Gara-gara dayungnya hilang, Kushila Stein terseret arus dan terombang-ambing di laut selama 37 jam. Perempuan 45 tahun itu berhasil selamat berkat pengetahuannya tentang bertahan di lautan.

SAYA masih punya satu permen tersisa, Bu.” Itu adalah kalimat pertama yang meluncur dari mulut Kushila Stein saat menelepon ibunya, Wendy.

Kurang dari satu jam sebelumnya, dia baru diselamatkan oleh penjaga Pantai Hellenic, Yunani.

Stein sudah terombang-ambing di lautan selama 37 jam. Permen yang dia bawa menyelamatkan nyawanya. Sebab, selama berada di laut, hanya permen itulah yang dia makan untuk bertahan hidup.

Perempuan 45 tahun tersebut menĀ­ceritakan, dirinya tengah memĀ­bantu pria asal Inggris, Mike, untuk mengirim yacht dari Turki ke Athena, Yunani.

Mereka melakukan perjalanan selama tiga pekan dan berlabuh di dekat Pulau Folegandros, Yunani.

Jumat (1/11/2019) Stein memutuskan untuk bersantai. Dia turun dari yacht bernama Rival 34 itu dan naik perahu karet.

Dia mengepak sedikit perlengkapan di ranselnya dan mulai mendayung. Awalnya, semua berjalan lancar. Masalah menghampiri saat dia akan kembali ke yacht. Salah satu dayungnya jatuh.

Angin kencang membuatnya terdorong menuju tengah laut. Perempuan asal Selandia Baru itu pun berusaha untuk tidak panik.

Kushila Stein berhasil ditemukan setelah hanyut selama 37 jam di laut Yunani. Foto: news-imgix.net

Dia menemukan tiga tas kresek belanjaan di tasnya. Tas itu dia pakai untuk membungkus tangan dan kakinya saat malam agar tak kedinginan.

Ketika siang, dia menjemur kaus kakinya agar hangat dan bisa dipakai saat malam ketika suhu udara menurun drastis.

Dilansir BBC, Stein tak membawa makanan berat maupun minuman di ranselnya karena hanya berniat mendayung perahu sebentar.

Namun, dia menemukan permen di dalam tasnya. Dia membagi permen tersebut menjadi beberapa bagian untuk jatah seandainya dirinya tidak ditemukan dalam beberapa hari.

Saat siang, kresek yang dibawanya punya fungsi lain. Dia memakai kresek merah di kepalanya agar mudah dikenali dari atas.

Satu kresek lagi dia ikat di dayung yang masih tersisa. Begitu ada kapal atau perahu lewat, dia melambai-lambaikan dayungnya.

Stein menemukan kaca kecil di dalam tasnya. Dia berkali-kali mengarahkan kaca itu ke arah matahari dengan harapan ada pesawat melintas yang bisa melihatnya.

Nyaris putus asa, Stein mulai bersiap-siap seandainya dirinya ditemukan dalam kondisi tak bernyawa.

Dia menulis nama dan nomor telepon ibunya di sisi perahu. Harapannya, mereka yang menemukannya bisa langsung menghubungi orang tuanya.

Untung, hal itu tak perlu dilakukan karena Stein masih hidup saat ditemukan. Mike adalah orang yang kali pertama menyadari bahwa rekannya hilang.

Stein sempat menghubunginya via pesan pendek sekitar pukul 16.30 waktu setempat, sesaat sebelum dayungnya hilang.

Stein mengabarkan bahwa baterai HP-nya hampir habis dan dia segera kembali ke yacht.
Sabtu (2/11) sekitar pukul 05.00, Mike mencari Stein, tapi tak bisa menemukannya di mana pun.

Perahu karet yang digunakannya juga tak tampak. Mike akhirnya menghubungi polisi setempat sekitar pukul 08.00.

Pencarian besar-besaran dilakukan. Enam kapal, satu drone bawah air, dan sebuah helikopter dilibatkan.

Stein baru ditemukan Minggu (3/11) atau setelah 37 jam hanyut di Laut Aegea antara Crete dan Folegandros, Yunani.

Kondisinya sedikit lemah dan mengalami dehidrasi. Namun, dia baik-baik saja. Wendy, sang ibu, menceritakan putrinya adalah pelaut yang berpengalaman.

Dia kerap melatih orang lain untuk bertahan di lautan. Pengetahuannya itu membantunya untuk selamat. Karena itulah, meski setelah 37 jam Stein belum ditemukan, Wendy masih yakin putrinya bakal baik-baik saja. Keyakinan seorang ibu tak pernah salah.(*/c5/dos/jpg)