BANYAK yang bertanya, mengapa saya tak pernah menulis di catatan tiap hari Jumat ini tentang ikhtiar politik saya mengikuti pilkada di Batam maupun Natuna. Saya katakan, saya mencoba proporsional dan profesional. Jangankan membuat catatan, mengarahkan awak redaksi pun tak pernah saya lakukan, kecuali sifatnya terkait moment liputan.

Begitupun Jumat pekan ini, saya akan menulis tentang yang lain saja. Tentang kelu­han-ke­luhan pelaku ekonomi di Kepri, khususnya di Batam yang masih bertanya-tanya tentang Ekonomi Outlook Kepri dan Batam tahun 2020.

Kalau skala nasional, sudah banyak diulas di media nasional. Perkiraan pertumbuhan (growth) ekonomi nasional akan sampai 5,2 persen. Bank Dunia dan asumsi APBN menyebutnya begitu. Bagaimana dengan lokal?

Tadi di rapat grup bulanan bersama CEO Riau Pos Group, Suhendro Boroma. Dari pemaparannya dan hal-hal yang berkembang di rapat, saya mencoba menarik beberapa kesimpulan atau asumsi awal. Sektor properti, travel, peme­rintahan, elektronik, building, pameran/expo, otomotif, dan asuransi, kami perkirakan masih akan sedikit bermasalah di tahun 2020. Setidaknya, kami mencatat sektor-sektor tersebut belum akan mengulangi sukses pemasukan omzet iklan seperti lima tahun sebelumnya.

Karena apa? Sebab sektor-sektor itu saling terkait. Jika properti membaik, dia akan berdampak pada belanja lain, misalnya elektronik. Setiap rumah atau hunian baru, akan melahirkan kebutuhan elektronik. Begitu juga sektor lainnya, seperti pameran atau expo, tentu para developer akan menaikkan budget iklan dan pameran untuk meraih pembeli.

Begitu juga otomotif. Mes-kipun untuk roda dua terjadi penurunan selama empat tahun terakhir, sejumlah diler menyebutkan angka penurunan penjualan hingga 20 persen/tahun, namun itu juga berkaitan dengan menurunnya demand. Hukum ekonomi yang paling kuno pun menyebutkan demikian, jika permintaan (demand) turun, maka supply (persediaan) akan turun, akan tetapi tak berarti price (harga) akan turun pula.

Selama dua tahun, 2016-2017, misalnya, angka pertumbuhan ekonomi Kepri mengalami pertumbuhan terendah, 2,02 persen saja. Kepri masuk tiga terbawah di Indonesia selain NTB dan Riau. Sejumlah pengamat pernah menyebutkan, saat itu, mestinya jika APBD normal berjalan, maka pertumbuhan akan mencapai 2 persen. Artinya, dengan growth 2,02 persen selama dua tahun dimaksud, dapat diduga bahwa sektor swasta “mati suri” di Batam atau Kepri. Benarkah demikian?

Tak ada rilis pasti dari pejabat berwenang secara transparan dan detail. Beberapa pihak hanya menyatakan prihatin, tanpa tahu hendak berbuat apa. Untungnya, meski di Singapura juga terjadi pelemahan sektor ekonomi, namun warga Singapura masih melakukan perjalanan wisata singkat ke Kepri. Pemerintah menangkapnya sebagai peluang. Menurunnya growth di Singapura, tak dapat disamakan dengan Kepri karena size ekonomi kedua kawasan sangat berbeda. Istilah kata, “semiskin-miskinnya Singapura adalah sekaya-kayanya Kepri”.

Kini, kalau kita menatap 2020, apakah perekonomian Kepri dan Batam akan membaik? Ada yang optimistis, misalnya pemerintah, namun tak sedikit yang pesimis. Kala­ngan swasta mengaku masih menunggu kebijakan pemerintah dan stimulus yang akan mereka dapatkan dari pemangku kebijakan. Faktor lain, tahun 2020 ada pilkada. Sikap proporsional dan profesional para pihak sangat diperlukan. Politics yes, economic growth is a must!

Di sisi lain, saya tetap konsisten dengan pendapat saya sejak dulu, bahwa perekonomian Batam ini sebetulnya mudah mau di-set berapa persen pertumbuhannya. Tentu yang make sense. Bahkan di atas pertumbuhan nasional, bukan hal yang terlalu sulit untuk diraih. Karena apa? Sebab penggerak ekonomi Batam selama ini adalah private sector. Tinggal menganalisa, sektor swasta maunya apa? Ya, simplifikasi perizinan, no high cost economy, tak ada pungli, serta kebijakan easy doing business. Tinggal kemauan pemangku kepentingan daerah dan pusat. (*)