BICARA tentang ke­pemimpinan, kita sering terlalu susah-pa­yah menemukan definisi yang tepat. Berbagai buku dan literatur kerap membuat kita ke­bingungan karena ba­nyak sekali prinsip-prinsip yang harus ki­ta pahami. Sering pula kita mencari inspirasi untuk ditiru dan dijalankan. Padahal, dalam Is­lam, hal itu sudah disediakan dan amat dekat dengan diri kita.
Seorang dosen Universitas Indonesia, Arry Rahmawan, pernah menulis dalam blognya tentang inspirasi kepemimpinan dalam Islam.

Bahkan menurutnya, tak perlulah jauh-jauh mencari inspirasi bagaimana menjadi seorang pemimpin berpengaruh. Cukup menerapkan prinsip-prinsip yang terkandung dalam rukun Islam. Apa saja?

Syahadat-Visioner

Syahahat ini berisi pengakuan, yakni pengakuan akan keesaan Allah (Tuhan), yang dapat dimaknai sebabai prinsip “visioner”. Seorang pemimpin mestilah memiliki visi jauh ke depan. Dia harus seorang yang visioner. Sebab, dalam Islam, syahadat itu sendiri bermakna sebuah kesaksian dan pengakuan bahwa “Tiada Tuhan selain Allah dan (Nabi) Muhammad adalah utusan-Nya,” sehingga harus dijadikan sebagai tujuan akhir.

Ini bermakna sangat dalam. Di saat kita, ummat Muslim, sudah mengakui ke-Esaan Allah dan Muhammad sebagai Nabiyullah, maka saat itulah kita sebenarnya sudah memiliki komitmen untuk terus menjadikan Allah sebagai tujuan segala pencapaian yang akan kita raih. Bahwa di setiap langkah yang akan kita lakukan ke depan, kita yakini akan ada campur tangan Allah di dalamnya, serta kita serahkan sepenuhnya kepada Allah melalui syafaat Nabiyullah Muhammad SAW.

Pemimpin yang sudah meletakkan visi menjadikan Allah sebagai tujuan dan mencari syafaat dari Nabiyullah Muhammad SAW, maka dalam setiap tingkah-laku dan upaya mencapai kerja-kerja ke depan, tidak akan lari dari visi besar mencari ridha Allah. Apapun yang akan dilakukannya dalam memimpin, akan selaku merasa bahwa dirinya diawasi oleh Allah, Tuhan Yang Maha Esa, dan berada di bawah syafaat Nabiyullah Muhammad SAW. Visi besar seorang pemimpin adalah bahwa kelak dia akan kembali menuju Allah SWT, sebagai mana tuntutan dalam Islam, “Setiap kamu adalah pemimpin, dan akan diminta pertanggungjawaban (nanti di akhirat) atas apa yang kamu pimpin.”

Salat-Disiplin

Jika tidak didalami, kita sering terjebak pada pemahaman bahwa salat yang kita lakukan 5 kali sehari-semalam, minimal, adalah sebagai rutinitas saja. Banyak yang menganggap bahwa salat hanya mengandung gerakan sehat semata, doa-doa yang baik saja, padahal mendirikan salat ini dapat dijadikan sebagai latihan menuju pribadi yang disiplin.
Salat mengajarkan kita menepati waktu. Seorang pemimpin, mestilah membekali dirinya dengan kedisiplinan sebelum dia mendisplinkan orang lain. Di dalam salat pun ada aturan main. Ada rukunnya, ada waktunya, ada tata caranya. Ada tertibnya. Tidak boleh sesuka kita. Tidak boleh juga mendahului waktunya, juga menunda-nundanya. Disiplin waktu dalam salat ini akan mengajarkan pemimpin lebih disiplin dan menghargai waktu pula.

Puasa-Integritas

Ketika berpuasa, tak seorang pun benar-benar tahu bahwa apakah Anda sedang berpuasa atau tidak. Apakah Anda diam-diam membatalkannya, misalnya makan atau minum secara sembunyi-sembunyi atau tidak. Hanya Anda dan Allah yang tahu. Maka, di sinilah integritas Anda diuji dan diperlukan dalam menjalankan puasa. Baik puasa wajib di bulan Ramadan maupun puasa-puasa sunat lainnya.

Hanya orang-orang berintegritaslah yang dapat menjalankan puasa yang hanya diketahui oleh Allah dan dirinya. Seorang pemimpin harus memiliki integritas yang baik, yang bekerja dan memimpin dengan hati, dan tanggung jawab kepada Tuhannya. Meskipun kadang kala dia bisa bersandiwara di depan orang banyak, namun Allah Maha Tahu apa-apa yang dikerjakannya.

Zakat-Peduli

Rukun Islam ketiga ini mengandung makna kepedulian dan kepekaan. Berzakat melatih diri setiap muslim agar lebih welas asih dan mau berbagi kepada sesama. Zakat melatih kepekaan sosial. Seorang pemimpin mestilah memiliki sifat keduanya. Peduli dan peka, bukan cuek dan pekak. Apalagi hanya mementingkan diri sendiri.

Prinsip zakat juga me­ngan­dung upaya untuk memakmurkan. Rezeki yang dikeluarkan dalam berzakat adalah salah satu ikhtiar untuk mengurangi kekurangan si penerima zakat. Betapa besar potensi zakat ini sebetulnya, yang jika dikumpulkan dan disalurkan secara benar, diyakini akan mampu memakmurkan si miskin.

Dalam praktiknya, sering kita temukan pemimpin yang egois, hanya mementingkan dirinya sendiri, tanpa peduli dengan orang-orang yang dipimpinnya. Pemimpin seperti ini tentulah tidak cocok dijadikan sebagai pemimpin karena hanya akan meninggalkan luka di hati rakyatnya.

Berhaji-Rendah Hati

Menutupi uraiannya, Arry Rahmawan menulis berhaji merupakan aktivitas total bagi seorang muslim yang mampu untuk mempersiapkan harta, fisik, dan mental mereka untuk melaksanakan perintah Allah.

Berhaji ini mengandung makna pengorbanan, namun dapat pula dilihat mengandung nilai kesetaraan. Tak peduli siapapun Anda, dari mana berasal, apa warna kulit Anda, semua umat Nabi Muhammad yang sudah memenuhi syarat, wajib melaksanakan ibadah haji ke Tanah Suci.

Maknanya apa? Tak jarang, sebagai seorang pemimpin, terbesit keinginan untuk selalu disanjung, dipuji, disambut, dihormati, atau diperlakukan tinggi dibandingkan dengan orang pada umumnya. Padahal, Rasulullah sendiri pernah memberikan contoh bahwa sebagai pemimpin, bisa saja beliau dan para sahabat hidup kaya raya, naik haji kapan saja, namun mereka semua memilih hidup sederhana dan mengabdikan diri kepada rakyatnya.
Itulah prinsip-prinsip kepemimpinan dalam rukun Islam, yang tak perlu jauh-jauh mencari referensinya. Dia ada di sekitar kita. Dekat sekali. Semoga kita dapat meresapinya, pada level apapun kepemimpinan kita berada. (*)