batampos.co.id – Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dituntut untuk mencetak lulusan siap kerja dan mampu bersaing baik level nasional ataupun internasional. Untuk itu, pertukaran pelajar dan guru dengan sekolah setara dari negara lain, khususnya negara-negara Asean, serta menerapkan sistem belajar empat tahun merupakan terobosan yang kembali diperkuat lagi oleh Direktorat Pembina SMK, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) saat ini.

Kepala SMK Negeri 1 Batam, Lea Lindrawijaya, menuturkan terobosan ini merupakan kelanjutan dari program revitalisasi SMK yang diinstruksikan Presiden Joko Widodo sebelumnya, dimana setiap SMK wajib mempersiapkan siswanya secara matang agar saat tamat sekolah bisa langsung diserap sebagai tenaga kerja profesional yang bisa bersaing hingga level internasional.

Lea menyebutkan, untuk sistem belajar empat tahun, kini ditambah lagi dengan pola baru, yakni tiga plus dua. Artinya, tiga tahun belajar di sekolah dan dua tahun magang industri.

”Yang terdahulu dan sudah berjalan tiga plus satu. Yakni, tiga tahun di sekolah dan satu tahun magang industri,” sebutnya.

Siswa SMKN 1 saat mengikuti uji kompetisi keahlian permesinan di SMKN 1 Batam di Batuaji.
F. Dalil Harahap/Batam Pos

Sekarang, lanjutnya, diperkuat lagi dengan tiga plus dua. ”Ini akan segera diterapkan sesuai workshop pengem­bangan sekolah vokasi dan penguatan program pendidikan empat tahun, beberapa waktu lalu,” ujarnya.

Untuk pola kelas tiga tahun plus dua ini, sebagai pencontohan akan segera diberlakukan di 40 SMK se-Indonesia, termasuk SMKN I Batam. ”Targetnya lulusan SMK mam­pu bersaing, baik dalam ataupun luar negeri. Level pendidikan sama dengan luar negeri khususnya kawasan Asean,” jelasnya.

”Mereka yang mengikuti kelas empat tahun ini nantinya jika melanjutkan ke bangku kuliah, seperti ke Politeknik yang sudah ada kerja samanya, maka setara dengan D1 untuk pola tiga plus satu dan D2 untuk pola tiga plus dua,” terangnya. (eja)