Minggu, 12 April 2026

Pengusaha Muda Harus Paham Hukum Bisnis

Berita Terkait

batampos.co.id – Institut Teknologi Batam (Iteba) membuka Sekolah Bisnis, Manajemen, dan Hukum. Fokus utama dari sekolah tinggi ini yakni untuk membekali calon-calon wirausaha muda dengan ilmu hukum bisnis.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Vitka dan pendiri Iteba, Asman Abnur, mengatakan, latar belakang pendirian sekolah tinggi ini berdasarkan pengalaman pribadinya.

”Pertama, ini karena pengalaman pribadi saya. Biasanya sebelum berhasil bisnis, tak mikir apa-apa,” kata Asman di Kampus Iteba, Senin (11/11/2019).

“Tapi setelah berhasil baru mikir mengapa hak saya sedikt, tapi yang lain lebih banyak,” ujarnya lagi.

Pengalaman seperti itu selalu berujung pada percekcokan antara kolega bisnis.

”Itu karena dari awal tidak diatur regulasi bisnisnya,” terangnya.

Pria yang pernah menjabat sebagai Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB) pemerintahan Jokowi-JK ini mengungkapkan, bisnis itu harus sejalan dengan hukum bisnis.

”Jadi sebesar apapun usahanya nanti, tidak akan timbulkan masalah. Nah itulah yang melatarbelakangi,” paparnya.

Dari kiri; Ketua Dewan Pembina Yayasan Vitka Asman Abnur, Dekan SBM ITB Prof.Dr. Sudarso Kaderi Wiryono, Rektor ITEBA Dr. Ing. Moch. Sukrisno Mardiyanto menyaksikan Ketua Yayasan Vitka, Alvidyan Virgarazman, menandatangani MoU di kampus Iteba, Senin (11/11/2019). Foto: Dalil Harahap/batampos.co.id

Sekolah tinggi yang membahas hukum bisnis ini baru perta­ma kali ada di Batam dan mungkin jarang ada di Indonesia.

Keberadaannya sangat diperlukan agar dunia wirausaha di Indonesia semakin cerdas dalam memahami regulasi bisnis yang berlaku saat ini.

”Makanya saya padukan entrepreneur, bisnis digital dan hukum bisnis. Biar bisa mengerti semua sekalian,” jelasnya.

“Sekolah ini konsentrasi di hukum bisnis saja, tak masuk hukum pidana, perdata dan lainnya,” katanya lagi.

Berdasarkan pengalamannya selama berbisnis, ia menilai penting untuk memahami hukum bisnis.

”Karena biasanya setelah timbul permasalahan, semangat berbisnis bisa turun. Kemudian, timbul keretakan diantara pemilik saham, akhirnya bisnis menjadi berantarakan. Ini tak boleh terjadi seharusnya. Semakin besar harus semakin kompak,” paparnya.

Dalam perjalanannya nanti, ia sudah memberikan gambaran bahwa sekolah tinggi ini akan ikut merancang hukum bisnis yang sesuai dengan perubahan zaman.

”Kemajuan teknologi tidak bisa diantisipasi. Begitu cepat diluar jangkauan kita. Tapi kalau dasar hukum sudah dibuat, sekuat apapun perubahan tak takut kita. Itu filosofinya,” jelasnya.

Nanti, hukum-hukum bisnis yang ada akan menyesuaikan dengan perubahan zaman.

”Masa akan terus berjalan, akan ada penyesuaian. Kita tahu teknisnya, detailnya akan terus berjalan,” katanya lagi.

Ia sudah menyarankan kepada rektorat agar bisa mengatur regulasi mengenai bisnis digital dan ekonomi kreatif.(leo)

Update