batampos.co.id – Memasuki musim penghujan, warga Batam diminta mewaspadai berkembangnya jentik nyamuk aedes aegepty yang menyebabkan demam berdarah dangue (DBD).

“Memang ini fasenya ya. Setiap peralihan cuaca kasus DBD selalu naik dan turun,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Batam, Didi Kusmarjadi, Selasa (29/10/2019).

“Untuk itu, jangan lupa perilaku hidup sehat untuk mencegah berkembangnya jentik nyamuk ini,” jelasnya lagi.

Meskipun grafik penderita DBD cenderung menurun hingga Oktober 2019 ini, namun masyarakat tetap harus waspada.

Selama ini, banyak kasus DBD ditemukan sudah fase positif, bahkan terkadang suka terlambat berobat dan datang ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

“Biasanya anak-anak ini. Orangtua kadang agak terlambat menyadari sehingga ketika tiba di rumah sakit, sudah dalam lemas sekali,” ujarnya.

Didi menyebutkan, untuk anak-anak lebih rentan terkena DBD karena memang sistem imun tubuh mereka yang belum kuat.

Ilustrasi

Orangtua yang melihat kondisi anaknya demam tinggi diminta segera membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

“Jangan lalai. Karena demam tinggi, terus turun, jadi tidak dibawa ke rumah sakit untuk dicek,” paparnya.

“Ini sebenarnya fase yang harus diwaspadai. Harus segera ditangani,” bebernya lagi.

Selain demam tinggi mendadak, pasien akan merasakan gejala lain seperti nyeri otot, sakit kepala, mual dan muntah, serta rasa sakit di belakang mata.

Biasanya demam ini akan terjadi selama 2 sampai 7 hari. Setelah melewati fase demam, pasien DBD akan mengalami fase kritis.

Sama seperti namanya, fase kritis menandakan kondisi serius yang perlu pengobatan segera.

Pasalnya, pada beberapa kasus, pasien sering kali mengalami perdarahan dan kebocoran plasma darah.

Kondisi ini terjadi akibat plasma darah keluar dari saluran pembuluh darah karena celah pada sel endotel terus membesar.

“Ini penting diwaspadai. Makanya harus cepat ke dokter jika merasakan gejala se-perti itu,” sebut Didi.

Untuk menekan angka penderita DBD, dokter spesialis kandungan ini mengungkapkan tentang perlunya perilaku hidup sehat, serta menerapkan 4M plus yang sudah sering diinformasikan.

“Terutama tempat yang bisa berpotensi menampung air. Bisa botol, kaleng atau peralatan lainnya. Ini yang harus rutin dicek dan ditutup atau dikubur,” tambahnya.(yui)