batampos.co.id – Pengamat politik, Bismar Arianto, memprediksi Pilgub Kepri 2019 akan diikuti tiga pasangan kandidat.
“Kalau dilihat dari perkembangan sekarang, ada tiga tokoh yang menjabat sebagai pimpinan parpol, yang potensial bertarung pada pilkada,” ujar Bismar di Tanjungpinang, Senin (4/11/2019).
Tiga politikus yang memimpin partai dan dinilai cukup berpengaruh di Kepri yakni
- Ketua DPD PDIP Kepri Soerya Respationo,
- Ketua DPD Partai Golkar Kepri Ansar Ahmad,
- Sekretaris Partai NasDem Kepri Muhammad Rudi.
Soerya Respationo sudah memastikan akan berpasangan dengan Isdianto yang saat ini menjabat sebagai Pelaksana Tugas Gubernur Kepri. PKB dalam sejumlah kesempatan menyatakan berkoalisi dengan PDIP untuk menyokong pasangan ini.
“PDIP sebagai pemenang Pemilu 2019 di Kepri harus berkoalisi. Koalisi dengan PKB sudah memenuhi persyaratan,” kata Bismar, yang juga mantan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Maritim Raja Ali Haji Tanjungpinang itu.
Sementara Ketua DPD Partai Golkar Kepri Ansar Ahmad yang baru sekitar sebulan menjabat sebagai anggota DPR, dalam sepekan terakhir mendaftar sebagai calon gubernur dan wakil gubernur di Sekretariat Partai Golkar, Partai NasDem, dan Partai Gerindra.
Hal serupa juga dilakukan Wali Kota Batam Muhammad Rudi. Rudi mendaftar di Sekretariat Partai NasDem, Gerindra, dan Golkar.
“Apakah Ansar berpasangan dengan Rudi atau tidak? Kita belum mengetahuinya. Tetapi sikap politik para politisi itu perlahan-lahan sudah mulai mengerucut membentuk peta politik pilkada,” ucapnya.
Pertanyaan lain pun muncul ketika Rudi dianggap sebagai politikus yang memiliki nilai tawar yang tinggi karena memimpin Batam, yang jumlah pemilihnya lebih dari 50 persen di Kepri.
“Apakah Rudi mau jadi wakil dengan posisi tawar yang tinggi itu?” tuturnya.
Sementara mantan Gubernur Kepri Ismeth Abdulllah juga mendaftar di Partai Golkar dan Gerindra. Gerakan Ismeth menjelang pilkada cukup masif.
Sayangnya, sampai sekarang belum diketahui apakah ada partai yang mau mengusung Ismeth Abdullah pada pilkada. Jika tidak ada, maka pilihan satu-satunya adalah mencalonkan diri melalui jalur perseorangan.
“Ismeth atau kandidat lainnya harus mendapatkan dukungan 120 ribu pemilih jika ingin maju sebagai calon perseorangan pilkada,” katanya. (*/ant)
