batampos.co.id – Faktor kemiskinan dan kurangnya pengetahuan mengenai pemberian asupan gizi yang cukup kepada anak menjadi penyebab kasus stunting (gangguan pertumbuhan) di Batam.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Batam, Didi Kusmarjadi, mengatakan, banyak dari orangtua balita yang menderita stunting atau bisa juga disebut kerdil, karena tidak mengetahui kebutuhan anak, terutama soal asupan gizinya.

”Kasus paling banyak itu di hinterland (pesisir, red), kalau di perkotaan ada tapi jumlahnya tak sebanyak di sana,” jelasnya, Senin (21/10/2019).

“Kadang kalau ada kasus di kota, itu orang pendatang ke Batam,” kata Didi lagi.

Selama ini, berdasarkan temuan, orangtua tidak memiliki uang untuk membelikan susu dan makanan bergizi sesuai kebutuhan anaknya. Akibatnya, memengaruhi pertumbuhan anak.

”Banyak dari mereka begitu. Jadi, karena tidak paham dan uang tak ada untuk beli susu. Dua faktor inilah yang mengakibatkan anak stunting,” sebutnya.

Dinas Kesehatan kota Batam mencatat Kasus stunting atau kekerdilan banyak dialami anak-anak di hinterland. Ilustrasi: Jawa Pos

Upaya yang bisa dilakukan Dinkes adalah memberikan makanan pendamping agar asupan gizi anak bisa terpenuhi kembali.

Kegiatan ini sudah dilakukan setiap tahun. Selain itu, ada juga kader dan petugas puskesmas yang turun langsung ke lapangan memberikan sosialisasi mengenai penyebab stunting.

”Kalau anak tidak mengkonsumsi ASI eksklusif, berarti orangtua harus memenuhi dengan penggunaan susu formula,” jelasnya.

“Nah, ini orangtua banyak yang tak sanggup karena mahal. Tak sedikit orangtua yang mengganti dengan susu kental manis. Itu karena faktor kemiskinan tadi,” ungkap Didi lagi.

Didi menambahkan, meskipun angka persentase stunting terbilang rendah yaitu 1,9 persen, pihaknya berharap stunting di Batam bisa terus ditekan.

Orangtua harus lebih peduli dengan kondisi anak. Ia meminta orangtua rajin memeriksakan diri sejak hamil, hingga pemberian ASI eksklusif setelah anak lahir.

”Kalau tak bisa ASI, ya harus pakai susu pengganti agar gizi anak tetap terpenuhi,” ucap dokter spesialis kandungan ini.

Sebelumnya, pada triwulan ketiga 2019, Dinas Kesehatan (Dinkes) Batam menemukan sedikitnya 1.603 kasus stunting di Kota Batam.(yui)