batampos.co.id – Liburan akhir tahun segera tiba. Itu artinya, Januari, awal tahun mendatang musim pendatang dari berbagai daerah di Indonesia akan memasuki Batam seiring jadwal liburan selesai. Hal ini menjadi fenomena tahunan yang bisa dilihat di berbagai pintu masuk, seperti Bandara Hang Nadim dan berbagai pelabuhan di Batam.

Namun, beberapa tahun terakhir, Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam mencatat, jumlah pendatang ke Batam mengalami tren penurunan. Bahkan warga cenderung lebih banyak yang eksodus keluar Batam akibat tingginya kasus Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di sejumlah perusahaan.

“Dari hasil sampling, meski dalam jumlah penduduk Batam meningkat, tapi terjadi penurunan dari 3,63 persen di 2018 menjadi 3,48 persen di 2019. Bahkan prediksi kita di 2020 menurun ke angka 3,34 persen,” ujar Kepala Kantor BPS Batam, Rahayudin, ketika ditemui di kantornya di Batam Kota, Jumat (18/10) pagi lalu.

Itu artinya, angka kelahiran di Batam berhasil ditekan, juga satu yang menjadi perhatian, angka warga yang migrasi ke Batam berkurang.

“Kalau tahun-tahun sebelumnya kan, Batam ini seperti gula. Jadi banyak semut yang datang. Sekarang akibat banyak perusahaan yang tutup, angka pengangguran tinggi, maka banyak warga memilih pulang kampung juga,” ujarnya.

Pada 2019 ini, jumlah penduduk Kota Batam mencapai 1.376.009. Jumlah ini dibagi ke dalam tiga kelompok, yakni kelompok non produktif (usia 0-14) sebanyak 412.190 jiwa, kelompok produktif (usia 15-64 tahun) sebanyak 944.441 jiwa, dan yang terakhir kelompok lansia (usia 65-75 tahun ke atas) sebanyak 19.387 jiwa.

“Pada 2045 mendatang, kami memprediksi jumlah lansia di Batam lebih tinggi. Tiga kali lipat dari jumlah sekarang. Prediksi ini kami hitung dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Batam yang semakin baik,” jelas Rahayudin.

Tiga faktor penentu IPM di Batam, yakni rata-rata harapan hidup warganya di rentang 73,24 tahun, harapan lama sekolah 12,95 tahun, dan pengeluaran per kapita Rp 17.560 per bulan. “Itu artinya kehidupan di Batam semakin membaik,” kata Rahayudin.

Ia menerangkan, rata-rata angka harapan hidup 2010-2018 di angka 72 tahun. 2018, angka harapan hidup di 73,24 persen. Mengapa? Karena peningkatan ini tidak lepas dari semakin mudahnya masyarakat Batam dalam memperoleh akses kesehatan, dan makin gampangnya diagnosa penyakit lewat layanan BPJS Kesehatan.

“Warga jadi lebih aware dan cepat mendeteksi sehingga lebih mudah ditangani,” jelas Rahayudin.

ilustrasi

Demikian juga warga usia produktif di Batam, rata-rata tingkat pendidikannya sudah tinggi. Sekitar 80 persen lulusan SMA/SMK sederajat, diploma, hingga strata 1.

“Batam ini kan banyak pendatang. Mereka masuk ke sini untuk mencari pekerjaan dan memperbaiki taraf hidup. Minimal pendidikan sudah harus menengah ke atas sesuai permintaan perusahaan. Itu faktornya,” tambahnya.

Sementara itu, dilihat dari rasio jenis kelamin, jumlah penduduk laki-laki di Batam masih terbanyak dibanding perempuan. Dimana pada 2019 ini ada 701.240 jiwa penduduk laki-laki, sedangkan perempuan sebanyak 674.769 jiwa.

Pulau Batam memiliki luas wilayah 1.595 km persegi yang didiami warga sebanyak 1.421.961 jiwa pada 2020 mendatang.

Itu artinya, rata-rata tingkat kepadatan penduduknya sebanyak 892 per kilometer persegi. Lantas bagaimana dengan ketersediaan sumber daya pendukung kehidupan seperti ketersediaan lapangan pekerjaan, air, tempat tinggal, dan faktor kebutuhan layak lainnya? Rahayudin menyebutkan hal ini kembali ke angka IPH.

