batampos.co.id – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam bersama Pertamina dan agen gas elpiji mengelar operasi pasar gas elpiji tiga kilogram di halaman kantor camat Sagulung, Selasa (19/11/2019) pagi.

Operasi itu untuk menanggapi isu kelangkaan pasokan gas melon ini ternyata sepi peminat.

Sejak dibuka pukul 09.00 WIB hanya sekitar 100 tabung yang terjual. Padahal tim operasi pasar menyediakan 560 tabung.

“Satu dua orang saja yang datang sejak pagi tadi. Belum sampai 100 tabung yang turun (terjual),” ujar Kabid Perindustrian dan SDM Disperindag Batam Januar Arif Kurniawan.

“Katanya langka tapi sedikit yang datang. Ada 560 tabung yang kami bawa seharusnya sudah habis kalau memang benar-benar susah nyari gas,” ujarnya lagi.

Berdasarkan situasi dan kondisi tersebut, tim gabungan menyimpulkan bahwa isu kelangkaan pasokan gas elpiji yang digaungkan selama ini tidak selamanya benar.

“Isu kelangkaan selama ini mungkin kepanikan saja saat datangi pangkalan kebetulan pula habis stok di pangkalan tersebut,” kata dia.

Seorang warga membeli gas LPG 3 kilogram pada kegatan operasi pasar yang diadakan Pertamina dan Disperindag di Sagulung. Berbeda dengan di Pasar TPID operasi pasar gas LPG 3 kilogram di Sagulung justru sepi peminat. Foto: Eja/batampos.co.id

“Yang lain jadi ikut-ikutan sehingga terjadi panic buying. Satu rumah yang seharusnya beli satu tabung jadi nyetok dua sampai tiga tabung,” tutur Januar lagi.

Jikapun benar adanya kelangkaan kata Januar, persoalan bisa saja terjadi di pangkalan. Pangkalan bisa saja bermain dengan pedagang eceran demi keuntungan yang lebih.

“Kalau bermasalah bisa saja pangkalan ke bawah. Ini akan kami cros cek,” tuturnya.

“Kalau benar bermain dan jual diatas HET akan kami tindak tegas. Mau pangkalan resmi ataupun kios eceran akan dipidana karena ada UU Migas,” tegas Januar.

Senada disampaikan perwakilan agen dari PT Dian Kerosene Pratama Batam, Istiqomah. Pasokan gas ke pangkalan-pangkalnya masih stabil.

Jika memang dirasa kurang oleh masyarakat sekitar bisa saja persoalan ada di pangkalan.

“Stok tidak ada masalah selama ini. Kelangkaan terjadi bisa jadi juga karena meningkatnya pelaku UKM,” katanya.

“Satu KK yang biasanya pakai satu gas, karena harus jualan gorengan, buat kue dan lain sebagainya bisa pakai dua sampai tiga tabung,” ujarnya lagi.

Hal itu lanjutnya juga menjadi persoalan. Sebab stok yang ada di agen disalurkan sesuai dengan data warga saat pangkalan mengajukan izin.(eja)