PERTANYAAN yang kerap dilontarkan saat ini, di ruang-ruang publik adalah, bilakah perekonomian nasional akan bangkit? Apakah tahun depan? Apakah tahun depannya lagi? Misalnya, apakah setelah Presiden dilantik yang diikuti pelantikan para pembantunya? Trus, bagaimana dengan Batam, Kepri? Bilakah kembali ke growth dua digit? Ups!

Dari Jakarta dilaporkan, berdasarkan laporan teranyar IMF bertajuk World Economic Outlook, October 2019, hampir semua negara di dunia nampaknya harus berjuang menghadapi ancaman resesi. Pertumbuhan ekonomi global mayoritasnya berada dalam tekanan. IMF memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi kelompok emerging markets dan negara berkembang terkoreksi menjadi hanya 3,0 persen pada akhir tahun ini. Sebelumnya, pada April, IMF menurunkan target pertumbuhan ekonomi 0,2 persen dari prediksi awal di Januari yakni dari 3,5 persen menjadi 3,3 persen.

Menurut pengamat ekonomi sekaligus Direktur Departemen Riset IMF Gita Gopinath, target tersebut merupakan angkah paling rendah sejak krisis keuangan global. “Meningkatnya hambatan perdagangan dan ketegangan geopolitik terus melemahkan pertumbuhan ekonomi global”.

Bagaimana dengan Indonesia? Diperkirakan, Indonesia hanya tumbuh 5 persen pada tahun ini. Proyeksi itu sejalan dengan Bank Dunia yang baru-baru ini juga memperkirakan angka pertumbuhan yang sama untuk Indonesia. Tahun depan, pertumbuhan ekonomi Indonesia diramalkan sedikit lebih baikm yakni 5,1 persen dan akan terus meningkat hingga 5,3 persen pada tahun 2024. Setelah itu, masih sulit ditebak, karena akan ada tahun politik lebih kolosal, yakni pemilihan serentak presiden, kepala daerah, dan legislatif, untuk seluruh daerah.

Dalam pada itu, dari paparan diskusi di Kadin Indonesia, belum lama ini, yang dihadiri MS Hidayat, Roesan Roslani (Ketum Kadin), mantan Gubernur BI Agus Martowardoyo, dan lainnya, di hadapan sekitar 50-an orang pelaku pasar dan pengamat ekonomi, mantan Wakil Menkeu era SBY, Chatib Basri, banyak menyoroti hal-hal krusial lainnya.

Menurutnya, krisis global diperkirakan akan berlangsung panjang, sehingga napas bisnis kita minimal harus tahan sampai tahun 2021. Bisnis di Indonesia awalnya yang terpukul adalah industri yang bergerak di bidang bahan baku/komoditi dan produk setengah jadi yang biasa diekspor ke China. Lalu kemudian saat ini, sektor riil ikut terpukul. Contohnya, penjualan Astra tahun ini turun 14 persen dibanding tahun lalu.

Kemudian, menurut Chatib, di ASEAN, saat ini, negara yang paling parah adalah Singapura, growth tidak sampai 1 persen, karena basis ekonominya adalah trading. Growth Singapura hanya 0,1 persen, sedangkan Indonesia masih di 5,02 persen. Kondisi serupa pernah diakui Konjend Singapura Mark Low, kepada saya, beberapa pekan lalu.

Negara mana di ASEAN yang masih perkasa? Vietnam. Ya, negara di Asia yang maju adalah Vietnam, karena bisa ambil kesempatan. Namun belakangan, vietnam juga mulai kekurangan tenaga kerja, sehingga ini harusnya jadi kesempatan Indonesia untuk menarik investor dari China.

Di sisi lain, ekonomi Amerika sekarang sedang bagus. Angka pengangguran terendah dalam 10 tahun, dan Amerika kira-kira hanya akan menurunkan suku bunga FED sebesar 0,25 persen saja dalam setahun. Tetapi, kondisi ini juga akan tergantung pemilihan presiden Amerika tahun depan.

Bagaimana dengan dampak dari pembangunan infrastuktur? Menurut para pengamat, pembangunan infrastruktur tidak selalu memacu pertumbuhan ekonomi. BUMN Indonesia yang bergerak di bidang infrastruktur akan alami kesulitan, karena utangnya sangat besar. Demikian juga jalan jalan tol yang dibangun BUMN di Sumatera, sepi, sehingga operasional sangat rugi.

Bagaimana dnegan sektor pajak? Menurut Chatib Basri, penerimaan negara dari pajak juga sangat drop akibat bisnis lesu dan harga commoditi jatuh. Pengangguran dari lulusan SMA dan universitas naik. Uniknya, pengangguran lulusan SMP dan SD menurun, karena banyak dapat kerja di ojek online.

Yang menarik, lulusan SMA/universitas yang nganggur, dikatakan Chatib, berpotensi mengganggu politik Indonesia, karena mereka aktif di medsos, dan ada di antaranya terjebak ke dalam penyebaran hoax (kabar bohong). Saat ini, fiskal dan moneter Indonesia masih cukup aman, tetapi di sektor riil perlu segera disupport, karena saat ini impor selalu lebih tinggi dari ekspor. Jika keadaan ini berlarut, akan memengaruhi keuangan Indonesia. Di sisi lain, perusahaan-perusahaan di Indonesia banyak yang terancam default, karena kebanyakan utang. Dikhawatirkan, default ini akan menjadi cross default yang meluas ke sekotor lain seperti efek domino.

Lalu, bagaimana kondisi politik Indonesia? Diperkirakan, dalam lima tahun ke depan, kondisi politik Indonesia akan lebih berat, karena semua partai dari sekarang sudah mulai cari calon pengganti Jokowi.

Oleh karenanya, apa solusi dari semua permasalahan di atas? Pemerintah di level manapun,usat dan daerah, harus benar-benar membuat skala priorotas dalam pembangunan. Infrastruktur fisik, penting. namun menyiapkan infrastuktur kerakyatan (non-fisik, berupa pemberdayaan ekonomi rakyat, usaha kecil dan menengah), jauh lebih penting. Membangun nafas bisnis itu juga penting, namun memastikan nafas rakyat tetap berhembus, jauh lebih penting lagi.

Yang lain? Mau tidak mau, suka atau tidak suka, ekonomi digital harus disiapkan. Sekarang, semua berbisnis dengan cara digital. Ibarat kata, dulu orang mau makan, harus ke gerai atau datang rumah makan. Seakrang, kalau mau makan, tinggal ambil gadget, pencet, pilih menu, lalu bayar. Beberapa saat kemudian, makanan sudah sampai ke meja Anda di rumah. ***