batampos.co.id – Joko Widodo akan kembali dilantik menjadi presiden pada 20 Oktober 2019 mendatang.

Dalam periode pertama kepemimpinya, ada lima bidang yang kinerjanya dinilai kurang memuaskan.

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu pun dituntut membuktikan janji kampanyenya pada periode mendatang.

Tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Jokowi terlihat dalam hasil survei Alvara Research Center yang dirilis kemarin (14/10).

CEO Alvara Research Center, Hasanuddin Ali, mengatakan dari waktu ke waktu, tingkat kepuasan publik terhadap Joko Widodo-Jusuf Kalla memang naik turun tergantung dinamika yang terjadi.

“Namun, angkanya relatif stabil cukup baik, yaitu 70-an persen,” terang dia.

Saat publik diminta untuk menilai tingkat kepuasan terhadap berbagai aspek, Hasan menjelaskan, ada lima aspek yang mendapat kepuasan tertinggi, yaitu telekomunikasi dan internet, transportasi publik, pendidikan, infrastruktur, dan kesehatan.

Namun, di sisi lain ada lima aspek yang mendapat nilai kepuasaan terendah, ialah kondisi ekonomi nasional, kesejahteraan tenaga kerja, kemudahan lapangan kerja, pengentasan kemiskinan, dan stabilitas harga kebutuhan pokok.

Alumnus ITS itu mengatakan, bidang ekonomi masih menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi kepemimpinan Joko Widodo di periode kedua nanti.

“Karena selama lima tahun aspek-aspek yang terkait dengan kondisi ekonomi masih belum memenuhi harapan publik,” terang dia, kemarin.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) memimpin sidang kabinet paripurna yang terakhir di periode 2014-2019, beberapa waktu lalu. Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden

Survei Alvara juga menampilkan tingkat kepuasan publik terhadap kinerja menteri Kabinet Jokowi-JK.

Ada 10 menteri yang masuk dalam kategori 10 besar menteri dengan tingkat kepuasan tertinggi.

Menurut Hasan, tingkat kepuasan tertinggi kinerja menteri diraih oleh Menteri Kela-utan dan Perikanan Susi Pudjiastuti (91,95 persen), disusul oleh Menteri PUPR Basuki Hadi Mulyono (84,07 persen), dan Menteri Keuangan Sri Mulyani (83,39 persen).

Pria kelahiran Gresik itu menerangkan, Susi Pudjiastuti diapresiasi karena keberanian dan ketegasannya, sementara Basuki dinilai berhasil dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia.

“Sedangkan Sri Mulyani dihargai publik karena mampu mengelola keuangan negara dengan baik meskipun kondisi ekonomi global yang tidak menentu,” tutur dia.

Bagaimana dengan periode kedua kepemimpinan Jokowi? Hasan mengatakan, tingkat optimisme publik terhadap Presiden dan Wakil Presiden terpilih Joko Widodo–Ma’ruf Amin cukup baik, dari semua indikator, ekonomi, politik, penegakan hukum, pemberantasan korupsi, dan demokrasi.

Angkanya berada di atas 70 persen. Dia menambahkan, tingkat optimisme publik yang tinggi merupakan modal awal yang baik bagi Jokowi-Ma’ruf untuk memulai pemerintahan baru mendatang.

Serta merealisasikan janji-janji yang telah disampaikan saat kampanye pilpres yang lalu.

“Namun, tingkat kepuasan dan optimisme publik yang tinggi tersebut juga berarti publik menaruh harapan yang tinggi agar pemerintah mendatang mampu menunjukkan kinerja yang baik,” tutur Hasan.

Survei Alvara dilakukan pada 12-31 Agustus 2019, dengan menggunakan multi-stage random sampling yang melibatkan 1.800 responden berusia 14–55 tahun melalui wawancara tatap muka.

Rentan margin of error sebesar 2,35 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

Sekjen PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto, mengatakan, dukungan rakyat yang besar, dan dukungan partai di parlemen akan memperkuat posisi Presiden Jokowi dalam lima tahun mendatang.

Menurut dia, pemerintahan ke depan akan jauh lebih solid, lebih efektif.

“Sehingga memungkinkan Presiden Jokowi untuk merespons berbagai tantangan perekonomian nasional dan global,” ucap dia.

Menurut dia, konsolidasi politik, hukum, pemerintahan, dan dukungan kekuatan politik  di DPR  menjadi modal utama stabilitas dan gerak cepat pembangunan Indonesia ke depan. (lum/jpg)