Semuanya berat, tapi bukan tidak mungkin terwujud” (Dahlan Iskan)

Saya pikir semua sepakat. Kita sedang menjalani tahun-tahun berat. Sejak gejolak ekonomi terjadi tahun 2017, tidak semua bisa move on. Ada yang terpuruk, namun ada juga yang survive.

Hampir semua sektor bisnis mengalami nasib yang sama. Kalaupun mengalami peningkatan di tahun 2018, itu bagian dari recovery. Begitu juga tahun 2019 ini. Proses perbaikan sedang berlangsung.

Namun bukan berarti kondisi itu adalah akhir dari segalanya. Optimisme itu masih ada.

Setidaknya, itulah aspirasi yang saya terima dalam setiap road show yang dilakukan Batam Pos beberapa hari belakangan.

Saya termasuk orang yang optimistis, bahwa situasi akan membaik. Tinggal bagaimana upaya memperbaikinya. Dari segi mana. Lewat cara apa dan seperti apa.

Tak jarang, dibutuhkan kenekatan dalam membuat pembaharuan. Kita ambil contoh penunjukkan Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), atau penunjukkan pensiunan tentara, Fachrul Razi sebagai Menteri Agama, atau mengajak rival masuk dalam kabinet.

Menurut saya apa yang dilakukan Presiden Joko Widodo (Jokowi) adalah sesuatu yang nekat. Orang yang tidak memiliki latar belakang ilmu pendidikan dan tokoh agama, menempati pos-pos yang bukan bidangnya. Nadiem pendiri Gojek, sementara Fachrul pensiunan TNI. Sedangkan Prabowo Subianto yang menjabat sebagai Menteri Pertahanan (Menhan) mantan rival.

Terlepas dari kenekatan itu, Jokowi mampu berpikir out of the box. Tidak semua bisa berpikiran seperti itu. Biasanya, kalau sudah menjalankan suatu kebiasaan, dia akan sulit meninggalkan kebiasaan itu. Bahkan rela mempertahankan mati-matian di tengah keterpurukan.

Pola pikir memang harus diubah. Tidak ada salahnya mempertahankan kebiasaan. Namun harus dibarengi dengan pemikiran baru. Dulu mindset perusahaan di bidang penjualan adalah tentang menjual dan menjual.

Pola itu sudah bergeser. Menjual tetap menjadi bisnis utama, sementara cara lain jadi selingan. Misalnya, pola diskon, hadiah, hingga event. Semua dilakukan.

Apa kaitannya dengan optimisme perbaikan ekonomi? Ada. Meningkatkan ekonomi butuh pemikiran yang simpel. Out of the box. Tidak boleh terkekang pada birokrasi yang ruwet. Semua harus serba praktis, cepat, dan mudah.

Pun demikian dengan regulasi. Jika ingin suatu daerah maju, harus mengubahnya dengan cepat. Jangan sampai regulasi malah membebani investor. Itu tidak baik. Sekarang harus dibuat simpel. Tidak bikin garuk-garuk kepala.

Regulasi yang ada sekarang, menurut rekan-rekan saya, sangat ribet. Harus urus ini dan itu. Ke sana-sini. Pokoknya menyita waktu yang panjang. Sama sekali tidak praktis. Siapapun yang mau menanamkan modalnya, pasti “ngeper” duluan.

Semoga, pemerintah dapat berpikir nekat. Out of the box. Membuat regulasi yang simpel dan praktis. Sehingga impian perbaikan kondisi bisa terealisasi. Meski berat, tapi yakinlah itu semua bisa diwujudkan. (*)