batampos.co.id – Sekolah tidak hanya mendidik para siswa/siswinya dalam hal mendapatkan ilmu pengetahuan dari lembaran buku.

Selain itu proses belajar mengajar juga tidak hanya dilakukan dalam ruangan kelas, namun juga bisa di luar ruangan.

Seperti yang dilakukan oleh SMKN 6 Batam. Sekolah tersebut memanfaatkan pekarangan untuk bercocok tanam hidroponik.

Jumat (15/11/2019) batampos.co.id berkesempatan melihat langsung bagaimana para tenaga pendidik di SMKN 6 bercocok tanam.

Hidroponik yaitu metode bercocok tanam tanpa menggunakan media tanah. Media tanam yang digunakan berupa air yang telah dicampur dengan nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman.

Kepala sekolah SMKN 6 Batam, Deden Suryana, mengatakan, bercocok tanam hidroponik di lingkungan sekolah sangat banyak manfaatnya.

Seperti membuat lingkungan sekolah menjadi lebih nyaman serta dapat menjadi bahan edukasi untuk para siswa/siswinya.

Kegiatan tersebut lanjutnya dilakukan sejak 2017 lalu. Bibit tanaman hidroponik didapatkan pihaknya sekoalh dari Bank Indonesia.

Kepala sekolah SMKN 6 Batam, Deden Suryana (kiri) bersama Betty Deviana dan Dita Anggun Meirani, memperlihatkan jus dari olahan tanaman hidroponik yang ditanam di lingkunagn sekolah mereka. Foto: Dhiyanto/batampos.co.id

Serta meningkatkan jiwa wirausaha anak-anak didik SMKN 6 Batam. Aktivitas tersebut lanjutnya dilakukan di lahan sekolah dengan luas 15×20 meter.

“Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada warga sekolah untuk mencintai lingkungan,” ujarnya

Adapun jenis tanaman hidroponik yang ditanam, yaitu sawi, pak coy, samhong, cabai keriting, dan cabai setan.

“Perawatan tanaman hidroponik ini cukup mudah, kita hanya mengontrol campuran air dan nutrisi,” ungkap Betty Deviana selaku guru kimia SMKN 6 Batam.

Sayur sawi yang ditanam dengan cara hidroponik di SMKN 6 Kota Batam. Foto: Dhiyanto/batampos.co.id

Menariknya, tanaman hidroponik ini disulap menjadi jus yang sangat bermanfaat dan dijual ke masyarakat luas.

“Jus ini diolah dari sayuran, lemon, nanas, susu, dan sedikit gula,” kata dia.

“Banyak sekali manfaat dari jus ini, seperti anti oksidan, menguatkan tulang, menyehatkan mata, dan mencegah kanker,” sambung Dita Anggun Meirani, guru Bahasa Indonesia SMKN 6 Batam.

Dari kegiatan tersebut pihak sekolah menjual jus hasil olahan sayuran di lingkungan sekolah dan di luar sekolah.

Dengan harga Rp 5 ribu untuk warga lingkungan sekolah dan Rp 8 ribu untuk masyarakat sekitar. Dengan ukuran 250 mililiter

“Kalau untuk cup dan botol kita jual Rp 15 ribu,” ujarnya.

Sementara untuk sayuran hidroponik seperi sawi, samhong dan pachoy, pihaknya menjual dengan harga Rp 30 ribu per kilogramnya.

Dita berharap tanaman hidroponik di SMKN 6 Batam dapat masuk ke Usaha Kecil Menengah (UKM) dan dikenal oleh masyarakat, khususnya di Kota Batam.(nto)