Kamis, 9 April 2026

Sumpah Pemuda Zaman Now, Ini Pesan Kapolresta Barelang

Berita Terkait

batampos.co.id– Tanggal 28 Oktober diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda yang menjadi salah satu tonggak utama dalam lahirnya kata persatuan dan kesatuan, serta lahirnya bangsa Indonesia.

Hal itu tentunya harus menjadi semangat masyarakat khususnya pemuda hingga saat ini.

Kapolresta Barelang, AKBP Prasetyo Rachmat Purboyo, mengatakan, Sumpah Pemuda masih sangat relevan hingga saat ini.

Sebab, kata dia, Sumpah Pemuda diangkat dari nilai-nilai luhur bangsa pada saat lahirnya Sumpah Pemuda hingga saat ini.

Dimana, tantangan pada saat itu adalah perjuangan dalam memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan.

“Tetapi saat ini di era milennial, mari kita isi kemerdekaan yang sudah mengorbankan darah hingga nyawa, dengan pembangunan,” seru Kapolres.

Pemuda di era milenial ini diharapkan untuk terus berkarya, menggapai prestasi dan melanjutkan pembangunan untuk indonesia yang lebih sejahtera.

Meski pada kenyataannya saat ini persatuan dan kesatuan tergerus dengan globalisasi.

“Dalam momen yang berbahagia ini, di momen Sumpah Pemuda harus kembali kita eratkan, kita kokohkan, kita pupuk kembali, persatuan dan kesatuan bangsa, khususnya generasi muda,” tuturnya.

Kapolresta Barelang AKBP Prasetyo Rachmat Purboyo. Foto: Cecep Mulyana./batampos.co.id

Sebab, lanjutnya, kedepan generasi muda yang akan memegang tongkat kepemimpinan bangsa.

Karena itu, Prasetyo mengajak kepada seluruh pihak yang terkait untuk mempersiapkan generasi muda di Kota Batam lebih baik lagi dalam menghadapi perkembangan zaman.

Meski fakta yang terjadi saat ini adalah tidak adanya sikap menghargai perbedaan. Para pemuda lebih mengutamakan kelompok tertentu, eksklusifitas kelompok hingga primordialisme.

Sehingga tonggak persatuan dan kesatuan yang tertanan didalam Sumpah Pemuda mulai luntur.

“Padahal semangatnya adalah sumpah pemuda menghilangkan perbedaan dan mengucapkan satu kata bangsa indonesia,” jelasnya.

“Tapi kalau sekarang selalu kelompok saya yang paling hebat, kelompok saya yang paling super, dan segala macam. Jadi kurang menerima perbedaan dari kelompok lain,” jelasnya.

Karena adanya kebanggaan yang sempit terhadap sebuah kelompok, sering terjadinya tawuran antar pelajar dengan anggapan bahwa sekolah mereka lebih hebat dari sekolah lain.

Dengan fakta tersebut, tentunya ini yang jadi pekerjaan rumah pihak terkait kedepannya untuk menanamkan kembali semangat persatuan dan kesatuan.

“Tahun 1928 saat lahirnya Sumpah Pemuda, anak-anak dari berbagai daerah yang jauhnya tidak terbayang,” paparnya.

“Ada orang Papua, Melayu dan lainnya berkumpul di Jakarta. Mereka tidak memperdulikan seberapa jauh perjalanan yang harus ditempuh. Tapi dengan semangat satu untuk indonesia, itu semua mereka lalui,” jelasnya.

Dengan adanya perkembangan teknologi saat ini, menurut Prasetyo tentunya bisa lebih mudah dalam mempersatukan seluruh pemuda di Indonesia.

Salah satu contoh pemersatuan itu bisa dilakukan melalui media sosial Facebook dengan fitur yang sudah disediakan.

Facebook itu harusnya digunakan sebagai ajang untuk mempersatukan kesatuan. Tetapi kita sekarang melihat ada sedikit menyimpang bahwa grup tersebut digunakan untuk saling menghina, saling membuat perbedaan yang bisa memperbesar jarak antara kelompok dengan kelompok lain,” ujarnya.

Untuk itu permasalahan ini yang harus disadari bersama untuk dipupuk kembali semangat persatuan dan kesatuan bahwa Indonesia adalah satu dan bangsa indonesia.

“Kita harus lebih mementingkan kepentingan negara ini dibandingkan kepentingan golongan,” imbuhnya.(gie)

Update