batampos.co.id – Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto bersama Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Wahyu Sakti Trenggono berkunjung ke PT Pindad, Rabu (6/11/2019).

Lewat agenda itu, kedua pucuk pimpinan Kemhan ingin melihat langsung kemampuan idustri pertahanan (inhan) dalam negeri.

Menurut Trenggono, dia bersama Prabowo ingin memastikan setiap persoalan yang menghambat perkembangan inhan dalam negeri bisa diatasi.

”Kan kita juga ingin mengembangkan industri pertahanan nasional,” ungkap dia.

Itu penting agar inhan lokal mampu menyuplai kebutuhan angkatan bersenjata tanah air.
Sebelum berkunjung ke PT Pindad, pihaknya sudah lebih dulu bekoordinasi dengan Mabes TNI dan tiga matra TNI.

Sebagai pengguna alat utama sistem persenjataan (alutsista), pandangan Mabes TNI bersama ketiga matra TNI harus didengar.

”Kami diskusi lagi kira-kira perkembangan ke depan dari sisi kebutuhan alutsista,” imbuhnya.

Bukan hanya PT Pindad, Wahyu menyebutkan PT PAL dan PT Dirgantara Indonesia (PT DI).

Tiga BUMN tersebut memang ikut punya peranan dalam pemenuhan alutsista TNI. Misalnya PT PAL yang sudah bisa membangun kapal selam dan PT DI yang memproduksi pesawat untuk TNI AU.

Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto meninjau pasukan Komando Operasi Khusus (Koopssus) TNI saat diresmikan di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta, Selasa (30/7/2019). Foto: Miftahulhayat/Jawa Pos

Dia mengakui, ada banyak pekerjaan terkait dengan inhan dalam negeri. Namun demikian, semua masih didalami.

Tujuanya tidak lain supaya solusi yang ditemukan tepat dan efektif.

”Misalnya sudah sejauh mana kita punya kemampuan membangun kapal selam. Itu sedang kami dalami,” terang dia.

Walau belum lama bertugas, Trenggono memastikan bahwa dirinya dan Prabowo sudah bicara banyak soal alutsista.

Sebagaimana disampaikan oleh Prabowo ketika datang ke Mabes TNI, Kemhan punya komitmen untuk memperkuat TNI.

Salah satunya dengan memenuhi kebutuhan alutsista mereka. Di samping memastikan kesiapan inhan dalam negeri, dia mengungkapkan bahwa kerja sama pengadaan alutsista dengan negara-negara sahabat juga dievaluasi.

Contohnya pembangunan pesawat tempur yang dilaksa-nakan bersama Korea Selatan (Korsel).

”Itu kami sedang dalami, kami pelajari,” tutur Trenggono.

Dia menyampaikan bahwa proyek yang dikanal dengan KFX–IFX itu memakan banyak biaya.

Sehingga keputusan yang diambil terkait proyek tersebut tidak boleh sembarangan.

”Karena nilainya mahal,” tambahnya.

Yang pasti, Kemhan akan berusa sebaik mungkin untuk membuktikan komitmen memperkuat TNI.

Di Jakarta, kemarin Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto didampingi oleh KSAD Jenderal TNI Andika Perkasa, KSAL Laksamana TNI Siwi Sukma Adji, dan KSAU Marsekal TNI Yuyu Sutisna melaksanakan rapat kerja dengan Komisi I DPR.

Dalam kesempatan tersebut, Hadi juga sempat menyingung soal alutsista TNI. Seperti tercantum dalam rencana strategis (renstra) ketiga 2020–2024, pemenuhan alutsista tidak akan melenceng dari koridor.

”Tetap mengacu pada renstra,” imbuhnya.

Di antaranya dengan membangun fasilitas dan sarana prasarana untuk menunjang kebutuhan mereka.

Mulai sarana prasarana pengamanan daerah perbatasan, pulau terluar, serta daerag rawan sampai kelanjutan pembangunan kekuatan TNI di Natuna dan Selaru.

Selain itu, akan turut dilaksanakan pembangunan barang standby force serta sarana dan prasarana untuk Koopssus TNI maupun Kogabwilhan I, Kogabwilhan II, juga Kogabwilhan III.

Hadi juga memastikan bahwa instansinya akan melanjutkan pembangunan postur TNI. Baik yang terkait kekuatan, pembinaan kemampuan, maupun gelar pasukan.(syn/jpg)