batampos.co.id – Sidang kasus penikaman dengan terdak­wa bos money changer Batam, Amat Tantoso, kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Ba­tam de­ngan agenda pem bacaan pledoi, Kamis (14/11/2019).

Kuasa hukum terdakwa, M Nur Warodat, berharap kliennya itu dibebaskan dari segala tuntutan pidana.

Dalam pledoi yang ia bacakan, Nur menjelaskan kepada hakim mengapa Amat Tantoso layak bebas.

Pertama Amat menusuk korbannya, Kelvin, karena ia diserang terlebih dahulu oleh korban.

Amat dilempar mangkuk berisi saus kepiting oleh korban saat mereka bertemu di sebuah restoran seafood di Jodoh.

Kedua, terdakwa merasa ditipu dan dikuras hartanya. Hal ini berdasarkan keterangan saksi Mina yang juga karyawan terdakwa.

Nur me­ngatakan, kliennya merasa si korban dengan sengaja melakukan penipuan dengan modus pinjam uang.

Kelvin meminjam uang ke perusahaan money chager milik terdakwa. Namun, korban hanya mengembalikannya sebesar Rp 7 miliar dalam bentuk cek.

Kuasa hukum Amat Tantoso, , M Nur Warodat meminta kliennya dibebaskan. Ia menilai kliennya merasa tertipu dan diserang lebih dulu oleh korban, Kelvin. Foto: Cecep Mulyana/batampos.co.id

Itupun tidak ditandatangani oleh korban sehingga tidak bisa diuangkan.

“Sebelum peristiwa penganiayaan, telah ada niat dan perbuatan melawan hukum yang lebih dahulu dilakukan korban yang berakibat merugikan terdakwa,” jelasnya.

“Korban telah memperdaya karyawan terdakwa bernama Mina untuk menguras harta perusahaan terdakwa hingga puluhan miliar,” terang M Nur lagi.

Menurut M Nur, bila merujuk fakta persidangan sesuai bukti surat yang dihadirkan terdakwa bertanda T-1 dan T-4, diketahui nilai transaksi yang telah diterima oleh korban dengan bantuan saksi Mina tanpa seizin dan sepengetahuan terdakwa, nilainya lebih dari Rp 30 miliar.

Namun, korban hanya membayar Rp 7 miliar. Masih kata Nur, tidak ada satupun yang dapat membantah seluruh fakta yang terungkap dalam persidangan.

Sehingga tidak selayaknya, kliennya, Amat Tantoso, menyandang status penuh sebagai terdakwa.

Sedangkan dari hasil rangkaian persidangan, menurut Nur, terdakwa justru menilai saksi korban, Kelvin, sebagai subjek yang sama sekali tak menunjukkan penghormatan yang layak terhadap persidangan serta hukum yang belaku di Indonesia.

Karena sepanjang masa sidang, ia tak pernah hadir.

“Karena korban mengaku trauma, justru hal itu terkesan meremehkan integritas aparat penegak hukum dan peradilan Indonesia,” tegasnya.

Atas dasar itulah, M Nur memohon ke majelis hakim agar mempertimbangkan seluruh uraian nota pembelaan yang sudah dibacakannya, dan memutuskan agar majelis hakim menyatakan terdakwa Amat Tantoso secara sah dan meyakinkan tak terbukti bersalah, sebagaimana dakwaan primer, subsider, lebih subsider dan dakwaan lebih subsider lagi JPU.

Selanjutnya, Nur memohon agar majelis hakim membebaskan terdakwa dari dakwaan primer, subsider, lebih subsider, dakwaan lebih subsider lagi JPU.

Berikutnya Nur memohon agar majelis hakim menyatakan terdakwa secara sah dan meyakinkan terbukti bersalah melakukan tindak penganiayaan sebagaimana diatur dalam dakwaan lebih-lebih subsider lagi melanggar pasal 351 ayat 1 KUH Pidana.

Namun, kepadanya tidak dapat diminta pertanggungjawaban secara pidana.

“Terakhir kami memohon agar majelis hakim persidangan melepaskan terdakwa Paulus Amat Tantoso dari tuntutan hukum. Apabila majelis hakim berpendapat lain, mohon putusan yang seringan-ringannya bagi terdakwa,” ujarnya.(gas)