“Kalau dilihat dari angka indeks kemiskinan, memang dibanding 2017 lalu persentase penduduk miskin Batam pada 2018 dan 2019 meningkat. 2017 sebanyak 4,81 persen, dan 2018 sebanyak 5,12 persen. Data 2019 tidak beda jauh dengan 2018,” ujar Kasi Statistik Sosial BPS Batam, Irfan Satriadi.

Irfan menambahkan, penduduk Batam masuk dalam status penduduk miskin apabila pendapatannya yang dilihat dari pemenuhan kebutuhan dasar dari makanan dan non makanan.

“Pada 2018, yang rata-rata pendapatannya hanya Rp 650.406 ke bawah per bulan masuk ke dalam kelompok miskin,” jelasnya.

Demikian juga halnya dengan angka pengangguran. BPS mencatat tingkat pengangguran di Batam cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2010 misalnya, tingkat pengangguran terbuka sebanyak 6,33 persen. Lalu menurun menjadi 4.34 persen pada 2011, naik kembali menjadi 5.05 persen di tahun selanjutnya, dan terus meningkat hingga pada 2017 naik menjadi 6,72 persen dan 2018 naik 8,93 persen.

“Pada 2018, jumlah angkatan kerja 604.831 jiwa, penduduk bekerja yang terserap hanya 550.813. Sisanya sebanyak 54.018 warga Batam pada tahun itu pengangguran,” jelas Irfan.

Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Batam, Rudi Sakyakirti, mengatakan besar upaya yang diterapkan di Batam menjadi faktor utama serbuan pencari kerja luar daerah ke Batam.

Hal ini terbukti dari data kartu pencari kerja (AK1) yang dikeluarkan setiap tahunnya. Berdasarkan data kurang lebih 30-40 ribu pencaker berebut kesempatan kerja, sedangkan yang terserap sekitar 20-25 ribu pencari kerja.

“Ini yang lapor. Yang tidak banyak juga. Jadi, angkanya beberapa tahun ini hampir sama,” kata Rudi Sakyakirti, Jumat (18/10).

Ia menjelaskan, setiap tahun ada kenaikan upah kerja dan hal ini selalu menjadi alasan pencari kerja luar datang ke Batam. Menurutnya perkembangan kebutuhan dan ketersediaan lowongan kerja mengalami penurunan bila dibandingkan belasan tahun lalu.

“Dulu perusahaan yang cari pencaker. Sekarang ribuan pencaker bersaing setiap hari memperebutkan lowongan yang tidak banyak. Yang dibutuhkan seratus yang antar lamaran seribu,” ujarnya.

Tidak saja itu, faktor perkembangan sektor industri juga memberikan dampak terhadap pemutusan hubungan kerja. Sepanjang tahun 2013-2018 banyak kasus PHK dengan berbagai kasus.

“Puncaknya itu 2018. Lebih dari 6.900 karyawan dirumah-kan,” terang Rudi.

Lanjutnya, persoalan pencari kerja dan lowongan kerja merupakan permasalahan yang selalu terjadi. Tidak saja di Batam, tetapi juga di Indonesia.

Di Batam, hampir 60 persen pencari kerja berasal dari luar kota, sedangkan 40 persen lokal. Persoalan lainnya adalah mereka datang ke sini tidak memiliki keterampilan sesuai dengan kebutuhan industri yang ada.

Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Batam, Said Khaidar, mengatakan Batam merupakan salah satu kota dengan perpindahan penduduk yang cukup tinggi.

Hal ini berdasarkan surat pindah masuk yang diterima setiap harinya. Berdasarkan bidang pelayanan dalam satu hari pengajuan pindah masuk bisa mencapai 200 pengajuan per hari. Hal itu juga tidak jauh berbeda dengan surat pindah keluar.

“Setiap tahun tidak jauh berbeda. Sebulan yang pindah bisa mencapai tiga hingga empat ribu warga baik datang ataupun keluar,” sebutnya. (cha/leo/yui)