Dirilisnya nama-nama “pembantu” Joko Widodo-Ma’ruf Amin dalam gerbong Kabinet Indonesia Maju banyak menuai pro dan kontra. Ada yang setuju, ada yang menolak.
Masuknya mantan lawan Jokowi dalam kabinet menimbulkan tanda tanya besar. Apa yang dilakukan Jokowi? Strategi apa yang dimainkan? Apakah? Ataukah? Apalah? Jangan-jangan?

Banyak spekulasi bermunculan. Apalagi Gerindra adalah “musuh” bebuyutan Jokowi, sapaan karib Joko Widodo. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Mau kontra atau tidak terima, susunan kabinet sudah diketuk.

Prabowo Subianto didapuk menjadi Menteri Pertahanan, sedangkan Edhy Prabowo Menteri Kelautan dan Perikanan. Dua jabatan itu sangat strategis. Diisi oleh rival.

Di Indonesia, hal seperti ini tidak lumrah. Biasanya, pihak yang kalah pemilihan presiden (pilpres) memilih menjadi oposisi. Tidak mau bergabung dengan pihak yang menang menjalankan pemerintahan. Tapi ini beda.

Bagaimanapun juga, Jokowi dan Prabowo adalah putra terbaik bangsa. Bagi saya mereka adalah seorang negarawan. Beda sikap dalam pilpres, satu suara dalam urusan membangun negara.

Saya memiliki keyakinan bahwa Indonesia akan semakin baik. Semua sektor diharapkan makin baik. Mulai dari ekonomi, keamanan, sosial, hingga stabilitas politik. Semoga ini menjadi pertanda bahwa bangsa ini sudah dewasa dalam berpolitik.

Saya pikir, Jokowi tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Prabowo adalah mantan tentara. Punya segudang pengalaman di dunia militer. Beberapa kali debat pilpres, visi-misi Jokowi dan Prabowo soal pertahanan negara sama saja.

Mungkin, kesamaan visi-misi inilah yang melatarbelakangi Jokowi merekrut Prabowo. Perkara ada misi tersembunyi, itu urusan belakang. Yang penting, mereka yang bertarung di pilpres sepakat bahwa bangsa dan negara adalah prioritas utama.

Di Kabinet Indonesia Maju juga ada nama Mahfud MD. Mantan ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu batal “jadian” dengan Jokowi. Bahkan dalam sebuah acara televisi swasta, Mahfud membuka “aib” prosesi pemilihan calon wakil presiden.

Tapi lihat apa yang terjadi, Mahfud legowo. Sebagai seorang negarawan, dia menerima tawaran menjadi menteri. Bahkan menjadi orang sipil pertama yang menjabat Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam).

Itulah politik. Tak ada lawan abadi. Begitu juga sebaliknya, tak ada kawan yang abadi. Semua keputusan politis dapat berubah-ubah sesuai dengan situasi dan kondisi. Tak masalah. Selama punya niatan sama membangun bangsa dan negara.

Oke. Persoalan lawan atau kawan sudah beres. Sekarang kita menunggu kerja-kerja pemerintah. Kita berharap Indonesia semakin baik di bawah gerbong Kabinet Indonesia Maju.

Semoga orang-orang hebat yang duduk di pemerintahan bekerja dengan baik. Segera merumuskan kebijakan yang mampu menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang besar dan berdaulat. (*)