua, tidak ada salahnya juga kita mengapresiasi upaya dari pemerintah, maupun TNI/Polri. Meski banyak yang menganggap kecolongan, namun yang perlu dipahami adalah, tidak ada yang sempurna.

Kalau saya punya pendapat sendiri. Mencoba menilai secara diplomatis. Menganggap itu bagian dari cobaan. Sebuah ujian bagi sang presiden dan wakilnya, sebelum benar-benar memimpin bangsa dan negara.

Menjadi pemimpin negara di tengah situasi seperti sekarang ini tidaklah gampang. Mulai dari masalah ekonomi, konflik, terorisme, dan persoalan-persoalan lainnya menjadi pekerjaan rumah (PR) yang sudah menanti. Dan tentu harus diselesaikan.

Untuk itulah, kita semua berharap agar presiden benar-benar menyiapkan tim yang tangguh. Membentuk kabinet berisikan orang-orang yang sesuai bidangnya. Tidak lagi berasaskan utang budi kepada partai politik (parpol).

Kalaupun para menteri diisi orang-orang parpol, alangkah baiknya dipilih yang berkompeten. Punya kemampuan dan kualitas untuk mem-back up kerja-kerja presiden-wakil presiden. Tidak sekadar ABS alias asal bos senang.

Saya pikir, Jokowi tidak punya beban lagi dalam memimpin bangsa ini. Sudah periode terakhir. Tidak salah jika meninggalkan kesan dan prestasi yang nantinya akan diingat generasi penerus bangsa.

Saya pikir, tidak ada salahnya juga menggandeng dan mengadopsi program-program calon penantangnya tempo hari, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Tidak perlu malu atau sungkan. Ini demi masa depan bangsa dan negara.

Tidak salah pula menjadikan lawan kontestasi politik tempo hari sebagai kawan untuk berbagi ide, bertukar pikiran, atau sharing program. Dilihat dari beberapa kali pertemuan antara Jokowi-Prabowo, saya pikir itu bukanlah sebuah keniscayaan.

Rentetan persoalan yang terjadi diambil sisi positif saja. Tidak perlu panik. Tidak perlu menuding. Anggap saja sebagai cobaan sang presiden. Karena persoalan yang terjadi di bangsa ini bukan untuk dihindari. Namun diselesaikan secara bijaksana.

Semoga beragam cobaan ini dapat menguatkan hati pak presiden. Sehingga Indonesia semakin baik dan maju. (*)