batampos.co.id – Kelangkaan gas elpiji 3 kilogram semakin meluas. Tak hanya di kawasan Sagulung dan Batuaji saja. Di sejumlah kecamatan lainnya seperti di Nongsa, Batamkota, Bengkong, Lubukbaja dan Batuampar, terjadi hal yang sama.

Sales Branch Manager Pertamina Kepri, William, mengatakan, pihaknya telah menurunkan semua personelnya untuk melakukan pemantauan dan pengawasan langsung di lapangan.

“Tiap malam, kami dari Pertamina Kepri saat ini wajib mengupdate dan mengecek satu persatu stok baik di agen maupun pangkalan elpiji 3 kg,” katanya ujarnya, Selasa (12/11) siang.

Kata dia, hasil laporan dari setiap data penjualan perhari (look book) oleh setiap pangkalan ke agen dan dilanjutkan ke Pertamina.

“Itu kami jadikan acuan dan penilaian apakah benar terjadi kelangkaan atau tidak,” paparnya.

Pertamina sendiri, lanjutnya, tidak ada kontrak dengan pangkalan. Pihaknya hanya melakukan kontrak dengan agen dan agen kepada pangkalan.

Pihaknya juga tidak dapat memberikan sanksi kepada pangkalan. Namun pihaknya akan berkoordinasi dengan agen akan memberikan sanksi kepada pangkalan.

“Kalau masalah sanksi pangkalan, itu sebenarnya berada di Disperindag Batam. Karena perijinannya itu yang mengeluarkan adalah Disperindag Batam,” terangnya.

Tim dari Pertamina Cabang Kepri saat melakukan sidak pangkalan dan mendapati pembeli gas melon dalam jumlah banyak di wilayah Sagulung dan Batuaji, Jumat (8/11/2019) lalu. Foto: Galih Adi Saputro/batampos.co.id

Tak hanya dalam penjatuhan sanksi saja, Disperindag juga memiliki tanggungjawab dan ikut mengawasi distribusi gas elpiji 3 kg selain Pertamina.

“Kelangkaan ini saya yakin tak akan berlangsung lama. Sebentar saja akan kembali normal dan teratasi,” tegasnya.

Analisa Pertamina Kepri, berdasarkan laporan di lapangan serta dari laporan setiap agen dan pangkalan melalui buku harian penjualannya, kelangkaan elpiji 3 kg di Batam ini disebabkan adanya panic buying dari masyarakat rumah tangga.

“Masyarakat ketakutan tak mendapatkan gas elpiji 3 kg, makanya terjadi kepanikan atau ketakutan sendiri. Ujung-ujungnya mereka membeli lebih dari satu tabung,” jelasnya.

“Bahkan dalam satu rumah banyak juga yang memiliki empat hingga lima tabung elpiji 3 kg. Ini yang harus diurai,” kata dia lagi.

Harusnya kata dia, pasokan di pangkalan cukup untuk menyuplai kebutuhan misalnya 100 rumah tangga.

Tapi kelangkaan terjadi karena ada satu rumah tangga yang memborong empat tabung untuk stok dirumahnya.

“Jadinya ada sebagian masyarakat yang tak mendapatkan jatah elpiji 3 kg,” terangnya.

Saat ini pihaknya, wait and see saja. Karena di tingkat pengecerpun, kalaupun ada stok jumlah pasti terbatas.

Intinya dari Pertamina menyimpulkan, kelangkaan yang sifatnya sementara ini terkait elpiji 3 kg, pemicu utamanya adalah adanya panick buying dari masyarakat sendiri.

“Kami mengimbau kepada masyarakat di Batam, jangan terlalu panik dan jangan termakan kabar yang menyesatkan yang mengatakan akan adanya kelangkaan elpiji 3 kg di Batam,” jelasnya.

Ia memastikan, tak akan ada pengurangan kuota distribusi elpiji 3 kg. Pennyaluran lanjutnya sesuai kuota dan jatah yang biasa.

“Belilah elpiji 3 kg sesuai kebutuhan, jangan ikut-ikutan panik hingga ikut melakukan penimbunan di setiap rumah tangga,” ujarnya mengakhiri.(gas)