batampos.co.id – Potensi ekonomi syariah Indonesia sangat besar. Namun, Indonesia masih lebih banyak menjadi konsumen ketimbang produsen.

Karena itu, Bank Indonesia (BI) berusaha mengubah kondisi tersebut. Bersama Komite Nasional Keuangan Syariah (KNS) dan pemerintah, BI berusaha menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah pada 2024.

’’Memang kelihatannya ambisius. Namun, dengan koordinasi yang baik dengan berbagai instansi lain, semoga ambisi itu terwujud,’’ kata Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo dalam pembukaan Festival Ekonomi Syariah (Fesyar), Rabu (6/11/2019).

Dia mengatakan kecewa karena Indonesia tertinggal oleh Malaysia. Negeri jiran itu lebih dulu eksis sebagai pemasok makanan halal dunia.

Tiongkok bahkan sudah menjadi eksporter busana muslim terbesar. Sementara itu, Australia dan Brasil sudah menjadi pemasok daging halal dengan pangsa pasar yang luas.

Karena itu, wajib hukumnya bagi Indonesia untuk mengejar ketertinggalan tersebut.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, sepakat dengan Dody.

Pemerintah Jatim, menurut dia, mendukung pengembangan ekonomi syariah dengan memasukkan penganggaran program One Pesantren One Product (OPOP) ke RAPBD 2020.

Pengunjung salah satu hotel di Kalimantan Timur memilih menu makanan halal, beberapa waktu lalu. BI berusaha menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah pada 2024. Foto: Anggi Praditha/Kaltim Post/ jpg

OPOP adalah program yang mendorong setiap pesantren memiliki satu produk unggulan agar ekonomi pesantren menjadi kuat. Aktivitasnya bisa berupa produksi maupun distribusi.

’’Kita sudah identifikasi, ada 284 produk,’’ ungkapnya.

Sementara itu, pasar modal syariah di Indonesia terus tumbuh signifikan. Namun, pertumbuhannya belum optimal karena tingkat literasi masya-rakat tentang sektor tersebut masih rendah.

Kemarin Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Jatim Dewi Sriana mengatakan bahwa hingga September lalu, investor saham syariah di tanah air mencapai 61.130. Padahal, tahun lalu hanya 44.536 investor.

’’Penyumbang terbesar berasal dari DKI Jakarta, sebesar 8.933 investor. Disusul Jawa Barat 8.334 investor,’’ ujarnya kemarin (6/11/2019).

Jatim berada di urutan ketiga dengan jumlah investor saham syariah 8.303. Hingga 2018, pertumbuhan investor saham syariah juga lebih tinggi jika dibandingkan dengan keseluruhan investor saham yang ada.

Tahun lalu investor saham syariah meningkat 92 persen jika dibandingkan dengan 2017. Sementara itu, jumlah investor saham secara keseluruhan hanya tumbuh 36 persen.

’’Artinya, tren kinerja syariah ini selalu positif dan potensinya besar untuk digarap,’’ terangnya.

Tetapi, sayang, jika dilihat dari sisi pangsa pasar, market share investor syariah baru mencapai 5,7 persen dari total investor pasar modal yang ada.

’’Tantangannya masih tentang literasi dan inklusi,’’ tegas Ana. Padahal, menurut dia, potensi pasar modal syariah di Indonesia, khususnya Jatim, sangat besar. (rin/car/c4/hep)