batampos.co.id – 70 persen air bersih di Batam digunakan untuk menyuplai kebutuhan penduduk dan industri. BP Batam masih berupaya untuk mencari cara menambah persediaan air baku Batam, karena diperkirakan pada tahun 2045 mendatang, kebutuhan air akan mencapai 7 ribu liter per detik.
”Kebutuhan air dari Batam hingga Relang sampai dengan tahun 2045 sampai tujuh ribu liter per detik atau dua kali kebutuhan air kita saat ini,” kata Kepala Kantor Pengelolaan Air dan Limbah BP Batam, Binsar Tambunan, Sabtu (9/11/2019).
Sumber air baku yang dikelola ATB berasal dari lima waduk milik pemerintah kapasitas terpasang hanya berkisar 3.800 liter/detik. Dari kapasitas tersebut, ATB telah mengelola 3.300 liter/detik untuk memenuhi kebutuhan domestik dan industri.
Cadangan air baku yang ada hanya tinggal 500 liter/detik, sementara pertumbuhan kebutuhan air bersih meningkat antara 150 hingga 200 liter per detik setiap tahunnya.

Adapun wacana yang tengah dipersiapkan BP Batam yakni merencanakan Batam integrated total water management, dimana mengkombinasikan potensi ketersediaan air, pe-ngelolaan air limbah, desalinasi dan daur ulang air.
“Waduk kami tidak cukup, kami harus mengintegrasikan sumber air, mengembangkan konsep-konsep sumber air lainnya.”
Binsar juga menjelaskan, konsep Batam Integrated Total Water Management tersebut merupakan solusi untuk menambah pasokan air bersih di Batam yang diolah melalui teknologi.
“Mulai dari air hujan yang ditampung di tujuh waduk kemudian diolah menjadi air bersih. Air bersih dalam perjalanannya akan menjadi air limbah, ini akan diolah sehingga tidak mencemari lingkungan maupun sumber air kita,” ujarnya.
Ia meyakini melalui solusi total yang ditawarkan akan banyak pihak swasta yang terlibat dalam mengembangkan peningkatan pengelolaan air dan limbah di Batam.
“Investasi di bidang air menarik, seperti diketahui konsesi ATB selama 25 tahun telah menjadi terbaik di Indonesia. Sehingga kita rasa banyak investor yang tertarik tanpa perlu jaminan penuh dari pemerintah,” pungkasnya. (leo)
