batampos.co.id – Pelayanan medis yang kurang maksimal sering dijumpai pasien di berbagai klinik atau rumah sakit.
Mulai dari ribetnya administrasi pendaftaran hingga tidak maksimalnya pelayanan dari petugas kesehatan.
Penelusuran di lapangan, persoalan ini muncul umumnya karena upah pekerja layanan kesehatan tidak sesuai dengan bidang keahlian ataupun jenjang pendidikannya.
Padahal tugas dan tanggungjawan petugas medis sangat besar dan berisiko. Perawat misalkan untuk rumah sakit atau klinik swasta masih banyak bergaji dibawa Rp 3 juta.
Begitu juga tenaga honor di rumah sakit pemerintah seperti RSUD Embung Fatimah Batam gaji paling tinggi sekitar Rp 4 jutaan.
“Paling banyak yang Rp 3 juta ke bawah. Itu yang D3. Yang S1 tak banyak itu baru Rp 4 jutaan,” ujar sumber perawat honorer di RSUD Embung Fatimah Batam di Batuaji.
Bahkan untuk pegawai honorer lain yang masuk kategori nonmedis sebagai penunjang operasional rumah sakit gaji hanya sekitar Rp 2,5 juta.

Ini tentu sangat berdampak dengan kualitas layanan rumah sakit sebab perawat ataupun pegawai bergaji rendah lainnya kerja sesuai dengan upah yang didapat.
“Ya seperti itulah kenyataan selama ini. Yang sarjana gajinya lebih kecil dari yang tamat SMA,” jelasnya.
“(Tamatan SMA sederajat) kerja PT bergaji Rp 4 juta keatas sementara kami yang sarjana hanya Rp 3 juta,” ujar sumber itu lagi.
Rendahnya upah pekerja layanan kesehatan ini sudah lama terjadi namun mereka tak mampu berbuat banyak sebab sudah menjadi pilihan profesi.
Mereka telah berusaha memberikan pelayananan yang maksimal hanya saja karena persoalan upah yang rendah ini kerap berbenturan dengan tugas dan tanggungjawab mereka.
Baca Juga: Perawat Mitra Dokter Bukan Pembantu
Sebut saja telat masuk kerja ataupun sering tinggalkan tempat kerja karena, mereka harus mencari sumber penghasilan yang lain agar bisa menutupi kekurangan tadi.
“Banyak perawat yang buka layanan di luar atau jualan online. Nah inikan jadi persoalan juga,” paparnya.
“Saat ada panggilan dengan kerjaan tambahan itu jadi terganggu dengan kerjaan pokok tadi. Ya gimana lagi karena gaji pekerjaan pokok tidak sesuai,” kata sumber tersebut.
Rendahnya upah pekerja layanan medis ini juga mengharuskan sebagian petugas medis yang baru menyelesaikan pendidikan untuk mengabaikan profesi mereka.
Fress graduate bidang kesehatan cenderung mencari pekerja di perusahaan ketimbang klinik atau rumah sakit.
Itu karena upah yang didapat di perusahaan lebih besar dari di tempat layanan medis Beberapa waktu lalu saat Batam Pos meliput aktivitas pencari kerja di MPH Batamindo, mendapati tiga pencaker wanita yang berlatar belakang pendidikan sebagai perawat.
Mereka beradu nasib bersama ribuan pencaker tamatan SMA lainnya karena masalah upah tadi.
“Kecil gaji perawat. Apalagi di klinik atau rumah sakit swasta,” kata kata Dyah.
“Pernah kami lamar ke (salah satu rumah sakit swasta), gaji awal hanya Rp 2,5 juta. Padahal UMK sudah mau Rp 4 juta,” ujarnya lagi.
“Mendingan kami lamar di PT. (Perawat) Risiko kerja besar tapi gaji kecil,” paparnya.
Sebelumnya persoalan ini disampaikan pengurus Daerah Persatuan Perawat Nasional Indonesia (DPD PPNI).
Ketua DPW PPNI Kepri, Adil Candra, mengakui pendapatan perawat sangat minim. Kedepannta PPNI akan berupaya keras untuk menyetarakan gaji perawat sehingga profesi layanan medis ini lebih dihargai.
“Jujur perawat gajinya kalah jauh dengan pekerja di perusahaan. Padahal sekolahnya khusus. Ini lagi kami perjuangkan agar profesi perawat layak sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya,” ujarnya.(eja)
