batampos.co.id – Keterbatasan air baku di Batam telah menjadi perhatian pokok PT. Adhya Tirta Batam (ATB) sejak lama.

Perusahaan ini juga telah mengambil sejumlah langkah strategis dalam upaya konservasi sumber daya air baku di Batam.

Diantaranya adalah dengan membangun kesadaran publik melalui edukasi. ATB gencar turun ke pelanggan untuk meningkatkan kesadaran terhadap kondisi ketersediaan air baku.

Ruang lingkup edukasi yang dilakukan juga beragam, mulai dari edukasi terhadap pelajar, hingga forum kemasyarakatan.

Selain itu, kegiatan Festival Hijau juga menjadi salah satu upaya nyata yang dilakukan ATB untuk menjaga ketersediaan air di Batam.

Sejak tahun 2011 silam, perusahaan air bersih ini telah menanam lebih dari 11 ribu pohon di Daerah Tangkapan Air (DTA).

Namun upaya menjaga air baku harus dilakukan bersama-sama. Baik oleh elemen pemerintah, swasta, juga barisan masyarakat.

Dengan demikian, akselerasi upaya pemeliharaan sumber air baku akan semakin baik.

Presiden Direktur ATB, Benny Andrianto, menyebut, peran sentral dalam upaya ini hendaknya diambil oleh pemerintah.

Pemerintah Kota Batam dan BP Batam telah sepakat berkolaborasi untuk menjaga DTA dari aktifitas ilegal, dan membersihkan eceng gondok di waduk Duriangkang.

Selain aksi lapangan, menurut Benny, Batam butuh kebijakan strategis yang terhadap upaya konservasi air baku. Dia memperkirakan, setidaknya ada 5 kebijakan strategis yang sebaiknya dijalankan.

Saat ini Waduk Duriangkang menopang kebutuhan 70 persen air bersih Kota Batam. Foto: Dokumentasi ATB untuk batampos.co.id

Pertama, tetap menjaga DTA sebagaimana fungsinya. Artinya, jangan ada alih fungsi lahan yang bisa merusak tata kelola air.

Dua, menjaga setiap buangan air yang masuk ke dalam wilayah Dam. Buangan-buangan itu harus sudah di-treatment.

“Ini penting guna menghindari penurunan kualitas dan proses pendangkalan di Dam,” ujarnya.

Ketiga, membatasi industri yang menggunakan banyak air. Seperti pengolahan limbah plastik, daur ulang kertas, dan lain sebagainya.

Industri-industri seperti itu tidak cocok dengan kondisi keterbatasan air yang ada di Batam.

Keempat, jangan membiarkan air hujan dengan segera melimpah ke laut. Harus ada sistem yang dibangun agar air hujan tidak terbuang sia-sia.

Misalnya membangun embung-embung untuk menampung air. Sehingga air hujan tertampung sebelum sampai ke laut.

Kelima, menghemat air dengan menggunakan metode Reduce, Reuse, dan Recycle, atau yang lebih dikenal dengan 3R.

Ini adalah salah satu cara yang bisa dijalankan agar Batam bisa bertahan seperti negara tetangga, Singapura.

“Singapura juga tak punya sumber air yang cukup, tapi mampu menopang kebutuhan air bagi warganya,” jelasnya.

Menurutnya, Batam harus waspada terhadap kondisi air baku sekarang. Butuh komitmen, konsistensi dan tanggungjawab buat masa depan air di Batam. Karena keberlanjutan akses terhadap air tidak terjadi dengan sendirinya.

“Sangat tergantung dari kesadaran kita untuk menjaga sumber air yang ada dan memanfaatkannya secara bijak,” imbuhnya.(*)