batampos.co.id– Industri di Batam terus bertambah setiap tahunnya. Namun, luas lahan pengelolaan limbah tidak bertambah.

Saat ini, Asosiasi Pegelolaan Limbah (Aspel) Batam hanya memiliki lahan seluas 20 hektare (ha) untuk mengelola limbah yang dihasilkan oleh perusahaan di seluruh Batam.

Luas lahan tersebut dinilai tak lagi sesuai. Ketua Umum Aspel B3 Indonesia, Barani Sihite, mengatakan, untuk pengelolaan limbah membutuhkan setidaknya 60 hektare lahan.

“Kalau 20 hektare tidak cukup. Bayangkan limbah kategori 1 dan 2 seluruh Batam masuk ke kami,” kata Barani di sela-sela pengkuhan Ketua Aspel B3 Indonesia terpilih, Sabtu (16/11/2019).

“Sempat pula limbah itu tertahan di sini (seperti tahun lalu), tak akan tertampung jadinya,” kata dia lagi.

Oleh sebab itu, Ketua Umum Aspel B3 Indonesia yang terpilih kembali ini berharap adanya penambahan jumlah lahan untuk pengelolaan limbah.

Terkait dengan permintaan ini, katanya, sudah beberapa kali dilayangkan ke pemerintah. Namun, masih belum ada respons.

“Semoga saja bisa dikabulkan,” ucapnya.

Hingga kini, tantangan dihadapi jajaran anggota aspel di lapangan cukup banyak.

Barani mengatakan, belum harmonisasinya semua pemangku kepentingan serta masih adanya aturan yang tumpang tindih membuat pengelolaan limbah belum maksimal.

Walaupun begitu, kata Barani, jajaranya berusaha melakukan pengelolaan limbah seoptimal mungkin.

“Atas semua permasalahan ini, kami siap bermitra dan dibina,” jelasnya.

Supaya pengelolaan limbah di Batam lebih baik. Dan kami juga dapat melestarikan lingkungan lebih baik lagi,” ujarnya lagi.

Usai terpilih lagi sebagai ketua umum Aspel B3 Indonesia, Barani mengaku telah menyusun berbagai program.

Rombongan Komisi III DPRD Kota Batam saat melakukan melakukan inspeksi mendadak (Sidak) di sebuah perusahaan pengolah limbah plastik di Batuaji, Batam, beberapa waktu lalu. Foto: Dokumentasi Komisi III DPRD Kota Batam untuk Batam Pos.

Salah satunya meningkatkan teknologi penguraian limbah. Sehingga, limbah yang masuk ke Kawasan Pengelolaan Limbah Industri (KPLI) B3, tak perlu lagi dikirimkan ke luar Batam.

Pemanfaatan limbah ini, lanjut Barani, dapat meminimalisir biaya yang dikeluarkan industri. Karena, limbah tidak perlu lagi dikirim ke luar daerah.

“Ada beberapa jenis limbah bisa dimanfaatkan untuk pembuatan paving blok, sarana jalan (campuran aspal). Tidak perlu dikirim dan memakan biaya besar,” ungkapnya.

Terkait permintaan Ketua Aspel B3 Indonesia yang baru tersebut. Pemerintaha Kota Batam, melalui Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu ((DPM-PTSP) Kota Batam, Firmansyah, mengatakan telah merencanakan penambahan lahan untuk pengelolaan limbah.

“Sesuai rencana, ada tambahan tempat pengelolaan limbah menjadi 40 hektare,” ucapnya.

Rencana penambahan lahan ini, katanya, sudah akan dibahas di DPRD Kota Batam. Apabila disetujui, maka Aspel B3 di Batam memiliki lahan seluas 40 hektare dalam mengelola limbah.

“Dalam rencana dan detail tata ruang sudah diusulkan,” ungkapnya.

Pembina Aspel B3 Indonesia yang juga sebagai anggota Komisi III DPRD Kota Batam, Arlon Veristo, menyambut baik penambahan lahan ini.

Ia mengatakan, limbah yang dihasilkan industri haruslah dikelola dengan baik. Karena, efek dari limbah ini bisa mencemari lingkungan, salah satunya air.

Sinergi Aspel B3 dengan instansi pemerintah, kata Arlon, harus tetap dijaga. Ia berharap dengan kepengurusan Aspel B3 yang baru ini, pengelolaan limbah bisa lebih baik lagi.

“Saya ucapkan selamat ke Pak Barani selaku ketua umum, Pak Gufron selaku ketua harian dan Pak Samsul selaku Sekjen,” ujarnya.(ska)