batampos.co.id – Aktivitas Pasar Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) yang menempati bangunan Pasar Grand Niaga Mas, Batam Center, terlihat sepi sejak diresmikan.
Para pedagang mengaku mengalami kerugian karena sepinya pembeli. Lina, salah satu pedagang buah, mengaku lebih banyak menghabiskan waktunya duduk-duduk daripada berjualan.
Sebab, sejak diresmikan menjadi Pasar TPID oleh Pemko Batam, kini pasar yang letaknya dekat kawasan permukiman elite itu sepi pengunjung.
”Lihat sendiri lah (sepi),” ujar Lina, kemarin.
Jika sebelumnya Pasar Grand Niaga Mas sepi pengunjung, para pedagang berharap ketika pasar itu diubah oleh Pemko Batam menjadi Pasar TPID akan ramai.
Namun, perubahan itu pun seolah tidak ada kemajuan dalam hal meningkatkan jumlah pengunjung.
”Sabtu dan Minggu kita berharap ramai, tapi enggak juga,” terang Lina.
Agar mendongkrak jumlah pengunjung, Lina berharap pengelola atau pemerintah harusnya membuat acara atau kegiatan berkala di pasar tersebut.

”Bikinlah event, biar ramai pengunjung di Pasar TIPD ini,” harapnya.
Pedagang lainnya, Riki, menilai selama ini Pasar Niaga Mas sepi pengunjungnya.
”Sepertinya kurang sosialisasi dan promosi. Padahal TPID kan program pemerintah,” timpalnya.
Minimal, sebut Riki, event atau hiburan yang dibuat minimal sebulan sekali agar masyarakat tahu kalau ada Pasar TPID di situ.
”Kalau untuk harga, kita menyesuaikan. Lebih murah seribu atau dua ribu dari harga di Pasar Tos 3000 Jodoh,” kata pedagang ayam tersebut.
Untuk harga cabai merah keriting, saat ini Rp 50 ribu per kilogram (kg) dari sebelumnya Rp 60 ribu per kg. Cabi rawit hijau Rp 45 ribu per kg.
Cabai rawit setan Rp 75 ribu per kg dari sebelumnya Rp 80 ribu per kilogram. Sementara itu, untuk harga buah masih menyesuaikan dengan harga yang dibeli dari petani kebun.
Anggota Komisi II DPRD Batam Udin P Sihaloho menilai, pembangunan Pasar TIPD seharusnya melihat kondisi di sekitar.
Selain itu, pemerintah juga harus mampu mempelajari kondisi pasar berdasarkan pangsa pasarnya.
”Pembangunan pasar basah ini sangat tidak cocok di kawasan elit. Sama halnya pasar basah di Sukajadi. Mati juga kan. Seharusnya pemerintah bisa mempelajari ini,” kata Udin.
Sebagai kawasan elit, lanjutnya, masyarakatnya tentu lebih suka yang simpel ketimbang harus pergi ke pasar. Apalagi sekarang mau makan atau mau pesan apa saja sudah bisa diantar ke rumah.
”Jadi, kondisi ini juga harus diimbangi dan disesuaikan. Jangan sampai seperti ini, malah kerugian yang akan ditanggung,” ungkap Udin.(rng)
