batampos.co.id – Memasuki musim penghujan, masyarakat Kota Batam diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap berkembangnya nyamuk aedes aegypti yang merupakan penyebab penyakit demam berdarah (DBD).

Pasalnya, selama November terdapat 17 kasus DBD. Mayoritas penderitanya merupakan anak-anak.

”Curah hujan saat ini semakin tinggi. Hal ini bisa menjadi faktor pendukung berkembangnya nyamuk, apalagi kalau budaya 3M plusnya tidak ada,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Batam, Didi Kusmarjadi, Jumat (15/11/2019).

3M Plus adalah anjuran agar menutup tempat-tempat penampungan air, menguras bak air secara rutin, dan mengubur barang-barang yang sudah tidak terpakai.

Sedangkan plus di sini adalah anjuran menggunakan perlindungan tambahan seperti kelambu atau menggunakan obat antinyamuk.

Untuk itu, orangtua diminta untuk lebih rajin mengecek penampungan air hingga pekarangan rumah.

”Nyamuk itu (aedes aegypti) kan berkembang biak itu di air bersih,” jelasnya.

“Jadi, penampungan air dan botol-botol menjadi tempatnya. Maka dari itu pengecekan lebih rutin agar bisa terhindar dari DBD,” jelasnya.

Didi mengungkapkan, jika di lingkungan rumah ditemukan penderita DBD positif, segera hubungi perangkat RT/RW untuk mendapatkan fasilitas fogging atau penyemprotan dari Dinkes.

”Kadang data dari rumah sakit itu lama masuk ke kami. Sehingga pekarangan penderita DBD lambat ditangani (fogging, red),” paparnya.

Foging merupakan salah satu cara utnuk mematikan jentik-jentik nyamuk aedes aegypti. Kadis Kesehatan Kota Batam meminta masyarakat waspada terhadap DBD saat memasuki musim penghujan. Foto: Dokumentasi batampos.co.id

“Makanya kalau warga merasa ada tetangga yang positif DBD, langsung hubungi perangkat RT/RW biar anggota kami langsung turun,” bebernyanya lagi.

Seperti ditemukannya kasus DBD di Tanjungsengkuang, Batuampar, Jumat (15/11/2019), pihaknya juga langsung turun mengecek untuk memastikan dan melakukan tindakan pencegahan penyebaran.

Termasuk, melakukan pengasapan di sekitar rumah warga yang terindikasi DBD. Didi mengungkap, sepanjang 2016 hingga kini, angka penderita DBD yang ditemukan cenderung menurun.

2016 lalu, jumlah penderita mencapai 966, 2017 turun menjadi 593. Sedangkan di 2018 bertambah menjadi 639.

Meskipun masih turun-naik, angka DBD tidak pernah melewati penderita di 2016 lalu.
Hal ini tidak lepas dari perilaku hidup sehat seperti 3M Plus dan pembentukan kader juru pemantau jentik (Jumantik) yang sudah gencar dilaksanakan di masing-masing wilayah puskesmas.

”Trennya memang menurun. Tapi kalau bisa ditekan lagi tentu lebih baik,” jelasnya.

“Sebab permasalahan DBD ini merupakan tanggung jawab bersama. Tidak saja pemerintah, melainkan juga masyarakat,” tambahnya.

Sementara itu, berdasarkan data Januari hingga November, sudah ada 626 kasus DBD. Didi berharap di akhir tahun ini jumlah penderita semakin menurun.

”Kami menargetkan masih banyak jumantik yang akan dibentuk nantinya. Terutama untuk anak sekolah. Sebab mereka bisa jadi motor di keluarganya,” tutupnya.(yui)