batampos.co.id – Kepala Bidang Destinasi, Dinas Pariwisata Pemkab Natuna, Irlizar, mengatakan, dari delapan geosite yang ditetapkan peme-rintah, Gunung Ranai beserta kawasannya termasuk salah satu geosite geopark nasional.
Irlizar mengatakan, kawasan tersebut termasuk Gunung Bendung di Kecamatan Bu-nguran Timur Laut. Untuk mendukung ini, kawasan tersebut perlu dilestarikan agar tidak rusak.
”Kenapa Gunung Ranai ini masuk geosite geopark nasional? Karena terdapat warisan geologinya. Pemerintah mengharapkan upaya pelestarian geosite dilakukan bersama masyarakat,” kata Irlizar, Senin (21/10/2019).
Dalam penentuan geosite Gunung Ranai, sambungnya, karena melengkapi tempat habitat satwa dan fauna langka di Natuna. Salah satunya kekah, dan tumbuhan langka lainnya. Bahkan di puncak Gunung Ranai terdapat bongkahan besar batu granit yang memiliki warisan geologi.
Irlizar menambahkan, pemerintah sangat mengharapkan adanya pembatasan dan kesadaran masyarakat agar tidak melakukan penebangan kayu maupun memecah batu granit yang dapat merusak nilai warisan geologi.

”Pemerintah tidak melarang rutinitas warga membakar batu untuk material bangunan, hanya saja hindari zona geosite. Dan ikuti regulasi yang diatur pemerintah,” imbaunya.
Masuknya Natuna dalam kawasan geosite nasional karena memiliki keragaman geologi, hayati, dan budaya. Termasuk kuliner tradisional Natuna yang masuk unsur dalam geopark yang perlu dilestarikan.
Tidak hanya upaya pelesta-rian alam, tapi masyarakat juga harus cermat memanfaatkan geosite sebagai penunjang ekonomi. Karena batu granit di kawasan geosite tidak perlu dipecah lagi, tapi sudah dijadikan tempat wisata yang lebih bermanfaat.
”Geopark ini berorientasi pada pembangunan ekonomi berkelanjutan. Batu dan pantai sudah jadi tontonan. Mi-salnya geosite Pantai Batu Kasah, Pantai dan Gua Kama, kawasan Senubing, Pulau Senoa, Pulau Akar, Pulau Setanau,” ujarnya. (arn)
