Move On, kalimat ini sangat tepat ditujukan kepada warga Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. Alasannya, mereka tidak keberatan untuk menggunakan gas LPG 12 kilogram atau gas non subsidi, meski harus menebusnya dengan harga jauh lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya di Provinsi Kepri. 

Messa Haris – Batam

Air itu mendidih dalam waktu kurang dari tiga menit. Uap panas langsung keluar ketika tutup panci dibuka. Aroma kopi seketika menyeruak saat air tersebut dituangkan ke dalam gelas yang berisi bubuk kopi.

Inilah kebiasaan pagi hari Cherman. Memasak air untuk menyeduh minuman kesukaannya. Sebelumnya ia sangat jarang melakukan aktivitasnya itu. Bukannya malas.

Tapi disebabkan sukarnya mendapatkan minyak tanah. Ya dahulunya, warga Serasan itu selalu mengandalkan minyak tanah untuk aktivitas masak-memasak keluarganya.

Minyak tanah seakan menjadi ‘emas’ yang harus selalu ada di dapur mereka. Sehingga ketika habis, ia kelabakan untuk mendapatkan bahan bakar tersebut meski hanya satu liter.

“Sekarang kami pakai gas 12 kilogram, lebih nyaman,” katanya, Senin (11/11/2019).

Ia menceritakan pertama kali menggunakan gas LPG 12 kilogram pada 2016 lalu. Saat pertama kali menggunakan gas LPG 12 kilogram, ada kekhawatiran yang terus datang.

Yaitu gas menguap dan dapat menyebabkan kebakaran. Rasa was-was itu terus menghantuinya hampir satu bulan lamanya.

Selepas itu, cengkraman tersebut seakan lepas dengan sendirinya, Ia dan keluarga kini merasa nyaman menggunakan gas LPG 12 kilogram.

Ilustrasi. Masyarakat Kabupaten Natuna saat ini telah beralih dari menggunakan minyak tanah ke gas LPG 12 kilogram. Foto: Jawa Pos

Selain bisa digunakan dalam jangka waktu lama, gas LPG 12 kilogram mudah di dapat.

“Gas 12 kilogram ini bisa bertahan tiga sampai empat bulan dan itu sangat meringankan dibandingkan menggunakan minyak tanah,” katanya.

Meski dirinya menetap di pulau terdepan Indonesia, gas LPG 12 kilogram tidak sulit didapat. Karena katanya, Pertamina kerap mengirimnya dua minggu sekali.

Cherman menceritakan, keterpaksaanlah yang membuat keluarganya beralih dari minyak tanah ke gas 12 kilogram.

“Alasannya itu tadi, minyak tanah susah didapat dan per KK seminggu dibatasi hanya bisa menggunakan 2,5 liter minyak tanah. Jadi mau tidak mau pakai ini (gas 12 kilogram),” paparnya.

“Tapi sekarang nyaman dan sudah terbiasa pakai gas 12 kilogram. Kalau istilah orang sekarang saya sudah move on dari minyak tanah ke gas,” katanya lagi sembari tertawa kecil.

Enggan Beralih ke LPG 3 Kilogram

Cherman mengatakan Pemkab Natuna sudah mewacanakan untuk melakukan konversi minyak tanah ke gas LPG 3 kilogram.

Hal itu dilakukan untuk memudahkan aktivitas masak-memasak masyarakat Natuna. Serta untuk pedagang kecil.

“Saya penasaran juga dengan gas 3 kilogram, katanya harga lebih murah karena disubsidi pemerintah,” ujarnya.

Meski begitu, ia mengaku tidak begitu tertarik untuk menggunakan gas LPG 3 kilogram untuk keseharian keluarganya. Dengan alasan sudah sangat nyaman dengan menggunakan gas LPG 12 kilogram.

“Kalau ditanya pasti lebih enak 12 kilogram, soalnya tahan lama dan tak repot belinya,” ucapnya.

Kepala Bagian Minyak dan Gas Kabupaten Natuna, Faisal Firman, mengatakan, gas LPG 12 kilogram disuplai Pertamina melalui agen Duta Energi Natuna.

Setiap bulan lanjutnya gas LPG 12 kilogram dikirim sebanyak dua ribu tabung. Dengan rincian gas LPG 12  kilogram tabung biru seribu tabung dan bright gas 12 kilogram seribu tabung.

“Ada juga bright gas 5,5 kilogram, jumlahnya sama seribu tabung per bulan. Jadi semua gas di sini non subsidi,” paparnya.

Kata dia, warga Natuna harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli gas LPG 12 kilogram dibandingkan daerah lainnya di Provinsi Kepri.

Salah seorang petugas Pertamina menurunkan gas tiga kilogram di salah satu pangkalan di Kota Batam. Foto: Cecep Mulyana/batampos.co.id

“Di sini gas 12 kilogram harga isi ulang Rp 220 ribu,” jelasnya.

Meski begitu katanya, masyarakat Natuna tidak merasa keberatan. Warga Natuna kata dia, sudah terbiasa mengeluarkan rupiah lebih besar untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari karena wilayah mereka  yang berada di perbatasan.

“Masyarakat tidak mempermasalahkan harganya yang penting barangnya ada,” jelasnya.

Sales Branch Manager Pertamina Kepri, William, mengatakan, setiap bulan jumlah gas LPG 12 kilogram yang disuplai pihaknya ke Natuna sekitar 1.200 hingga 1.400 tabung per bulan.

“Kendala yang kita hadapi untuk mengirimkan gas ke Natuna hanya cuaca dan kapal angkut belum safety,” jelasnya.

Ia juga mengakui harga jual gas LPG 12 kilogram di Natuna jauh lebih mahal dibandingkan wilayah lainnya di Provinsi Kepri.

Alasannya karena biaya operasional yang cukup besar untuk mengirimkan gas LPG 12 kilogram ke wilayah perbatasan tersebut.

Berharap Konversi Minyak Tanah ke Gas

Kepala Bagian Minyak dan Gas Kabupaten Natuna, Faisal Firman, menyampaikan pihaknya sangat berharap pemerintah melakukan konversi minyak tanah ke gas.

Pasalnya kebutuhan gas di Natuna cukup besar. Serta sulitnya masyarakat mendapatkan minyak tanah.

Bahkan lanjutnya keinginan tersebut sudah disampaikan Pemkab Natuna ke DIrektorat Jenderal Minyak dan Gas (Dirjen Migas).

“Dirjen Migas masih melakukan kajian mengenai itu (konversi minyak tanah ke gas),” paparnya.

Namun, kendala utama dari konversi minyak tanah ke gas kata dia adalah tidak ada infrastruktur pendukung yaitu Stasiun Pengisian Bahanbakar Elpiji (SPBE).(*)