Sabtu, 11 April 2026

Perekonomian Indonesia dalam Tekanan

Berita Terkait

batampos.co.id – Hampir semua negara di dunia, tampaknya, harus berjuang menghadapi ancaman resesi.

Merujuk laporan teranyar Dana Moneter Internasional (IMF) bertajuk World Economic Outlook (WEO) Oktober 2019, terlihat bahwa pertumbuhan ekonomi global mayoritas dalam tekanan.

IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi kelompok emerging markets dan negara berkembang terkoreksi menjadi hanya 3,9 persen pada akhir tahun ini.

Sebelumnya, pada April, IMF menurunkan target pertumbuhan ekonomi 0,2 persen dari prediksi awal pada Januari 3,5 persen menjadi 3,3 persen.

Penasihat ekonomi sekaligus Direktur Departemen Riset IMF, Gita Gopinath, menuturkan, target tersebut merupakan angka paling rendah sejak krisis keuangan global.

’’Meningkatnya hambatan perdagangan dan ketegangan geopolitik terus melemahkan pertumbuhan ekonomi global,’’ ujarnya dalam laporan yang terbit Selasa (15/10/2019) lalu.

Aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Batuampar, Batam, beberapa waktu lalu. Merujuk laporan IMF bertajuk World Economic Outlook (WEO) Oktober 2019, terlihat bahwa pertumbuhan ekonomi global mayoritas dalam tekanan, termasuk Indonesia. Foto:. Cecep Mulyana/batampos.co.id

Indonesia diperkirakan hanya tumbuh 5 persen pada tahun ini. Proyeksi itu sejalan dengan Bank Dunia yang baru-baru ini juga memperkirakan angka pertumbuhan yang sama untuk Indonesia.

Tahun depan, pertumbuhan ekonomi Indonesia diramal sedikit lebih tinggi, yaitu 5,1 persen, dan terus meningkat hingga 5,3 persen pada 2024.

Direktur Riset CORE Indonesia, Piter Abdullah, menuturkan, pertumbuhan ekonomi tahun ini memang diperkirakan di kisaran 5 persen.

Di bawah target pemerintah, sesuai dengan proyeksi World Bank dan IMF.

’’Perlambatan pertumbuhan disebabkan banyak faktor. Utamanya faktor eksternal, penurunan harga komoditas, serta ketiadaan kebijakan terobosan yang dapat mengurangi dampak turunnya harga komoditas,” jelas Piter, Rabu (16/10/2019).

Untuk memacu pertumbuhan ekonomi, pemerintah harus fokus meningkatkan permintaan domestik.

’’Jadi, kita bisa memanfaatkan pasar domestik untuk memacu konsumsi dan investasi. Caranya bagaimana, yaitu dengan menyinergikan kebijakan moneter fiskal dan sektor riil,” imbuhnya.

Ekonom Indef, Bhima Yudhistira, memandang realisasi pertumbuhan ekonomi bisa lebih rendah daripada yang diproyeksikan.

’’Kalau lembaga internasional merevisi pertumbuhan, realisasinya bisa jauh lebih rendah dari 5 persen,” jelasnya.

“Untuk Indonesia bisa ke 4,8 sampai 4,9 persen,’’ ujarnya lagi. Terlebih, kinerja neraca perdagangan terus mengalami defisit.(dee/ken/agf/wan/c7/oki/jpg)

Update