Sabtu, 11 April 2026

Manusia 10 Juta Dolar

Berita Terkait

batampos.co.id – ABU Bakr al-Baghdadi, sang pemimpin ISIS, disebut-sebut sebagai orang paling dicari di seluruh dunia.

Pada bulan Oktober 2011, Amerika Serikat secara resmi menetapkan ia sebagai teroris dan menawarkan hadiah uang sebesar 10 juta dolar AS (Rp140 miliar) untuk informasi yang mengarah pada penangkapannya atau kematiannya.

Baghdadi punya reputasi sebagai ahli strategi di medan perang yang sangat terorganisir dan bengis. Ia dilahirkan di dekat Samarra, sebelah utara Baghdad, pada tahun 1971.

Nama aslinya adalah Ibrahim Awad al-Badri.

Berbagai laporan menyebutkan ia menjadi imam di sebuah masjid di kota tersebut selama invasi yang dipimpin Amerika Serikat pada 2003.

Beberapa kalangan percaya bahwa ia sudah menjadi jihadis militan selama Saddam Hussein berkuasa. Yang lain menduga ia teradikalisasi selama empat tahun ditahan di Camp Bucca, fasilitas AS di Irak selatan tempat banyak komandan al-Qaeda ditahan.

Ia muncul pada tahun 2010 sebagai pemimpin al-Qaeda di Irak, salah satu grup yang melebur dengan ISIS, dan menjadi terkenal dalam upaya merger dengan Front al-Nusra di Suriah.

PRESIDEN Amerika Serikat, Donald Trump, menyampaikan ketera­ngan resmi terkait tewasnya pemimpin ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi, di Gedung Putih, Washington DC, Minggu (27/10) waktu setempat.
F. JIM WATSON/AFP

Tanggal 5 Juli 2014, Abu Bakr al-Baghdadi, yang dikenal di antara para pendukungnya sebagai Khalifah Ibrahim, untuk pertama kalinya memperlihatkan wajahnya pada khotbah hari Jumat di Mosul, Irak.

Sebelumnya beberapa fotonya memang dibocorkan, tetapi Baghdadi sendiri tidak tampil di muka umum selama empat tahun sejak menjadi pemimpin ISIS.

Sebelum April 2013, Baghdadi juga tidak terlalu banyak mengeluarkan pesan audio.
Pernyataan tertulis pertamanya adalah sambutannya terhadap tewasnya Osama Bin Laden pada bulan Mei 2011.

Pesan audio pertamanya dikeluarkan bulan Juli 2012, berisi ramalan kemenangan Negara Islam di masa depan.

Sejak kemunculan kelompok tersebut, informasi tentang Baghdadi yang disediakan untuk media meningkat.

Jumlah informasi khusus tentang latar belakangnya juga bertambah.

Bulan Juli 2013, ahli ideologi asal Bahrain, Turki al-Binali, yang menggunakan nama Abu Humam Bakr bin Abd al-Aziz al-Athari, menulis biografi Baghdadi terutama untuk menggarisbawahi sejarah keluarga Baghdadi.

Dia mengklaim, Baghdadi adalah keturunan Nabi Muhammad, salah satu persyaratan kunci dalam sejarah Islam untuk menjadi khalifah atau pemimpin semua warga Muslim.

Sebelumnya tidak begitu banyak foto Baghdadi yang beredar. Baghdadi dikatakan berasal dari suku al-Bu Badri, yang sebagian besar berada di Samarra dan Diyala, Baghdad utara dan timur, dan secara historis penduduknya dikenal sebagai keturunan Muhammad.

Turki al-Binali kemudian menyebut bahwa sebelum invasi Amerika Serikat terhadap Irak, Baghdadi menerima gelar doktor dari Universitas Islam Baghdad, yang memusatkan kajian pada kebudayaan, sejarah, hukum dan jurisprudensi Islam.

Baghdadi sempat berkhotbah di Masjid Imam Ahmad ibn Hanbal di Samarra.
Dia memang tidak memiliki gelar dari lembaga keagamaan Sunni seperti Universitas al-Azhar di Kairo atau Universitas Islam Madinah di Arab Saudi.

Meskipun demikian dia lebih memiliki pengalaman pendidikan Islam tradisional dibandingkan pemimpin al-Qaida, Osama Bin Laden dan Ayman al-Zawahiri, yang keduanya adalah orang biasa, insinyur dan dokter. Karena itulah Baghdadi menerima pujian dan legitimasi yang lebih tinggi di antara pendukungnya.

Awal Mula ISIS

Setelah invasi AS terhadap Irak di tahun 2003, Baghdadi dan beberapa rekannya mendirikan Jamaat Jaysh Ahl al-Sunnah wa-l-Jamaah (JJASJ), Angkatan Bersenjata Kelompok Warga Sunni, yang beroperasi dari Samarra, Diyala, dan Baghdad.
Negara Islam berusaha menguasai daerah kaya minyak di Irak dan Suriah. Di dalam kelompok ini, Baghdadi menjadi pemimpin dewan hukum. Pasukan pimpinan AS menahannya dari bulan Februari-Desember 2004, tetapi membebaskannya karena Baghdadi tidak dianggap sebagai ancaman tingkat tinggi.

Mengikuti jejak al-Qaida di Tanah Dua Sungai mengubah nama menjadi Majlis Shura al-Mujahidin (Dewan Syura Mujahidin) pada permulaan tahun 2006, pimpinan JJASJ menyatakan dukunganya dan penggabungan diri.

Di dalam struktur baru, Baghdadi bergabung dalam dewan hukum.

Tetapi tidak lama kemudian organisasi mengumumkan perubahan nama kembali di akhir tahun 2006 menjadi Negara Islam Irak (ISI), Baghdadi menjadi pengurus umum dewan hukum provinsi di dalam “negara” baru di samping anggota dewan penasehat senior ISI. Ketika pimpinan ISI, Abu Umar al-Baghdadi, meninggal pada April 2010, Abu Bakr al-Baghdadi menggantikannya.

Pada 8 April 2013, Abu Bakr Al-Baghdadi mendeklarasikan penggabungan pasukan ISI di Irak dan Suriah. Ia juga mengklaim bahwa Front Al-Nusra adalah kepanjangan tangan ISI di Suriah. Inilah yang kemudian kita kenal sebagai Islamic State in Irak and Syria (ISIS).

“ISIS akan tetap berdiri, selama darah di tubuh kami masih mengalir dan mata masih berkedip. Kami tak akan berkompromi atau menyerah,” tegas Abu Bakr sebagaimana dikutip kantor berita Aljazeera. (BBC/Reuters/Aljazeera)

Update