batampos.co.id – Direktur Komersil Bisnis Development bright PLN Batam, Buyung Abdul Jalal, mengatakan jika saat ini listrik sudah menjadi kebutuhan primer masyarakat. Salah satu energi yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari.

”Pelaku usaha, pendidikan, pelayanan, kesehatan, hingga hiburan tak bisa lepas dari energi ini. Bahkan ponsel yang begitu dekat dengan kita saja dicas menggunakan listrik,” kata Buyung dalam acara Goes to Campus yang digelar di Universitas Kepulauan Riau (Unrika), Batuaji, Rabu (13/11/2019).

Meskipun demikian, tarif listrik di Batam jauh lebih murah dibandingkan satu batang rokok, satu bungkus mi instan, atau parkir kendaraan roda dua.

Sebab, satu kwh listrik saat ini berada pada angka Rp 950. Padahal dalam satu kwh tersebut dapat digunakan untuk melistriki peralatan elektronik yang memiliki daya hingga 1.000 watt.

Satu kwh listrik, lanjutnya, dapat menyalakan empat lampu LED 9 watt selama 27 jam, menonton TV LED 32 inch 100 watt selama 10 jam, menggunakan setrika listrik 250 watt selama empat jam.

Menghangatkan nasi dengan rice cooker 100 watt selama 10 jam. Bisa juga mencas ponsel dengan daya 4 watt dapat digunakan untuk 75 hari. Dengan estimasi waktu cas dua jam per hari.

“Jadi, satu kwh bisa kita pakai untuk melistriki 1.000 watt,” paparnya.

Bila masyarakat ingin lebih menekan biaya pengeluaran, Buyung meminta mahasiswa yang hadir dalam kesempatan itu untuk berhemat.

”Matikan energi yang tidak dipergunakan, lampu, tv maupun cas handphone jika tak digunakan bisa langsung dimatikan,” katanya.

Melalui kegiatan itu, Buyung juga menyampaikan sistem ketenagalistrikan anak perusahaan PT PLN Persero ini sudah dinikmati seluruh warga Batam yang berada di wilayah kerja bright PLN Batam.

Bahkan, keandalan listrik Batam sudah dirasakan warga yang berada di Tanjungpinang, Bintan, dan Belakangpadang.

”Rasio elektrifikasi di Kota Batam sudah 100 persen,” bebernya.

Manajemen bright PLN Batam foto bersama Pembantu Rektor, Dosen, dan Mahasiswa Unrika usai pelaksanaan acara Goes to Campus di kampus Unrika, Batuaji, Rabu (13/11/2019). Foto: Dede Hadi/batampos.co.id

Ke depan, bright PLN Batam diminta induknya di Persero untuk membantu melistriki wilayah Karimun.

Kepercayaan tersebut diberikan Persero karena bright PLN Batam berhasil membantu sistem kelistrikan dan meningkatkan rasio elektrifikasi di berbagai wilayah di Kepri maupun di luar Kepri.

Perwakilan Dinas Pertambangan, Energi dan Sumberdaya Mineral (Distamben) Kepri, Eben Ezer Marpaung, berterima kasih atas acara sosialisasi ketenagalistrikan yang dikemas melalui bright PLN Batam Goes to Campus.

”Sosialisasi ini merupakan bentuk tangung jawab pelaku ketenagalistrikan,” katanya.

Selain PLN Batam, lanjutnya, di Kepri ada sekitar delapan perusahaan yang memiliki izin usaha pembangkit tenaga listrik (IUPTL).

”Empat di antaranya ada di Batam, seperti bright PLN Batam, Tunas, Batamindo, dan Panbil,” sebutnya.

Dari empat perusahaan yang mengantongi IUPTL di wilayah Batam tersebut, bright PLN Batam paling banyak melistriki masyarakat umum.

Sedangkan yang lainnya, fokus melistriki wilayah kawasan industri. Di hadapan mahasiswa, Eben Ezer Marapaung juga menyampaikan bahwa sampai saat ini masih banyak wilayah di Kepri yang belum menikmati listrik.

”Dari 330 pulau yang ada di Kepri, baru 158 pulau yang sudah menikmati listrik. Sisanya 172 pulau belum menikmati listrik,” bebernya.

Sementara desa yang ada di Kepri, mayoritas sudah menikmati listrik walaupun durasi nyalanya masih ada yang 12 jam.

”Dari 416 desa, 372 desa sudah menikmati listrik dan 42 desa lainnya belum menikmati listrik,” jelasnya.

“Umumnya berada di wilayah kerja PLN Persero, seperti Karimun, Lingga, dan Anambas,” katanya lagi.

Dalam hal ini, Pemprov Kepri menargetkan di Juni 2020 nanti seluruh desa di Kepri dapat menikmati listrik. ”Ini target pemerintah,” katanya.

Purek III Unrika Warno Edi berterimkasih kampusnya dipilih sebagai tuan rumah acara tersebut.

”Harapan kami kegiatan ini dapat memberikan manfaat dan informasi kepada mahasiswa,” katanya.

Karena menurutnya, listrik saat ini sudah menjadi kebutuhan pokok seuluruh lapisan masyarakat, tidak terkecuali di wilayah civitas akademika Unrika.

”Setiap hari kita berhubungan dengan listrik, kalau tak ada listrik kegiatan belajar tidak aktif. Keberadan listrik benar-benar membantu belajar, seperti di laboratorium,” ungkapnya.

Ia juga meminta mahasiswa bisa mengambil ilmu dan pelajaran dari kegiatan tersebut. Bisa merubah pola fikir dan lebih bijak dalan menggunakan listrik.

”Jangan cuman bisa komplain dan mengeluh saja,” katanya.

Terakhir dalam kegiatan itu ia berharap kerja sama Urika dan bright PLN Batam yang selama ini sudah berlangsung bisa terus ditingkatkan.(hgt)