batampos.co.id – Tulang punggung atau backbone jaringan serat optik nasional Palapa Ring telah diresmikan untuk beroperasi, Senin (14/10/2019).

Meski bukan otomatis akses internet di 514 kabupaten/kota di Indonesia menjadi sama rata.

Dalam hal ini, pemerintah mesti terlebih dahulu menawarkan jaringan serat optik ini untuk terhubung dengan base transmission station (BTS) milik operator telekomunikasi.

Direktur utama Badan Aksesbilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) RI, Anang Achmad Latif, menyatakan, beroperasinya Palapa Ring atau yang dikenal dengan “tol langit” merupakan 80 persen dari upaya pemerataan akses telekomunikasi tersebut.

Sementara 20 persennya, menjadi ranah pihak operator telekomunikasi.

“Konsepnya dalam sektor telekomunikasi ini masing-masing tidak bisa jalan sendiri. Khususnya dalam menuntaskan persoalan ketimpangan ini,” jelasnya dalam diskusi bertajuk ‘Menghitung Dampak Palapa Ring’ garapan Forum Merdeka Barat 9 di Jakarta, Selasa (15/10/2019).

“Pemerintah pun akhirnya membangunkan jalan tol, 80 persen persoalannya sudah beres. Tinggal 20 persennya kami bicara dengan telkomsel, bicara dengan operator seluler lainnya, operator internet lainnya,” urai Anang lagi.

Diterangkan, sejatinya persoalan jaringan ini dahulunya merupakan tugas operator untuk menyelesaikannya.

Namun ternyata ketika Telkom diprivatisasi menjadi perusahaan publik, tujuan pemerintah ini tak bisa dilaksanakan sepenuhnya oleh Telkom.

Sejumlah tower telekomunikasi hasil kerja sama Kementerian Kominfo denga beberapa operator seluler berdiri di Bukit Siantan, Tarempa, Kabupaten Kepulauan Anambas, Kepri. Foto: Dokumentasi batampos.co.id

Alhasil pemerintah pun masuk menyelesaikan pekerjaan rumah ini melalui BAKTI.

Anang mengisahkan, dalam diskusi yang dilakukan dengan operator, diketahui penyebab belum terjangkaunya wilayah-wilayah timur Indonesia dengan sinyal telekomunikasi. Hal ini lantaran biaya yang dibutuhkan untuk menggelar jaringan fiber optik hingga ke wilayah-wilayah tersebut terbilang sangat besar.

Apalagi dalam upaya konektivitasnya mesti menyeberangi lautan dan melewati medan yang sulit.

“Itu biayanya luar biasa, mereka harus menggelar kabel melewati lautan. Biayanya bisa tiga sampai empat kali dibandingkan kalau kita gelar kabel di darat,” terangnya.

Berangkat dari masalah tersebut, pemerintah akhirnya membuat skema sebuah proyek yang diberi nama Palapa Ring.

Melalui proyek ini, setidaknya pemerintah membuat “jalan tol”-nya terlebih dahulu untuk jaringan tersebut.

Sehingga ketika jalan tol yang dimaksud sudah selesai, tinggal menyisakan peran operator untuk menyambungkannya dengan BTS agar dapat dinikmati masyarakat.

“Jadi Palapa Ring ini belum menyelesaikan tuntas sampai menyiapkan sinyal ke masyarakat,” ujarnya.

“Tetapi bagaimana jalan tolnya ada dulu. Tinggal bagaimana menghubungkan dengan BTS milik operator,” sebut Anang lagi.

Sehingga kini pemerintah menawarkan jalan tol itu kepada operator untuk bisa melanjutkan konektivitasnya.

Karena setelah jalan tol ini selesai, maka tinggal persoalan di ujungnya yang mesti dirampungkan.

Dalam hal ini pemerintah bekerja sama dengan pihak operator.  Anang menyebut, apabila jaringan ini telah tersambung dengan operator, maka pemerataan akan terjadi bagi seluruh di wilayah di Indonesia.

Masyarakat di daerah-daerah lain di Indonesia khususnya di wilayah timur pun bisa mendapatkan kecepatan akses internet sebagaimana di Jawa.

“Di sana itu bisa dibayangkan ketika belum ada jaringan Palapa Ring, jangankan gambar, teks saja kadang-kadang sampainya (terkirim) lama,” ujarnya.

“Semoga dengan ini kami bersama dengan operator bisa tuntas menyelesaikan sinyal hingga kecepatan tinggi,” harapnya.

Pemerataan ini, sambung Anang, memang menjadi tujuan paling penting dari Palapa Ring.

Yaitu bagaimana menghadirkan sinyal 4G hingga pelosok hingga seluruh kabupaten/kota di Indonesia.

Tujuan kedua yaitu bagaimana operator nanti bisa memanfaatkan dan menjual layanannya dengan harga yang terjangkau.

“Sekarang kalau dibandingkan harga mungkin tidak berbeda antara Jawa dan daerah lainnya. Kalaupun berbeda, tidak beda jauh. Tapi kecepatan yang didapat itu berbeda,” urai Anang.

“Di sana, beberapa juga di pegunungan, mungkin tulisan (layanannya) 4G, tetapi mengirim gambarnya setengah mati. Ini kan ketimpangan yang harus segera dituntaskan. Jadi harganya juga nanti kualitasnya lebih baik, harganya juga lebih terjangkau,” sambungnya.

Adapun tujuan berikutnya dari Palapa ring ini adalah bagaimana pemanfaatannya bisa bermanfaat positif bagi masyarakat.

Anang meyakini untuk tujuan tersebut, tidak bisa diselesaikan baik oleh Kemenkominfo maupun operator itu sendiri.

Melainkan juga bergantung dari bagaimana masyarakat menyiasatinya.

“Bagaimana pemanfaatannya ini ketika hadir internet dalam genggaman, bisa bermanfaat positif. Karena urusan ini adalah urusan yang multiple dimensi,” jelasnya.

“Bagaimana masyarakat menyiasastinya, jangan sampai nanti internet seperti pisau bermata dua ya, dipakai untuk hal-hal negatif, tetapi bagaimana caranya justru berdampak positif,” pungkas Anang.(luk)