batampos.co.id – Minat masyarakat Batam untuk menggunakan energi gas bumi terus meningkat.

Mulai dari sektor rumah tangga, komersial, hingga sektor industri. Efisiensi menjadi alasan utama warga ingin beralih ke energi baik tersebut.

Andri Sulistiawati salah satunya. Warga Blok B1 Nomor 32 Perumahan Bida Asri 1, Batam Center, tersebut beralih ke gas bumi untuk kebutuhan memasak dan menghidupkan mesin pemanas air. Sebelumnya, ia menggunakan gas LPG ukuran 12 Kg.

Andri mengatakan, gas bumi memang terbukti jauh lebih hemat dibandingan gas LPG. Ia membandingkan, saat pakai gas LPG setiap bulan bisa menghabiskan dua tabung gas dengan harga per tabung Rp 160 ribu.

Sehingga dalam sebulan rata-rata ia menghabiskan Rp Rp 320 ribu untuk membeli LPG.

“Itu untuk kebutuhan memasak saja. Waktu itu belum pakai pemanas air,” kata Andri, Senin (14/10/2019).

Namun setelah beralih ke gas bumi, ia hanya menghabiskan Rp 80 ribu per bulan untuk membayar tagihan gas ke PT Perusahaan Gas Negara (PGN).

Padahal, selain untuk memasak, Andri juga menggunakan mesin pemanas air untuk kebutuhan mandi setiap hari.

“Jadi gas PGN ini jauh lebih murah,” katanya.

Petugas PGN tengah melakukan pemeliharaan berkala terhadap jaringan gas bumi milik PT Interpak Industries Batam. Foto: Rifki/batampos.co.id 

Selain hemat, Andri mengaku menggunakan gas bumi lebih praktis. Sebab ia tak perlu melakukan isi ulang dan mengangkat tabung gas yang cukup berat.

Pengalaman serupa disampaikan pemilik Restoran Mi Terempak, Very. Penggunaan gas bumi lebih praktis karena gas PGN itu dialirkan melalui pipa menuju ke kompor dan bisa digunakan setiap saat.

Tak perlu khawatir akan kehabisan gas saat karyawannya sedang memasak.

Selain praktis, Very mengaku tergoda untuk beralih ke gas bumi juga karena alasan efisiensi.

Menurut dia, memakai gas bumi jauh lebih hemat jika dibandingkan dengan gas LPG.

“Hematnya hampir 50 persen,” kata Very saat berbincang dengan Batam Pos, belum lama ini.

Pria asli Tarempa, Kabupaten Anambas, mengatakan efisiensi biaya energi hingga 50 persen itu tentu angka yang cukup besar.

Sebab efisiensi itu dapat menekan biaya operasional. Dan artinya, akan menambah potensi laba usaha.

“Karena yang namanya usaha pasti mencari keuntungan,” kata dia.

Selain harga gas bumi lebih murah dibandingkan LPG, pemakaian gas alam tersebut juga lebih optimal karena tidak ada gas yang terbuang.

Berbeda dengan gas LPG yang sering mengendap dan tidak bisa digunakan lagi. Padahal sebenarnya masih ada sisa gas di dalam tabung.

“Gas LPG yang 12 kilogram itu, kadang masih ada sisa 4 kilogram tapi tekanannya kecil. Terpaksa ganti tabung baru. Jadinya banyak gas yang terbuang,” kata Very.

Sales Area Head PT PGN Batam, Wendi Purnomo, membenarkan minat warga Batam beralih ke gas bumi kian tinggi.

Selain karena alasan lebih murah atau hemat, konsumen mengaku penggunaan gas bumi lebih praktis dan lebih terjamin keberlangsungan pasokannya.

Wendi menyebut, hingga September 2019 tercatat ada 4.800 pelanggan PGN di Batam dari berbagai sektor.

Mulai dari industri, pembangkit listrik, komersial, transportasi, hingga pelanggan gas rumah tangga.

“Kebanyakan merupakan pelanggan gas rumah tangga. Saat ini jumlahnya sekitar 4.600 pelanggan,” kata Wendi, Senin (14/10/2019).

