batampos.co.id – Pertumbuhan eceng gondok yang sangat cepat di Waduk Duriangkang membuat Pemko Batam dan Badan Pengusahaan (BP) Batam khawatir akan mempengaruhi jumlah tampungan air baku sekaligus penurunan kualitas air.

Makanya, kedua instansi pemerintah yang sekarang sudah berada dalam satu komando ini bertemu di Gedung Marketing BP Batam, Selasa (29/10/2019) untuk membahas langkah yang diperlukan untuk mengatasi persoalan ini. Solusi utama adalah membersihkannya.

Wakil Walikota Batam, Amsakar Achmad, mengatakan, rencana pembersihan eceng gondok akan dimulai pada akhir November nanti.

Kecepatan pertumbuhannya yang luar biasa harus diwaspadai.

“Ada 180 hektar dari 2.000 hektar lahan waduk tersebut yang ditumbuhi eceng gondok,” jelasnya.

“Ini akan dibersihkan demi menjaga agar ketersediaan air bersih di Batam tetap terjaga,” katanya lagi.

Sebelum rencana tersebut dieksekusi, BP Batam akan mendatangkan pakar lingkungan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk memberikan masukan yang presisi mengenai rencana bersih-bersih ini.

Persoalan Eceng Gondok yang masih menghantui Dam Duriangkang. BP Batam akan melibatkan LIPI untuk mengatasi eceng gondok di waduk-waduk di Kota Batam. Dokumentasi Humas PT ATB untuk batampos.co.id

“Nanti BP datangkan pakar dari LIPI. Karena kalau diembat semua, justru akan ada persoalan, seperti gulma-gulma yang mengandung racun itu hanya eceng gondok yang bisa atasinya,” jelas Amsakar.

Adapun dampak negatif eceng gondok terhadap waduk tersebut yakni mengurangi jumlah oksigen dalam air.

Pertumbuhannya yang begitu cepat dapat menghalangi jumlah cahaya masuk ke air sehingga menyebabkan tingkat kelaruran oksigen berkurang.

Kemudian menyebabkan perairan menjadi dangkal karena sisa bangkainya akan mengendap menjadi sedimen. Secara otomatis, akan mengurangi jumlah air juga.

Dalam rencana bersih-bersih ini, Pemko dan BP akan mengajak TNI, polisi, damkar, pasukan kuning dan karang taruna.

“Kalau soal berenang pasukan kuning ini tak bisa. Kerjanya nanti standby diatas ambil sampah. Sementara yang di waduk nanti hanya yang jago berenang,” ungkapnya.

Kerja tim terpadu ini nanti akan dibantu oleh satu unit harvester yang akan menyisir eceng gondok di waduk.

Satu hal yang patut disayangkan yakni eceng gondok di waduk terbesar di Batam ini tidak bisa dibudidayakan atau dijadikan barang bernilai ekonomis.

“Jenisnya beda, tangkainya pendek-pendek sehingga tak bisa diberdayakan,” ucapnya.

Di tempat yang sama, Kepala Kantor Pengelolaan Air dan Limbah BP Batam, Binsar Tambunan mengatakan jika persoalan eceng gondok ini tak segera teratasi, maka akan menimbulkan persoalan besar.

“Nanti volume waduk bisa berkurang, karena Duriangkang ini mensuplai 70 persen kebutuhan air di Batam. Jangan sampai terkendala karena nanti bisa rationing di seluruh Batam,” ungkapnya.

Sebagai gambaran, dalam satu hari nanti tim terpadu ini akan menyisir eceng gondok seluas 4000 meter atau setengah hektar.

“Kami akan kasih floating barrier, jadi eceng gondoknya dilokalisir agar tak menyebar karena angin,” harapnya.(leo)