batampos.co.id – Kondisi ekonomi global belum juga menunjukkan sinyal yang membaik. Laju ekonomi pada kuartal ketiga ini pun diprediksi tersendat di bawah 5 persen. Salah satu pemicunya adalah kinerja neraca dagang yang masih dominan defisit dan realisasi investasi yang di bawah ekspektasi.

Kepala Penelitian Makroekonomi dan Finansial Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI), Febrio Nathan Kacaribu, menuturkan, tren pertumbuhan saat ini memang berat karena merosotnya dua kinerja sumber ekonomi domestik tersebut.

”Gara-garanya memang ekspor turun negatif. Karena memang harga sawit dan batu bara juga terus turun dan belum ada recovery,” jelasnya di Menara BCA, akhir pekan lalu.

Febrio melanjutkan, dari sisi investasi, kinerjanya masih melambat bahkan pertumbuhannya tidak sampai 6 persen. Realisasi investasi tersebut lebih rendah daripada dua tahun sebelumnya yang mampu lebih dari 6 persen. Kontribusi investasi pada produk domestik bruto (PDB) cukup tinggi, yakni 33 persen. Karena itu, konsumsi selalu menjadi buffer karena kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi lebih dari 50 persen.

Dari segi sektoral, manufaktur juga masih mengalami perlambatan. Begitu juga dengan pertanian. Padahal, dua sektor tersebut memiliki kontribusi yang cukup besar bagi pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2019. Yang cukup menolong adalah sektor ritel.

”Karena orang masih beli baju dan sepatu, pertumbuhannya masih 5 persen,” katanya.

Sektor-sektor lainnya yang juga tumbuh positif adalah transportasi dan storage, sektor keuangan, serta information communications technology (ICT). Untuk itu, pihaknya memprediksi pertumbuhan ekonomi kuartal III ini mentok di angka 4,9 persen.

Pemeritah gagal memenuhi target pertumbuhan ekonomi sebesar 7 persen dalam kurun lima tahun terakhir. Terlihat aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Batuampar, Batam, belum lama ini. Foto: Cecep Mulyana/batampos.co.id

Sedikit berbeda, Direktur Riset CORE Indonesia, Piter Abdulah, lebih optimistis. Pihaknya mengungkapkan, CORE Indonesia mempro-yeksikan pertumbuhan ekonomi triwulan III ini masih bisa berada di kisaran 5 persen. Yakni, 4,95–5,05 persen. Dia mengakui, laju ekonomi pada kuartal III kemungkinan ada di bawah 5,05 persen, tapi tidak sampai 4,9 persen.

”Sedikit di atas itu,” kata Piter.

Pihaknya sedikit optimistis karena ekonomi domestik sangat didukung konsumsi masyarakat dengan kontribusi yang cukup besar. Jika kontribusi konsumsi ditambah dengan investasi, itu bisa mencapai 80 persen.

”Jadi, pada kuartal III ini kami mengalami defisit perdagangan yang artinya peran ekspornya sangat minimal, tapi masih bisa berharap di konsumsi dan investasi,” ungkapnya.

Pada kuartal IV, lanjut Piter, biasanya laju ekonomi akan kembali meningkat. Sebab, secara seasonal, ada faktor libur Natal dan tahun baru. Untuk itu, tidak terlalu menga-getkan jika pertumbuhan kuartal III agak melambat jika dibandingkan dengan kuartal IV. ”Memang siklus penurunan itu sampai September, Oktober sampai Desember itu mulai naik lagi,” imbuhnya.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menyatakan bahwa pihaknya memprediksi pertumbuhan ekonomi kuartal III ini bisa menyentuh 5,1 persen. Prediksi yang cukup optimistis tersebut didorong dari konsumsi rumah tangga yang masih tumbuh positif dan ditopang penyaluran bantuan sosial pemerintah. Di sisi lain, tren kinerja investasi juga membaik, yakni terkait masih maraknya pembangunan infrastruktur. (ken/c12/oki)