batampos.co.id – Sejumlah asosiasi pengusaha bidang kepelabuhanan di Batam menolak rencana Badan Pengusahaan (BP) Batam menyerahkan perombakan dan pengelolaan Pelabuhan Batuampar kepada PT Pelindo II. Mereka khawatir Pelindo II akan mengambil alih semua sektor kerja di pelabuhan yang selama ini ditangani pe-ngusaha lokal.

Di antara asosiasi yang keberatan tersebut antara lain Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) Batam, Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Batam, dan Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat Indonesia (APBMI) Batam.

“Kami pengusaha pelabuhan Batam yang mempunyai usaha crane dan kontainer nanti tidak bisa bekerja. Karena kalau Pelindo II masuk, semua akan diambil alih Pelindo II. Sementara kami ini adalah perintis pelabuhan. Tentunya kami keberatan jika Pelindo II masuk,” kata Wakil INSA Batam, Roy, di Harbour Bay, Batam, Kamis (17/10/2019).

Menurut Roy, pengusaha lokal sebenarnya mampu dan siap melakukan pembangunan dan perbaikan pelayanan di Pelabuhan Batuampar sepanjang BP Batam bersedia bekerja sama mulai dari pendalaman pelabuhan, penyediaan crane yang memadai, perbaikan dermaga, dan membangun pelabuhan yang lebih modern.

“Tapi, kini kami mendengar informasi dari Pak Rudi (kepa­la BP Batam, red) perihal ter­sebut maka kami bergerak. Kami juga akan mengadakan pertemuan dengan Pak Rudi supaya kami diberikan kesempatan untuk mengelola pelabuhan,” katanya.

Ia menambahkan, saat ini, pihaknya juga sudah menggandeng investor lokal untuk mengembangkan pelabuhan tersebut menjadi pelabuhan yang modern. Bahkan, kata Roy, para pengusaha lokal sudah menjalin komunikasi dengan sejumlah calon investor yang siap menanamkan modalnya untuk pembangunan dan pengembangan Pelabuhan Batuampar.

“Sekarang mereka lagi survei dan membuat perencanaan pengembangan pelabuhan tersebut. Dengan tujuan menyediakan semua prasarana kebutuhan untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas pelabuhan ini menjadi pelabuhan yang modern,” kata Penasihat INSA Batam, Amura.

SEJUMLAH pengurus asosiasi pengusaha kepelabuhanan di Batam menggelar konferensi pers
terkait sikap mereka menolak rencana pengelolaan Pelabuhan Batuampar oleh PT Pelindo II di Harbour Bay, Batam, Kamis (17/10/2019).

Wakil Ketua ALFI Batam, Kasimun, menambahkan, saat ini, para pengusaha lokal tengah menyiapkan konsorsium pembangunan dan pengembangan Pelabuhan Batuampar.

Konsorsium ini nantinya bisa bekerja sama dengan menggandeng Badan Usaha Pelabuhan (BUP) Kota Batam.

“Dengan konsorsium antara lain INSA, ALFI, APBMI Batam, serta BUP Kota Batam tentu semua sudah bisa jalan. Karena sudah ada partner yang akan berinvestasi dan pelabuhan ini akan dijadikan pelabuhan modern,” terangnya.

Menurut Kasimun, sejauh ini operasional di Pelabuhan Batuampar sudah berjalan cukup baik meski dijalankan pengusaha lokal. Maka dari itu, jika BP Batam ingin me­ngembangkan dan memperbaiki pelayanan di pelabuhan, ia berharap tetap melibatkan pengusaha lokal.

“Maka dari itu, kami mencari investor dan partner untuk mengembangkan pelabuhan yang modern. Investor ini nantinya yang akan menggandeng perusahan lokal yang selama ini sudah eksis di situ dan investor ini ada niat baik agar pengusaha lokal tersebut tetap hidup,” tambah Kasimun.

Gudang Pelabuhan Akan Dibongkar

Sementara Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Muhammad Rudi, mengaku saat ini pihaknya tengah menggesa penandatanganan kesepakatan (MoU) dengan PT Pelindo II untuk pengelolaan Pelabuhan Batuampar.

“Lagi diusahakan supaya cepat MoU dan cepat dibangun. Targetnya kapan? Saya belum mendapat laporan,” ungkap Rudi di Kantor Wali Kota Batam, Kamis (17/10/2019).

Karena baru sebatas rencana pembangunan, pria yang juga wali kota Batam ini belum mau membicarakan perihal target peningkatan pendapatan dari pelabuhan pascapembangunan.

“Baru target membangun dulu, supaya ada kegiatan di sana (pelabuhan),” imbuhnya.

Namun, soal rencana kerja PT Pelindo II, Rudi menyebut ada beberapa prioritas pekerjaan yang akan dilakukan. Antara lain pembongkaran sejumlah gudang di Pelabuhan Batuampar yang selama ini dijadikan tempat penyimpanan kontainer.

“Gudang yang ada kalau tidak digunakan bongkar saja, supaya jadi tempat kontainer. Selain bisa disewakan, orang bisa lihat langsung barangnya. Kalau dalam gudang kan orang susah, kalau mau angkat pakai forklift juga,” papar dia.

Selain itu, Pelindo II juga akan mengubah sistem bongkar muat kontainer di pelabuhan. Jika selama ini menggunakan truck crane biasa, maka ke depan akan diganti dengan crane permanen.

“Tidak boleh manual lagi, harus modern,” katanya.

foto: batampos.co.id / cecep mulyono

Dengan begitu, kata Rudi, kapasitas Pelabuhan Batuampar juga bisa ditingkatkan. Jika selama ini hanya mampu menampung 350 ribu Twenty Foot Equivalent Unit (TEU/TEUs) kontainer, maka nantinya akan ditingkatkan menjadi 5 juta TEUs per tahun.

“Untuk itu, alat pembongkaran di pelabuhan tersebut harus disempurnakan,” kata Rudi.
Ia mengatakan, hal ini sebenarnya sudah lama diperintahkan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla jauh sebelum dirinya dilantik sebagai kepala BP Batam.

“Dalam empat bulan ke depan, saya pikir memang tidak selesai semua, tapi ada progres menuju ke sana (penyelesaian),” terangnya.

Ia menambahkan, pembarauan alat dan sistem bongkar muat ini dapat menghemat waktu pengerjaan.

“Kalau crane permamen hanya butuh waktu tiga sampai lima menit, sementara truck crane butuh hingga satu jam. Tinggal dibagi saja, crane permanen bisa 12 kali lipat kecepatannya,” katanya. (une/iza)