Berencana traveling ke Vietnam? mungkin Sa pa, Lao Cai bisa jadi pilihan. Provinsi yang berada di Vietnam Utara yang berbatasan langsung Tiongkok ini menawarkan wisata alam, mulai dari hiking ke gunung, tracking, bukit, lembah, dan sawah berundak tersusun rapi. Jangan lupa mampir di Desa Cat-cat, salah satu desa yang dihuni suku minoritas H’mong.

Yulianti, Vietnam.

Kabut awan membungkus kota Sa pa saat penulis tiba di Sa Pa Station Bus pukul 03.00 waktu Vietnam. Hawa dingin terasa mencengkram meski tubuh dilapisi dua lembar baju dan jaket.

Dini hari itu, kota Sa pa tampak sepi. Hanya ditemui beberapa orang lokal yang sedang menyeruput kopi dan teh di tenda tak jauh dari terminal.

Begitupun jalanan terlihat lengang. Tak lebih dari lima kendaraan yang lalu lalang.

Terletak di ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut, Sa Pa memiliki udara dingin berkisar 15-18 derajat celcius.

Karena terletak di lereng Gunung Fansipan (gunung tertinggi se-Indocina, red), kota ini hampir diselimuti kabut saat malam dan pagi hari.

“Di sini memang dingin. Berbeda dengan Kota Hanoi,” ujar penjaga hotel.

Pagi hari, selepas membersihkan diri, Batam Pos berjalan-jalan santai di sekitaran hotel tempat menginap. Pagi itu, udara masih dingin menusuk tulang, meski sudah pukul 07.30 pagi, Sapa masih diselimuti kabut awan. Benar-benar dingin, udaranya mirip puncak, Bogor.

Alun-alun Kota Sa Pa Vietnam. Foto: Yulianti/batampos.co.id

Kota ini tertata rapi, lingkungannya cukup bersih. Di tengah kota terdapat danau hijau yang disebut Sa Pa Lake.

Di sini, warga lokal dan turis biasa beraktivitas santai. Di sisi danau dibuatkan pedestrian yang diperuntukkan jalan santai serta jogging mengelilingi danau.

Tak jauh dari Sa Pa Lake, terdapat sebuah alun-alun. Di sini kita bisa menemukan perempuan suku Black H’mong yang menjajakan aksesoris dan pernak-pernik buatan mereka sendiri.

Mereka tak segan memaksa pengunjung untuk membeli pernak-pernik itu dan membuat turis seperti penulis tidak nyaman.

Di sisi kiri alun-alun terdapat gereja tua yang biasa menjadi spot foto. Juga ada Sa Pa Museum berlokasi di belakang kantor Touris Center.

Di sini kita melihat sejarah dan beberapa alat tradisional Vietnam dan suku Black H’mong.

Puas mengelilingi kota, saatnya bergeser ke Desa Cat-cat, salah satu objek wisata yang tak boleh ketinggalan saat berkunjung ke Sa Pa.

Desa CAt-cat ini tak jauh dari Kota Sa Pa. Hanya 10 menit mengendarai sepeda motor. Untuk masuk ke desa ini, kita harus membeli tiket seharga 70 VND.

Ibu suku Black H’mong, Vietnam. Foto: Yulitavia/batampos.co.id

Menyusuri desa ini kita harus menuruni ratusan anak tangga. Saat musim hujan, pijakan kita harus kuat, jika tidak bisa terpleset.

Selama menuruni anak tangga, kita disuguhkan pemandangan alam yang memuaskan mata.

Mulai dari hijaunya lembah, warna-warni bunga, undakan sawah seperti Ubud Bali, ladang hingga aliran sungai yang terlihat tampak bergaris di bawah bukit.

Tak hanya itu, di objek wisata ini terdapat taman bunga yang menjadi spot foto. Kemudian jauh menuruni anak tangga, kita akan sampai di sebuah pemukiman kuno orang-orang penting Black H’mong.

Tepat di sampingnya kita akan menemukan air terjun Cat-cat. Bagi pengunjung yang suka berselfie, di sini terdapat spot foto yang sudah disediakan pengelola.

Bagi traveller yang suka dengan hal-hal yang berbau tradisional, bisa melihat langsung ibu-ibu suku Black H’mong merajut benang.

Deretan hotel berjejer di tepi SaPa Lake. Foto: Yulianti/batampos.co.id

Juga anak muda suku Black H’mong yang menarikan tarian tradisonal dengan iringan musik yang unik.

Traveling ke Sa Pa rasanya tak lengkap jika tidak menyapa gunung tertinggi di kawasan Indochina, Fansipan.

Rupanya gunung ini menjadi destinasi wisata utama di Vietnam bagian utara. Keberadaan Fansipan tentunya menantang para traveler dan pendaki untuk menaklukannya.

Meski tingginya mencapai 3.143 meter Fansipan bisa ditaklukkan dengan hadirnya cable car hanya dengan 20 menit.

Dari atas cable car, kita bisa menyaksikan pemandangan landskap lembah Muong Hoa yang tampak cantik dari atas.

Ada puluhan sawah terasering yang kemudian berubah jadi bukit – bukit hijau, diselingi sungai yang meliuk-liuk bak ular hingga akhirnya pemandangan ini berubah menjadi perbukitan yang mengarah ke gunung.

Menikmati alam Sa Pa tak sampai di situ saja. Ada air terjun yang disebut waterfall. Lokasi air terjun ini cukup jauh dari pusat Kota Sa Pa.

Waterfall ini dekat dengan area gunung Fansipan. berkunjung ke objek ini bisa menggunakan kendaraan motor yang bisa di sewa dengan harga 100 VND per 24 jam. Dari pusat kota, kita menempuh waktu hampir 30 menit.

Saat berkendara suhu udara semakin dingin. Apalagi ketika berkunjung, Sa Pa tengah hujan, sehingga sangat disarankan untuk menggunakan jaket tebal. (*)