Seorang ibu rumah tangga memasak dengan menggunakan jaringan gas dari PGN Batam. Saat ini PT PGN) Area Batam telah mengalirkan gas bumi ke 4.809 pelanggan. Foto: PT PGN Batam untuk batampos.co.id

Selain 4.600 pelanggan yang sudah eksisting, kata Wendi, saat ini sudah ada sekitar 4.000 calon konsumen yang antre untuk mendapatkan sambungan gas bumi.

Calon konsumen tersebut datang dari berbagai sektor, mulai dari konsumen rumah tangga, komersial, hingga industri.

Khusus untuk calon pelanggan dari kalangan rumah tangga, mereka mengajukan permohonan sambungan gas bumi melalui koordinasi perangkat RT/RW setempat.

Sementara dari kalangan industri dan komersial umumnya mengajukan langsung ke PGN.

“Untuk konsumen industri dan komersial kami bisa langsung tindaklanjuti. Tapi pengajuan dari kalangan rumah tangga harus melalui persetujuan pemerintah melalui Kementerian ESDM,” kata Wendi.

Melihat tingginya minat warga Batam terhadap gas bumi, PGN terus berupaya memperluas pemanfaatan gas bumi dengan membangun jaringan pipa gas di seluruh wilayah Batam.

Hingga saat ini, pipa gas bumi yang dimiliki dan dioperasikan PGN di Batam sepanjang 141,3 km yang tersebar di wilayah Batam Center, Batuaji, Tanjunguncang, Nagoya, Batuampar, dan Kabil.

“Tahun depan kami berencana membangun jaringan pipa gas bumi di Seipanas. Targetnya untuk memasok kebutuhan gas bumi untuk sektor komersial di wilayah itu,” terang Wendi.

Sementara Corporate Secretary PGN, Rachmat Hutama, menegaskan gas bumi masih menjadi salah satu sumber energi yang paling efisien di Indonesia.

Di kawasan Asia, harga gas yang disalurkan PGN juga masih sangat kompetitif. Kecuali jika dibandingkan dengan harga gas di Malaysia yang mendapatkan subsidi dari pemerintah negara itu.

Berdasarkan data sejumlah lembaga energi terkemuka seperti Woodmack (2018) dan Morgan Stanley (2016), harga gas bumi kepada sektor industri di Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan harga di Singapura dan Cina.

Di Singapura konsumen industrinya membeli gas berkisar USD 12,5-USD 14,5 per MMBtu. Sementara industri di Cina harus membayar lebih mahal lagi yaitu mencapai USD 15 per MMBtu.

“PGN menjual gas kepada pelanggan akhir berkisar antara USD 8-USD 10 per MMBtu. Harga itu terbentuk dari berbagai sumber baik gas sumur maupun LNG yang harganya jauh lebih tinggi,” kata Rachmat dalam rilisnya kepada Batam Pos, Kamis (19/9/2019) lalu.

Rachmat menegaskan, sejak tahun 2013 PGN tidak pernah menaikkan harga gas kepada konsumen industri.

Sementara biaya pengadaan gas, biaya operasional dan kurs USD terus meningkat. Secara akumulasi, sejak 2013 hingga saat ini kurs USD telah mengalami kenaikan hingga 50 persen. Biaya pengadaan gas selama ini menggunakan patokan USD.

“Dengan beban biaya yang terus meningkat tentunya ruang bagi PGN untuk mengembangkan infrastruktur gas bumi menjadi makin terbatas. Sementara banyak sentra-sentra industri baru, seperti di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang belum terjamah gas bumi,” tegas Rachmat.

Sebagai pionir pemanfaatan gas dan pembangunan infrastruktur gas bumi, PGN selama ini juga telah mengambil banyak risiko.

Baik risiko pasokan maupun pasar yang cenderung fluktuatif dan tidak pasti.

Sebagai agregator, untuk memastikan ketersediaan gas, PGN juga telah membangun terminal LNG di beberapa lokasi untuk meregasifikasi LNG yang berasal dari berbagai sumber.

“Perluasan pemanfaatan gas bumi merupakan tanggungjawab bersama. Apalagi kita punya tanggungjawab bersama untuk menjaga ketahanan energi nasional dan melayani kebutuhan gas bumi secara berkeadilan,” ujar Rachmat.(Suparman)